BonbolHeadlines

Merlan Uloli Patahkan Mitos Perempuan Gorontalo Tidak Bisa Jadi Kepala Daerah

652
×

Merlan Uloli Patahkan Mitos Perempuan Gorontalo Tidak Bisa Jadi Kepala Daerah

Sebarkan artikel ini
Merlan S. Uloli
  • Editor     : Sahril Rasid
  • Penulis   : Awaludin

GORONTALO (RG.COM)—Romour kepala daerah dari kalangan wanita bertentangan dengan adat Gorontalo, sejak dulu menjadi pro kontra.

Namun demikian beberapa waktu lalu, segala pandangan kalau wanita tidak boleh menjadi kepala daerah terbantahkan.

Setelah Merlan Uloli wakil bupati Bone Bolango naik tahta sebagai Plt Bupati Kabupaten Bone Bolango.

Ia sosok kepala daerah perempuan pertama di Kabupaten Bone Bolango, dan di wilayah Provinsi Gorontalo sejak dibentuk menjadi sebuah provinsi.

 Mengisi kekosongan kursi bupati karena Hamim Pou bupati sebelumnya harus mundur dari kursi bupati karena mengikuti pemilu legilsatif di Provinsi Sulawesi Utara.

Dengan fakta ini menguatkan adat Gorontalo tidak menjadi penghalang seorang politeisi perempuan meniadi bupati atau gubernur.

Ini diperkuat dengan pernyataan, A.R Maksum. Selaku Wuu Bunato Suwawa dan juga tokoh adat Gorontalo menegaskan tidak ada larangan bagi perempuan menjadi seorang pemimpin atau khalif

“adat tidak mempermasalahkan perempuan menjadi khalifah, tentu untuk prosesi upacara adat kepada pemimpin perempuan, ada ketentuan tersendiri,” tegas A.R Maksum.

Ia mencontohkan Megawati Soekarnoputri menjadi Presiden Indonesia kelima dan Khofifah Indar Parawansa menjadi Gubernur Jawa Timur..

Mereka adalah seorang pemimpin dan menjadi khalifah di negeri ini dari kaum perempuan hasil demokrasi yang dipilih oleh rakyat.

Bahkan di wilayah Suwawa sendiri pada masa kerajaan, sebut A.R Maksum, itu pemimpinnya adalah seorang perempuan, yakni Mbui Ayudugya.

Ia memimpin kerajaan Suwawa pada abad ke5.

“Mbui Ayudugya dikenal sebagai sosok pemimpin perempuan yang perkasa dan mampu menyatukan seluruh rakyat Suwawa saat itu,” urai A.R Maksum.

Oleh karena itu, kata A.R Maksum, dalam tatanan adat tidak ada masalah kalau perempuan menjadi pemimpin atau khalifah.

Bahkan ia selaku tokoh adat pun akan memback up dan mendukung itu, karena ada aturan-aturannya.

jadi sekali lagi, kami tegaskan tidak ada larangan perempuan untuk jadi pemimpin, sepanjang dia menjunjung adat (adati), kebijaksanaan (tinepo), kekeluargaan (tombulaa), dan hukum (butoâo), maka itulah pemimpin yang baik.

“ Jadi bukan melihat bahwa dia seorang perempuan,” tegas A.R Maksum. Pada kesempatan itu, A.R Maksum berpesan kepada Plt. Bupati Bone Bolango Merlan S. Uloli

sebagai khalifah atau Bupati perempuan pertama di Bone Bolango agar niatnya membangun daerah ini betul-betul tujuannya untuk memakmurkan dan mensejahterakan rakyat.

Tentu dalam memimpin dan membangun daerah ini, perlu dilandasi dengan lima sendi peradaban Gorontalo, yakni Payu Limo Totalu, di antaranya bangusa talalo (bangsa ini harus dijaga), lipu podudualo (negeri ini dibela), nyawa podungalo (nyawa harus dipertaruhkan).

Selanjutnya batanga pomaya (jiwa dan raga harus diabdikan), dan upango potombulu (harta harus diwakafkan untuk kemanusiaan).

“niat seorang pemimpin harus begitu. Harus dilandasri kelima sendiri peradaban Gorontalo tersebut,” tutur A.R Maksum. *****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *