Oleh: Dolvi Sumarauw
Pascasarjana Magister Kesehatan Masyarakat Universitas Gorontalo
Tuberkulosis (TB) masih menjadi persoalan serius dalam sistem kesehatan Indonesia. Berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Indonesia saat ini menempati posisi kedua sebagai negara dengan beban TB tertinggi di dunia.
Pada tahun 2024 tercatat lebih dari 885.000 kasus terdiagnosis, dengan angka kematian melebihi 125.000 jiwa setiap tahun. Dari estimasi sekitar 1,09 juta kasus, jumlah yang berhasil ditemukan dan dilaporkan baru sekitar 885 ribu kasus.
Kondisi ini menunjukkan bahwa masih terdapat kesenjangan signifikan dalam upaya deteksi dan penanggulangan TB secara nasional.
Gambaran di tingkat provinsi juga memperlihatkan dinamika yang tidak kalah kompleks. Data Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo menunjukkan bahwa pada tahun 2024 cakupan penemuan kasus TB baru mencapai sekitar 82 persen dari target nasional sebesar 90 persen.
Persentase pasien yang memulai pengobatan (enrollment rate) tercatat sekitar 87 persen, sementara cakupan terapi pencegahan bagi kontak serumah masih berada di kisaran 22 persen, jauh dari target 68 persen yang ditetapkan.
Di sisi lain, capaian keberhasilan pengobatan di Gorontalo relatif menggembirakan. Dengan Treatment Success Rate (TSR) sekitar 90,5 persen pada tahun 2024, provinsi ini termasuk dalam sepuluh daerah dengan tingkat keberhasilan pengobatan tertinggi di Indonesia.
Angka tersebut sedikit melampaui rata-rata nasional, yang di sejumlah provinsi masih berada di bawah target minimal 90 persen.
Namun, jika ditelusuri lebih rinci, terdapat variasi capaian antar kabupaten/kota. Penemuan kasus di Kabupaten Gorontalo mencapai sekitar 51 persen, Kota Gorontalo 70 persen, Kabupaten Bone Bolango 62 persen, dan Kabupaten Pohuwato 47 persen dari target yang ditetapkan.
Dalam hal keberhasilan pengobatan, Kota Gorontalo mencatat capaian sekitar 90 persen dan Kabupaten Gorontalo 89 persen, sementara beberapa daerah lainnya masih berada di bawah standar nasional.
Secara keseluruhan, prevalensi TB di Provinsi Gorontalo diperkirakan mencapai 68 persen, dengan total sekitar 6.949 pasien yang tercatat di seluruh wilayah provinsi.
Limboto menjadi salah satu wilayah dengan angka prevalensi tertinggi di Kabupaten Gorontalo.
Realitas Lapangan: Tantangan yang Belum Terselesaikan
Data tersebut memperlihatkan dua sisi yang berjalan beriringan. Di satu sisi, terdapat kemajuan dalam keberhasilan pengobatan pasien.
Di sisi lain, upaya penemuan kasus masih belum optimal jika dibandingkan dengan target nasional maupun arah kebijakan eliminasi TB tahun 2030.
Permasalahan di layanan primer, termasuk di Puskesmas Limboto, berdasarkan penelitian ditemukan bahwa terdapat sejumlah tantangan mendasar, antara lain: (1) Penemuan kasus yang belum komprehensif. Proses deteksi masih banyak mengandalkan pendekatan pasif, yakni menunggu pasien datang dengan keluhan.
Padahal, skrining aktif dan pelacakan kontak secara sistematis sangat diperlukan untuk menemukan kasus sejak tahap awal.
(2) Akses terhadap diagnosis dini dan teknologi. Tes Cepat Molekuler (TCM) terbukti mampu mempercepat penegakan diagnosis sekaligus mendeteksi resistensi obat.
Namun, ketersediaannya belum merata di seluruh puskesmas. Ketergantungan pada fasilitas rujukan kerap memperlambat diagnosis dan memengaruhi kecepatan memulai pengobatan.
(3) Kepatuhan pengobatan dan dukungan sosial. Walaupun tingkat keberhasilan pengobatan relatif tinggi, kasus putus obat pada fase awal terapi masih ditemukan.
Kepatuhan pasien sangat dipengaruhi oleh dukungan keluarga, komunikasi yang efektif antara tenaga kesehatan dan pasien, serta pemahaman mengenai pentingnya menyelesaikan pengobatan sesuai ketentuan.
(4) Faktor sosial dan stigma. Tingkat pengetahuan masyarakat mengenai TB yang masih berada pada kategori sedang turut menjadi hambatan. Stigma terhadap penderita TB dapat mengurangi keterbukaan pasien dan menghambat upaya pelacakan kontak.
Memperkuat Layanan Primer sebagai Prioritas
Layanan primer, terutama puskesmas merupakan garda terdepan dalam pengendalian Tuberkulosis (TB).
Sebagian besar pasien pertama kali mengakses sistem kesehatan melalui fasilitas ini. Karena itu, keberhasilan target eliminasi TB sangat ditentukan oleh seberapa kuat kapasitas layanan primer dalam mendeteksi, mendiagnosis, mengobati, dan memantau pasien secara berkelanjutan.
Penguatan layanan primer bukan sekadar penambahan fasilitas, tetapi perbaikan menyeluruh pada sistem deteksi, pelayanan klinis, manajemen data, serta pendekatan sosial.
Beberapa Langkah prioritas yang dapat dilakukan antara lain:
- Memperluas skrining aktif dan pelacakan kontak, terutama di wilayah dengan prevalensi tinggi.
- Memastikan pemerataan alat diagnostik cepat serta peningkatan kapasitas teknis petugas puskesmas.
- Mengoptimalkan sistem informasi berbasis digital untuk mendukung pelaporan dan tindak lanjut kasus secara cepat dan akurat.
- Memperkuat pendampingan pasien melalui peran PMO dan kader kesehatan masyarakat.
- Mengembangkan kampanye edukasi lintas sektor untuk menurunkan stigma serta meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap gejala awal TB.
Dari Komitmen ke Implementasi Nyata
Menetapkan target eliminasi TB pada 2030 merupakan langkah penting sebagai arah kebijakan nasional.
Namun, yang lebih menentukan adalah bagaimana komitmen tersebut diterjemahkan secara konkret di tingkat layanan primer.
Setiap individu yang menunjukkan gejala harus dapat dengan mudah diidentifikasi, diperiksa, diobati, dan didampingi hingga sembuh.
Data dari Gorontalo menunjukkan bahwa peluang untuk meningkatkan penemuan kasus dan memperkuat pendampingan pasien masih terbuka lebar.
Keberhasilan program sangat bergantung pada penguatan puskesmas sebagai garda terdepan, sinergi lintas sektor, serta edukasi masyarakat yang berkesinambungan.
Dengan strategi yang terencana dan konsisten, angka TB yang masih tinggi dapat ditekan secara bertahap bukan hanya dalam laporan statistik, tetapi dalam kehidupan nyata masyarakat Gorontalo.
REFERENSI
Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo 2024. Laporan Program TBC Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo. Gorontalo: Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo.
Kemenkes RI 2020b. Strategi Komunikasi TOSS TBC. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Kemenkes RI 2024. Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Tuberkulosis Berbasis Masyarakat. Jakarta: Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan RI.
Puskesmas Limboto 2024. Laporan Program TBC Dinas Kesehatan Puskesmas Limboto. Limboto: Puskesmas Limboto.
WHO 2022. Global Tuberculosis Report 2022. Geneva: World Health Organization.
WHO 2023. Tuberculosis. Geneva, Swiss: World Health Organization.
WHO 2024. World Tuberculosis Day 2024: Many more TB cases could be prevented. Geneva, Swiss. ###











