Wisuda Unigo Angkatan ke-28 Diawali Prosesi Adat Gorontalo

26
ADV
10

KAMPUS (RGNEWS.COM) – Nuansa adat Gorontalo terasa kental semenjak di luar hingga masuk Gedung Rustam Akili Convention Center (RACC), Sabtu (8/8/2026).

Rapat Senat Terbuka dalam rangka Wisuda Program Magister dan Sarjana Universitas Gorontalo (Unigo) angkatan ke-28 kali ini tidak sekadar menjadi seremoni akademik.

Ketua senat, rektor, jajaran anggota senat, dan tamu kehormatan tidak langsung memasuki ruang wisuda. Mereka lebih dulu disambut barisan adat.

Tabuhan genderang mengiringi langkah rombongan, disusul pembacaan syair tujai yang dalam tradisi Gorontalo menjadi bagian dari ungkapan penghormatan dan penyambutan.

Prosesi kemudian dilanjutkan dengan penyambutan minum adat empat unsur alam atau Mopodungga Lo Uyilomu.

Rangkaian tersebut ditutup dengan doa restu dari pemangku adat U Duluwo Limo Lo Pohalaa.

Pemandangan itu menjadi pembeda dalam pelaksanaan wisuda Unigo tahun ini. Jika sebelumnya prosesi lebih menonjolkan tata cara akademik, kali ini tradisi lokal ditempatkan sebagai bagian pembuka sebelum memasuki inti acara wisuda.

Tamu kehormatan, Tauwa Lo Madala Syarif Mbuinga, bersama Ketua Dewan Pengurus YPDLP Gorontalo Dr. Moh. Rolli Paramata, S.E., M.M., serta unsur lainnya turut mengikuti rangkaian tersebut. Ketua Dewan Adat Gorontalo Alim Niode, Saradaa, dan perangkat adat lainnya juga hadir dan menempati Bulita di bagian depan gedung.

Dalam tata adat Gorontalo, Bulita merujuk pada ruang atau panggung adat yang diperuntukkan bagi pemimpin dan tokoh penting.

Istilah tersebut juga dikenal sebagai sebutan lokal untuk serangga belalang. Dalam konteks prosesi kali ini, Bulita menjadi ruang simbolik tempat para pemangku kepentingan adat dan tokoh penting ditempatkan.

Penggunaan unsur adat dalam wisuda tersebut sekaligus menjadi penanda upaya Unigo menghubungkan pencapaian akademik dengan identitas kebudayaan daerah.

Konsep itu sejalan dengan visi Unigo, yakni “Menjadi universitas unggul, berwawasan global, dan berkarakter Mo’odelo.”

Dalam kebudayaan Gorontalo, Mo’odelo mengandung nilai keteladanan. Ia tidak hanya berkaitan dengan kecakapan seseorang, tetapi juga sikap, perilaku, dan tanggung jawab terhadap lingkungan sosial.

Nilai tersebut kemudian ditempatkan dalam konteks para lulusan yang akan kembali ke tengah masyarakat.

Gelar akademik bukan hanya penanda selesainya pendidikan, tetapi juga diharapkan menjadi bekal untuk menjalankan tanggung jawab sosial.

Pada wisuda angkatan ke-28 ini, Unigo meluluskan 661 mahasiswa dari program magister dan sarjana.

Sebanyak 133 lulusan berasal dari Program Pascasarjana. Fakultas Kesehatan Masyarakat meluluskan 157 mahasiswa, Fakultas Ekonomi dan Bisnis 132 mahasiswa, Fakultas Hukum 108 mahasiswa, Fakultas Teknik 51 mahasiswa, Fakultas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan 46 mahasiswa, serta Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik 34 mahasiswa.

Rangkaian adat yang mengawali wisuda menjadi semacam jembatan antara kampus dan akar kebudayaan tempat universitas itu tumbuh.

Di tengah pakaian toga dan prosesi akademik, identitas Gorontalo dihadirkan melalui genderang, tujai, minuman adat, serta doa para pemangku adat.

Wisuda pun tidak hanya menjadi perayaan kelulusan. Ia menjadi ruang untuk mengingatkan bahwa pengetahuan yang diperoleh di kampus pada akhirnya akan kembali kepada masyarakat—dengan membawa nilai, tanggung jawab, dan keteladanan. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *