KAMPUS (RAGORO) – Fakultas Sains Teknologi (FST) Universitas Muhammadiyah Gorontalo (UMGO), Jum’at kemarin (5/11) melaksanakan Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (PINSAR). Kegiatan ini dilaksanakan di Gedung Haryono Suyono, LPPM UMGO, yang dihadir oleh Rektor UMGO, Prof. Dr. Abd. Kadim Masaong, Wakil Rektor II, Dr. Salahudin Pakaya, Wakil Rektor III, Dr. Apris Ara Tilome, Dekan FST, Dr. Talha Dangkua, M.Pd, Ketua BUMK, Ir. Denny Latama, MM, Kaprodi Peternakan, Dr. Moh. Ervandi, MP, Kaprodi Agribisnis, Dr. Meity Melani Mokoginta, M.Si, Ketua PINSAR Gorontalo, H. Suyuti dan Puluhan Komunitas Peternak Ayam Petelur yang tergabung dalam PINSAR.
Mengawali sambutan, Rektor UMGO, Prof. Dr. Abd. Kadim Masaong menyampaikan terima kasih atas kedatangan rombongan PINSAR ke kampus pencerahan UMGO. “Saya ini Peternak yang jadi Rektor, jadi punya pengalaman memelihara ayam, dan sebagai akademisi saya harus bisa memadukan antara teori dan praktek,” ungkapnya.
Sebagai peternak, lanjut Kadim, mestinya harga harus bisa ditentukan, bukan pasar. “Karena kita yang kuasai produk, asal kita solid mematangkan konsolidasi baik ke dalam maupun keluar. Ketika harga telur murah karena ada permainan pasar oleh pengusaha besar, maka kita harus solid agar bisa mengatur pasar dan berharap dukungan pemerintah dan DPRD dengan tidak mendatangkan telur dari luar daerah. Sesama peternak harus saling membantu, peternak yang punya modal besar harus bantu peternak yang modalnya sedikit, agar kita sama- sama sukses. Kuncinya harus solid,” terangnya.
Sementara itu, Ketua PINSAR, H. Suyuti menyampaikan terima kasih kepada UMGO yang telah mengajak PINSAR
untuk saling mengingatkan akan kepentingan bersama. “Alhamdulillah, saya sudah 2 tahun jadi ketua PINSAR, dan memang banyak teman-teman peternak kalau sudah berada di zona nyaman terkadang melupakan teman yang baru memulai. Jadi PINSAR ini berdiri tujuannya untuk saling support sesama peternak,” ucapnya.
Sesuai pantauan awak media, dalam kegiatan ini terjadi dialog tentang permasalahan harga telur, dimana harga telur yang semakin murah, namun biaya produksinya semakin mahal. Diduga ada pengusaha besar yang memainkan harga telur dipasaran. Diskusi dan permasalahan telur ini pun akan ditindaklanjuti dengan menghadirkan unsur Pemerintah, DPRD, Perbankan dan pakar ekonomi agar kepentingan masyarakat khususnya peternak ayam petelur bisa disalurkan dan bisa sejahtera. “PINSAR yang akan konsilidasikan keseluruh pengurus untuk hadir pertemuan selanjutnya, demi kepentingan bersama,” pungkas Sayuti. (rg-63/HMS)











