Temu Wicara PENAS XVII Bahas Kelestarian Hutan untuk Ketahanan Pangan

88
ADV
10
{"remix_data":[],"remix_entry_point":"challenges","source_tags":["local"],"origin":"unknown","total_draw_time":0,"total_draw_actions":0,"layers_used":0,"brushes_used":0,"photos_added":0,"total_editor_actions":{},"tools_used":{"transform":2,"adjust":1},"is_sticker":false,"edited_since_last_sticker_save":true,"containsFTESticker":false}

RG.News – Dihari pertama pelaksanaan PENAS XVII di Gorontalo, para pelaku pertanian menggelar Temu Wicara dalam membahas transformasi teknologi dalam mendukung swasembada pangan nasional di Gedung Kasmat, Sabtu (20/06/26).

Menghadirkan beberapa pemateri dari tingkat nasional, ajang 3 tahunan sekali para petani dan nelayan ke XVII itu menjadi ajang sharing ilmu dalam bidang pertanian dan perikanan di Indonesia.

Banyak hal yang dibahas di temu Wicara yang digelar kali ini. Melalui Drh. Indra Exploitasia. M.SI, Kepala BPPSDM Kehutanan Indonesia itu diantaranya mereka membahas soal pola menjaga kelestarian hutan ditengah upaya meningkatkan produksi pertanian untuk ketahanan pangan Indonesia.

” Ya, saya ada dari Kementrian Kehutanan, ada juga Kepala Pusat penyuluhan, kepala Pedas, kepala BPKH. Jadi kami mendukung, mensupport kegiatan Penas yang merupakan bagian kegiatan sebagai program ketahanan pangan. ” Ucap Drh. Indra saat diwawancarai.

Menurutnya, mereka selaku penyuluh kehutanan terus punya andil dalam pendampingan kelompok tani hutan, ada 27. 000 petani hutan Indonesia, yang sebagian besar petani itu berada dikawasan hutan.

Sehingga ini penting untuk kami sampaikan ke publik, bahwa hutan itu harus selalu ada. Tanpa mengorbankan kegiatan pembangunan lainnya khususnya didunia pertanian.

” Jadi ini sangat strategis dan harus bagi penyuluh kehutanan untuk terus memberikan edukasi kepublik agar membuat hutan agar tetap lestari.” Ungkapnya.

Ditambahkan Drh. Indra, pihaknya kini memiliki skema agro forestri, yang boleh jika ingin membuka lahan untuk daerah tanam dikemiringan, dan bagi mereka itu bisa.

Tapi dengan catatan yang terus kita pesankan tanpa merusak kawasan hutan, diantaranya yakni jenis tanaman pohon keras kiranya harus dipertahankan agar hutan tetap terus lestari.

” Jadi yang kami lakukan itu, tanaman pertanian dibawahnya tanaman keras harus dijaga. Ada keseimbangan tanaman jika kita menanam dihutan. Sehingga kita selalu berupaya menyumbang ketahanan pangan. Tidak hanya soal padi jagung kedelai, tapi juga tidak merusak yang lainnya,” ungkap Drh. Indra.

Karena tambah Drh. Indra, ada beberapa pohon pohon yang merupakan tanaman hutan juga merupakan komoditas untuk pangan.

” Jadi tidak melulu komoditas pertanian tapi juga pangan.
Tanaman keras pangan itu misalnya, durian, jambu mente, jati, pohon sukun, sagu dll. Itu juga penting dijaga kembangkan sebagai penyangga kondisi hidrologis tanaman air dihutan,” paparnya.

Jadi pesan Kementrian kehutanan melalui Drh. Indra ini harus diperhatikan petani. Apalagi di Gorontalo, ada taman nasional Bogani yang menjadi transeter Gorontalo, harus terus lestari sebagai tempat habitat hewan seperti Maleo dll, dan jenis tanaman hutan lainnya, tandasnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *