Headlines

Catatan Guru Besar UNG : DISPOSISI PERSONAL

464
×

Catatan Guru Besar UNG : DISPOSISI PERSONAL

Sebarkan artikel ini

Oleh :
Fory Armin Naway
Guru Besar FIP UNG dan Ketua PGRI Kab. Gorontalo

Dalam teorinya tentang “Memahami Diri Sendiri, Seni Mengenali dan Menerima Diri”, Pakar Ilmu Psikologi Sofia Alvirzhie (2020) menyebutkan, bahwa dalam diri setiap individu terdapat 2 type sifat, yakni pertama, sifat umum (common traits) dan kedua, sifat Disposisi Personal. Common traits adalah sifat yang diwarisi dari karakteristik sifat yang umum yang melekat pada suatu kelompok atau komunitas masyarakat tertentu. Sebagai contoh, adalah sifat orang Timur yang lebih tertutup dan mengandalkan norma dibandingkan dengan orang Barat. Dalam konteks ini, common traits adalah sifat seseorang yang dipengaruhi oleh faktor lingkungan di mana ia hidup dan dibesarkan.

Sementara sifat “Diposisi Personal” adalah sifat yang menjadi ciri khas individu dan hanya dimiliki oleh individu itu sendiri. Dengan begitu, dari disposisi personal inilahh menurut teori Sofia Alvirzhie, seseorang dapat diidentifikasi secara spesifik sifat dan kepribadiannya yang membedakannya dengan orang lain. Berdasarkan hal itu, maka setiap orang sebenarnya memiliki sifay yang unik dari yang lain.

Disposisi personal memiliki 3 tingkatan, yakni yang disebut dengan Disposisi Esensial, Disposisi Sentral dan Disposisi Sekunder. Disposisi esensial adalah sifat seseorang dengan karaktersitik yang sangat mencolok yang memudahkan bagi orang lain untuk mengidentifikasi orang tersebut secara mudah. Disposisi esensial ini tidak banyak ditemui pada orang kebanyakan, melainkan pada orang-orang tertentu saja. Misalnya sifat idealis, sifat yang penuh prasangka buruk, sifat narsis, kasar, mudah marah atau emosional yang berlebihan dan sebagainya.

Sementara Disposisi sentral dikenal juga dengan sifat tingkatan menengah yang lebih banyak dari disposisi esensial dan lebih sedikit dari Disposisi sekunder. Sifat jenis ini dapat dilihat pada seorang individu yang sebenarnya mudah terbaca, seperti sifat kejujuran, ambisius, sabar, obsesif dan sebagainya.

Lain halnya dengan Disposisi sekunder, yakni sifat yang melekat pada seseorang yang bersifat “latent” atau tersembunyi, tidak mencolok dan hanya muncul pada saat atau situasi tertentu yang benar-benar terpaksa. Misalnya orang yang dikenal memiliki kesabaran yang tinggi, namun karena mendapat perlakukan yang sudah melampaui batas kesabarannya itu,maka ia tiba-tiba menjadi sangat marah pada orang itu. Contoh lainnya adalah, seseorang yang memiliki “toleransi kemanusiaan” atau memiliki rasa hormat pada seseorang, namun tiba-tiba ia bersikap tidak hormat, karena sifat orang yang dihormatinya itu “sudah keterlaluan” atau tidak bisa ditolerir kesalahannya lagi, semisal orang yang dihormatinya itu menghina orang tuanya atau menginjak-injak harkat dan martabat keluarganya.

Urgensi dari mengenal sifat-sifat individual ini sangat penting dalam kerangka menjaga hubungan persahabatan, kekeluargaan dan hubungan silaturahmi dalam rangka mewujudkan kedamaian, ketentraman dalam kehidupan bertetangga dan bermasyarakat. Selain itu dengan mengenal sifat, karakter dan kepribadian yang melekat pada seseorang, maka semangat untuk saling menghargai akan tumbuh diantara sesama anak bangsa.

Urgensi lainnya, adalah merangsang atau memunculkan kesadaran bahwa setiap orang memiliki perbedaan-perbedaan sifat dan karakter yang melekat pada setiap individu-individu. Dengan mengetahui perbedaan itu, maka diharapkan akan melahirkan komitmen dan tekad untuk tidak “menggunjing” apalagi menjustifikasi orang lain, tidak saling menjelekkan atau saling menjatuhkan antara yang satu dengan yang lainnya.

Dalam perspektif ini, setiap orang tidak boleh “memaksakan” orang lain memiliki sifat yang sama dengan dirinya. Karena sudah menjadi kudrat, bahwa setiap orang memiliki keunikan-keunikan tersendiri yang berbeda-beda antara yang satu dengan yang lainnya. Dalam ilmu psikologi, terdapat teori yang mengatakan, bahwa bagaimana menjadikan “kelemahan” seseorang justru menjelma menjadi “potensi”. Potensi tersebut salah satunya mengembangkan aspek-aspek dari sifat dan karakter yang menjadi “kompensasi” atas kelemahan itu.

Oleh karena itu, dalam praktek idealnya, setiap orang tidak selalu melihat suatu persoalan berdasarkan “pikirannya sendiri” tetapi juga bersikap atas dasar t “pikiran” atau sifat yang selalu melihat diri orang lain. Melalui prinsip itu, sifat “egoisme” atau keakuan akan terleminir dengan sendirinya. Bahkan lebih dari itu, akan memberikan dampak penguatan terhadap kearifan diri sehingga lebih bijaksana dalam bersikap dan bertindak. Dari sinilah, kedewasaan itu akan muncul dengan sendirinya.

Allport seperti dikutip Sofia Alvirzhie dalam bukunya mengidentifikasi 6 kriteria kepribadian yang dewasa, yaitu : Pertama, perluasan konsep diri. Dalam aspek ini disebutkan, bahwa seseorang yang disebut sehat dalam berpikir, adalah individu yang memusatkan perhatian ke dalam dirinya sendiri, namun tetap terus mengidentifikasi dan berpartisipasi sebagai bagian dari anggota masyarakat. Kedua, Pribadi yang dewasa. Sikap ini dapat terlihat dari ciri seseorang yang memiliki hubungan hangat diri sendiri dengan orang lain, ramah, sopan dan mampu menghargai serta menghormati orang lain. Keiga, Rasa aman secara emosional (penerimaan diri).

Individu yang dewasa adalah “seseorang yang mampu menerima dirinya secara apa adanya dan mempunyai muatan emosional. Individu yang sehat psikologisnya, adalah seseorang yang “legowo” atau ikhlas menerima suratan takdir. Dengan sikap ini, orang tersebut tidak akan “menyalahkan” atau melimpahkan kesalahan pada orang lain terhadap nasib yang dialaminya. Keempat, Pribadi yang sehat secara psikologis. Yakni orang yang bersikap realistis terhadap dirinya, orang lain dan lingkungan di sektarnya.

Kelima, Insight dan Humor. Orang yang sudah mencapai tahap dewasa adalah mereka yang sudah mengenal dirinya secara utuh, baik kelebihan dan kekurangan-kekurangannya. Kelebihannya akan terus diasah dengan penuh kegirangan, ia mampu menghibur dirinya untuk melakukan hal-hal yang positif.

Sementara kesulitan yang dihadapinya dipandang sebagai sebuah “seni” kehidupan yang mesti dilaluinya. Keenam, Memiliki falsafah atau filsafat hidup yang menyatukan. Dalam aspek ini, pribadi yang sehat adalah orang yang memiliki konsep hidup yang jelas mengenai tujuan hidup yang sesungguhnya. Dengan begitu, ia memiliki falsafah hidup yang bersandar pada agam. Orientasi hidupnya berada pada 2 dimensi, duniawi dan ukhrawi.

Dari uraian singkat ini, maka dapat diperoleh disposisi personal sangat penting sebagai rujukan untuk menjalin interaksi dan hubungan dalam kehidupan sehari-hari dengan diri sendiri dan orang lain untuk menggapai hidup yang harmoni. Semoga. (**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *