Yessy Lamami, Yatim Piatu yang Dapat Beasiswa 100 Persen ke Program Magister

96
ADV
10

KAMPUS (RGNEWS.COM) – Hari wisuda biasanya menjadi penanda berakhirnya satu perjalanan.

Bagi Yessy Lamami, Sabtu 8 Agustus 2026, justru menjadi awal dari perjalanan berikutnya.

Perempuan kelahiran Gorontalo, 17 Juni 2003, itu baru saja menyelesaikan pendidikan sarjana di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Gorontalo.

Di tengah prosesi wisuda angkatan ke-28 di Gedung Rustam Akili Convention Center (RACC), Yessy tiba-tiba dipanggil maju ke depan.

Ketua Dewan Pengurus Yayasan Pendidikan Duluwo Limo Lo Pohala’a (YPDLP) Gorontalo, Dr. Moh. Rolli Paramata, S.E., M.M., yang memanggilnya.

Yessy semula tidak mengetahui alasan dirinya diminta maju. Namun, di hadapan para wisudawan, keluarga, sivitas akademika, dan tamu undangan, Rolli menyampaikan sebuah kabar yang mengubah rencana pendidikan Yessy.

Ia memberikan beasiswa 100 persen kepada Yessy untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang Magister Kesehatan Masyarakat (MKM) di Universitas Gorontalo.

Tepuk tangan pun pecah di dalam gedung.

Bagi Yessy, beasiswa itu datang ketika perjalanan pendidikannya tidak mudah.

Ia merupakan anak ketiga dari empat bersaudara dan kini harus menjalani hidup tanpa kedua orang tuanya.

Ayahnya, Djoni Lamami, meninggal pada 2022. Sedangkan ibunya, Maryam Rauf, meninggal pada tahun ini, bertepatan dengan bulan Ramadan.

Sejak saat itu, Yessy melanjutkan pendidikan dengan dukungan kakak-kakaknya.

“Papa saya meninggal pada 2022 lalu dan Mama saya meninggal tahun ini pada saat bulan Ramadan. Sehingga akhir studi saya dibantu kakak-kakak saya,” kata Yessy kepada RGNEWS.COM.

Kondisi tersebut rupanya menjadi perhatian pihak yayasan. Rolli sebelumnya menelusuri kondisi sejumlah wisudawan Unigo, terutama mahasiswa yang berasal dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi.

Nama Yessy kemudian menjadi salah satu yang mendapat perhatian.

Beasiswa itu diberikan agar Yessy dapat melanjutkan pendidikan tanpa terbebani biaya kuliah.

Rolli bahkan meminta jajaran kampus memastikan tidak ada pungutan biaya pendidikan kepada Yessy selama menempuh studi magister.

Ia menyatakan siap mengambil tindakan tegas jika penerima beasiswa tersebut masih dibebani biaya pendidikan.

Bagi Yessy, pengumuman beasiswa itu menjadi kejutan yang tidak pernah ia bayangkan.

“Saya tidak menyangka. Saya ingin menyampaikan terima kasih kepada Pak Ketua Yayasan yang sudah memilih saya untuk melanjutkan studi ke jenjang S2,” ujar Yessy.

Wisuda yang semula menjadi akhir perjalanan Yessy sebagai mahasiswa sarjana akhirnya berubah menjadi pintu menuju jenjang pendidikan berikutnya.

Ia bertekad memanfaatkan kesempatan tersebut sebaik mungkin.

Dengan beasiswa itu, Yessy ingin membalas dukungan kakak-kakaknya yang selama ini membantunya menyelesaikan pendidikan.

Ia juga ingin memberikan sesuatu yang terbaik bagi adiknya dan almamaternya, Universitas Gorontalo.

Kisah Yessy memperlihatkan bahwa kehilangan dan keterbatasan ekonomi tidak selalu harus menjadi akhir dari sebuah cita-cita.

Di hari ketika toga dilepas, jalan Yessy untuk kembali belajar justru terbuka lebih lebar.

Dan kali ini, ia melangkah membawa harapan yang lebih besar. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *