KAMPUS (RAGORO) – Seperti diketahui, bahwa Masjid Darul Arqam Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Gorontalo merupakan salah satu masjid yang selalu rutin melaksanakan tauziah sebelum berbuka puasa. Dan dalam kesempatan ini, Rektor Universitas Muhammadiyah Gorontalo (UMGO), Prof. Abd. Kadim Masaong, didaulat pihak panitia sebagai pengisi tauziah dihari kesebelas Ramadhan.
Dalam penyampaian tauziah, Prof. Kadim menguraikan tentang bulan suci Ramadhan sebagai motivasi mewujudkan tujuan hidup. “Allah SWT berfirman, aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali hanya menyembah dan beribadah kepadaku. Tujuannya Allah agar kita masuk surga kembali. Terus apa strategi dan cara Allah agar anak cucu Adam itu bisa masuk surga lagi. Maka Allah perintahkan kita untuk beribadah kepadanya, baik itu ibadah umum maupun ibadah khusus termasuk berpuasa, agar selamat mencapai tujuan hidup,” urainya.
Allah ciptakan 1 bulan dari 12 bulan, sebagai bulan mulia, yaitu Ramadhan. Di bulan ini, kata Kadim, dilipatgandakan pahala, dibebaskan dari api neraka, diampuni segala dosa, namun ada syaratnya, yaitu berpuasa dengan keimanan, dengan kehati-hatian, penuh perhitungan, maka dosa yang lama akan diampuni dan kembali fitrah. “Dosa kita diampuni jika syarat terpenuhi, termasuk hati-hati diawal puasa dan pada saat jelang berbuka puasa, jangan sampai dengar Adzan di HP langsung berbuka padahal belum waktunya, ini butuh kehati- hatian,” sentilnya.
Kemudian menegakkan dan mendirikan malam Ramadhan dengan sholat tarawih dan amalan-amalan lain, termasuk tadarrus Al Qur’an. Kalau di bulan lain ada waktu-waktu tertentu di ijabah doa, sementara di bulan puasa, 24 jam doa ijabah, pintu ampun terbuka lebar. “Kita harus punya target, mulai dari sholat, khatam Al qur’an dan harus ada muhasabah, apakah ini bulan terakhir berpuasa dan sebagainya. Jika demikian puasa kita akan berbeda dengan puasanya orang yang tidak punya target,” terangnya.
Terakhir Prof. Kadim menceritakan kisah sahabat yang ketika sakaratul maut yang menyebut kata, kenapa tidak lebih jauh, kenapa bukan yang baru dan kenapa bukan semuanya. “Allah perlihatkan amalan dia ketika ke masjid dengan jarak jauh, maka Allah perlihatkan amalannya dan keluar kata tidak lebih jauh. Amalannya ketika memberi bajunya untuk orang yang kedinginan, dan keluarlah kata kenapa bukan yang baru. Amalannya ketika memberi sebagian rotinya kepada kepada orang yang lapar, maka keluar kata kenapa bukan semuanya. Maka mari di bulan suci Ramadhan, kita perbanyak amalan kita, itu memang susah, namun Allah berkata dibalik kesusahan ada kemudahan, itu janji Allah,” tutupnya. (rg-63/HMS)











