Menu Ikan Teri Program MBG Gorut Dikeluhkan, Ahli Gizi Beri Penjelasan

446
ADV
10

GORUT (RGNEWS.COM) – Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Gorontalo Utara tengah menjadi sorotan usai menu ikan teri kering menuai keluhan dari sejumlah orang tua siswa.

Keluhan itu pertama kali viral melalui unggahan akun Facebook Maya Mutiara Hulukati yang memposting foto paket MBG berisi nasi, sayur, ikan teri, dan buah.

Unggahan tersebut langsung menyebar, dibagikan puluhan kali, dan dipenuhi komentar warganet.

Maya menilai ikan teri kering yang digoreng utuh, lengkap dengan kepala, sulit dikonsumsi anak-anak usia dini.

“Kasian anak-anak dorang kse makan ikan kering, kong kapala dorang tidak buang. Anak-anak TK dan kelas 1 SD kan belum semua ada gigi,” tulisnya, Kamis (28/8/2025).

Nada serupa datang dari orang tua lain, Chindi S. Patamani, yang mengaku anaknya menolak bekal dari rumah karena lebih memilih makanan gratis.

“Bukannya tidak bersyukur, tapi bagaimana mau kasih makan anak SD kelas 1–2 kalau menunya keras begitu,” tulisnya.

Kekhawatiran para orang tua bukan hanya soal rasa, tapi juga keselamatan. Tekstur ikan teri yang keras dikhawatirkan bisa tersangkut di tenggorokan anak hingga menyebabkan tersedak.

Menanggapi keluhan tersebut, Ahli Gizi Satuan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kwandang, Fikti Yanti Husain, menyampaikan klarifikasi.

Ia mengakui adanya kekurangan dalam penyajian menu ikan teri balado pada Kamis itu, meski sudah melalui tahap uji rasa.

“Dari awal kami sudah meminta supplier untuk membuang kepala ikan teri, tapi terkendala tenaga kerja karena jumlah order mencapai 85 kilogram,” jelas Fikti saat dikonfirmasi.

Menurutnya, ikan teri dipilih sebagai variasi menu karena sebelumnya ada permintaan siswa dan guru agar lauk tidak hanya telur, ayam, atau daging.

Untuk balita, lauk diganti dengan telur, sedangkan ibu hamil, menyusui, dan anak sekolah tetap mendapat ikan teri balado.

Ia meminta para orang tua menyampaikan keluhan langsung kepada pihak SPPG atau sekolah, agar dapat segera dicarikan solusi.

“Kalau ada yang alergi atau mengalami masalah setelah makan menu yang didistribusikan, silakan melapor. Kami yang akan bertanggung jawab membawa ke puskesmas,” tegasnya.

Meski menu ikan teri kaya akan protein, kalsium, dan omega-3, bagi sebagian orang tua di Gorut, lauk itu masih menyimpan keresahan: bukan soal gizi, melainkan kenyamanan dan keamanan anak-anak mereka saat makan di sekolah. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *