Rektor Unigo Ingatkan Maba: Kuliah Butuh Pengorbanan

88
ADV
10

KAMPUS (RGNEWS.COM) – Rektor Universitas Gorontalo (Unigo) Dr. Robby Hunawa, S.IP.,M.Si meminta mahasiswa baru tidak membawa mental dan kebiasaan saat masih duduk di bangku sekolah ke dunia perguruan tinggi.

Memasuki dunia kampus, mahasiswa dituntut lebih mandiri, kuat menghadapi tekanan dan siap bertanggung jawab atas pilihan pendidikan yang telah dipercayakan orang tua kepada mereka.

Pesan itu disampaikan Robby saat menutup rangkaian Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Universitas Gorontalo 2026, Rabu (9/9/2026) sore.

Robby mengatakan, tiga hari pelaksanaan PKKMB bukan sekadar kegiatan seremonial. Kegiatan tersebut merupakan pintu masuk bagi mahasiswa baru untuk memahami sekaligus menjalani transformasi kehidupan kampus.

“Selamat memasuki dunia baru. Dunia di mana Anda akan mengukir masa depan Anda melalui jalan perjuangan, jalan pengorbanan. Tidak ada satu kesuksesan, tidak ada satu keberhasilan tanpa perjuangan dan pengorbanan,” tegas Robby.

Menurutnya, perjalanan mahasiswa selama menempuh pendidikan tidak akan selalu mulus. Hambatan, tantangan dan kesulitan akan muncul silih berganti.

Dalam kondisi tersebut, Robby meminta mahasiswa mengingat wajah kedua orang tua.

Ia mengingatkan, ada orang tua di kampung yang rela berkorban demi membiayai pendidikan anaknya.

Bahkan, kata Robby, tidak sedikit keluarga yang harus hidup sederhana agar anak mereka tetap bisa melanjutkan kuliah.

“Bayangkan wajah kedua orang tua kalian. Bayangkan kakak adik kalian. Mungkin saja di rumah sana mereka rela untuk tidak makan beras, hanya makan seadanya, hanya demi memikirkan biaya kuliah Anda semua,” ujarnya.

Karena itu, keberhasilan menyelesaikan pendidikan di Universitas Gorontalo bukan semata-mata menjadi tanggung jawab kampus.

Mahasiswa sendiri memegang tanggung jawab terbesar atas masa depannya.

Rektor bersama jajaran wakil rektor, pimpinan fakultas, lembaga dan badan di lingkungan Unigo, kata Robby, hanya dapat menyediakan fasilitas dan membantu mahasiswa selama proses pendidikan.

“Yang sukses dan tidaknya itu akan kembali kepada diri Anda sendiri,” tegasnya.

Jangan Bermental Kerupuk

Robby juga meminta mahasiswa mempersiapkan diri menghadapi tantangan masa depan.

Ia ingin Unigo melahirkan generasi yang kuat secara mental dan fisik, jujur serta memiliki integritas.

Ia bahkan mengingatkan mahasiswa agar tidak memiliki mental lemah.

“Generasi-generasi yang tidak punya mental kerupuk, tidak memiliki mental yang lemah. Tetapi Anda harus persiapkan diri untuk menghadapi tantangan di masa depan,” katanya.

Menurut Robby, mahasiswa baru yang kini berada di lingkungan kampus merupakan calon pemimpin yang kelak akan menggantikan generasi yang saat ini berada di posisi kepemimpinan.

Karena itu, pendidikan di perguruan tinggi harus membentuk lebih dari sekadar kemampuan akademik.

Karakter, integritas dan daya juang menjadi modal penting menghadapi kehidupan setelah menyandang gelar sarjana.

Himne Jadi Penyemangat

Ada pesan unik yang disampaikan Robby kepada mahasiswa ketika menghadapi kejenuhan, hambatan maupun kesulitan selama kuliah.

Ia meminta mahasiswa mengingat dan menyanyikan Himne Universitas Gorontalo.

Robby mengaku pernah berada pada posisi seperti mahasiswa baru. Ketika kejenuhan datang, ia menjadikan himne universitas sebagai salah satu cara untuk membangkitkan kembali semangat.

Menurutnya, pesan yang terkandung dalam himne Unigo mengingatkan mahasiswa bahwa mereka merupakan putra-putri daerah dan anak bangsa yang dipersiapkan untuk menjadi pemimpin di masa depan.

“Kami tidak akan hidup selamanya. Kami tidak akan menjadi seperti ini selamanya. Maka generasi-generasi baru yang akan kita lahirkan itu adalah generasi-generasi yang kuat mental dan fisiknya,” ujarnya.

PKKMB Bukan Seremonial

Robby menegaskan, PKKMB bukan sekadar rangkaian acara penyambutan mahasiswa baru.

Menurut dia, kegiatan tersebut merupakan momentum awal untuk meninggalkan pola belajar ketika masih duduk di bangku sekolah dan beradaptasi dengan sistem pendidikan tinggi yang menuntut kemandirian.

“Pelaksanaan PKKMB ini bukan saja sekadar acara seremonial. Pelaksanaan PKKMB ini adalah pintu masuk bagi seluruh mahasiswa baru, transformasi nilai-nilai kehidupan kampus kepada Anda semua,” jelasnya.

Ia menggambarkan perbedaan kehidupan sekolah dan kampus. Jika di sekolah siswa masih banyak diarahkan dan diawasi guru, maka di perguruan tinggi mahasiswa harus memiliki kesadaran sendiri untuk mengikuti proses pembelajaran.

“Kalau Anda di sekolah guru-guru mengejar Anda sampai ke kantin. Kalau bosan di sekolah lompat pagar. Kalau di kampus ini tidak seperti itu model pembelajarannya,” kata Robby.

Pesan itu menjadi penegasan bahwa status mahasiswa membawa konsekuensi baru.

Mereka tidak lagi sekadar mengikuti perintah, tetapi harus mampu mengatur waktu, mengambil keputusan, menghadapi persoalan dan bertanggung jawab terhadap pilihan sendiri.

Rangkaian PKKMB 2026 pun ditutup dengan pesan agar mahasiswa benar-benar menjadi mahasiswa utuh 100 persen Universitas Gorontalo.

Bukan hanya terdaftar sebagai mahasiswa, tetapi tumbuh sebagai generasi yang memiliki ilmu, karakter, integritas dan daya juang untuk membawa nama baik almamater di tengah masyarakat. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *