RGOL.ID, GORUT – Pulau Saronde resmi menjadi destinasi wisata private dan premium pertama di Gorontalo.
Di momen Festival Pesona Saronde, Kamis (9/6) kemarin, pulau cantik yang merupakan ikon Gorontalo Utara itu dilaunching sebagai destinasi wisata private premium oleh Kemenparekraf ditandai pemukulan polopalo, alat musik tradisional Gorontalo secara bersama dengan rombongan tamu undangan lainnya.
Tentu konsep wisata premium yang dimaksud mengacu kepada layanan yang berkualitas tinggi dan kental dengan keunikan alam, sosial, budaya, dan masyarakat.
Dengan begitu, wisatawan bisa mendapat pengalaman bernilai tinggi dengan tetap memperhatikan keberlangsungan lingkungan hidup.
Sementara konsep private, tentu itu kaitan dengan pengelolaan Pulau Saronde yang berstandar internasional. Di mana, kenyamanan dan ketenangan wisatawan, terutama wisatawan mancanegara jadi yang utama.
Sebagaimana yang dijelaskan Mrs. Anke Andree, investor Jerman yang kini mengelola Pulau Saronde.
“Kita ingin mereka yang berkunjung ke Pulau Saronde hanya sebatas mereka yang ingin benar-benar berlibur panjang. Jadi, paling cepat itu 3 hari. Kami sudah siapkan fasilitas resort,” terang Mrs. Anke.
“Nantinya ada 6 resort yang kami siapkan. Kalau sekarang baru dua yang terbangun. Ke depan juga kita akan tambah fasilitas pendukung lainnya, agar wisatawan dapat menikmati liburan dengan lengkap di pulau yang cantik ini,” sambung wanita yang sudah hampir 20 tahun mengelola pariwisata di Indonesia, khususnya di Pulau Sulawesi itu.
Sementara Plt Bupati Gorut, Thariq Modanggu mengaku, dengan dijadikannya Pulau Saronde sebagai destinasi private dan premium, tentu sesuatu yang baru dari pelaksanaan Festival Pesona Saronde tahun ini.
Ia pun menampik, meski Pulau Saronde sudah menjadi destinasi private dan premium, bukan berarti ke depan tidak ada lagi Festival Pesona Saronde di pulau tersebut.
“Saya kira itu tidak tepat. Karena, Saronde ini adalah milik daerah. Meskipun ini sudah dikerjasamakan dengan pihak asing, tetapi minimal dengan Festival ini ada momen, di mana masyarakat umum bisa melihat langsung pulau ini. Artinya, kalau tidak ada lagi Festival Pesona Saronde, maka sudah sulit akses masuk. Apalagi ini hanya setahun sekali,” jelasnya
Hanya memang, kata Thariq, ke depan pemerintah daerah akan melakukan diversifikasi pariwisata.
“Jadi, tidak hanya Festival Pesona Saronde, tapi juga Festival Dionumo, Festival Mohinggito dan lain sebagainya. Sehingga akses lokal lebih besar di situ, kira-kira begitu,” paparnya. (RG-56)











