Transformasi Nilai

1471
ADV
10

Oleh :
Fory Armin Naway
Guru Besar Universitas Negeri Gorontalo
dan Ketua ICMI Kab. Gorontalo

Istilah “Transformasi” atau dalam Bahasa Inggris Transformation sudah sangat populer di kalangan masyarakat. Namun bukan kepopulerannya yang menjadi titik perhatian dalam tulisan ini, tapi lebih kepada uraian mengenai pentingnya pemaknaan dan penghayatan istilah ini ke dalam ranah kehidupan nyata dalam bentuk aplikasi ke dalam realitas kehidupan siapapun.

Sebagaimana istilah lainnya dalam perbendaharaan kosa kata di Indonesia, istilah Transformasi memiliki hakekat, makna dan tujuan, bukan sekadar ungkapan yang tak bermakna atau kata yang termasuk “basi” tapi memiliki dayalecut yang sangat signifikan pengaruhnya dalam kehidupan seseorang.

Secara bahasa, transformasi mengandung pengertian sebagai perubahan rupa entah bentuk, sifat, fungsi dan sebagainya. Arti lainnya adalah, perubahan struktur gramatikal menjadi struktur gramatikal lain dengan menambah, mengurangi, atau menata kembali unsur-unsurnya.

Dari pengertian tersebut dapat diperoleh gambaran bahwa, istilah transformasi mengandung makna perubahan yang sangat terkait erat dengan sifat, sikap dan karakter seseorang dan transformasi sebagai istilah ilmiah yang terdapat dalam kaidah keilmuan metafisika, matematika dan keilmuan lainnya.

Yang menjadi fokus perhatian adalah pada pembentukan karakter seseorang secara signifikan yang sangat terkait erat dengan sesuatu yang ideal yang harus ada dalam diri seseorang. Transformasi merupakan upaya untuk mengadaptasikan diri dengan eksistensinya sebagai manusia berdasarkan status sosialnya di masyarakat.

Ketika seorang ibu rumah tangga yang tiba-tiba mendulang sukses dengan usaha rumah tangganya sebagai contoh, maka sifat-sifat, karakter bahkan perilaku sebagai seorang pengusaha sukses mulai merasuk ke dalam dirinya, atau ia mulai mentransformasikan karakter pengusaha pada umumnya ke dalam kehidupannya.

Upayanya itu akan terlihat secara konkrit dalam kehidupan kesehariannya. Mulai dari cara bicaranya, pola makan atau gaya hidupnya yang mulai berubah. Tranformasi dengan begitu merupakan upaya, tindakan bahkan boleh disebut pilihan hidup seseorang dalam memaknai hakekat keberadaannya.

Upaya mentransformasikan nilai-nilai tertentu, terutama nilai kebangsaan dan kemanusiaan, sangat terasa dalam dunia pendidikan. Bahkan boleh disebut, pendidikan merupakan salah satu instrumen penting untuk mentransformasikan nilai-nilai kehidupan secara prospektif.

Pendidikan, tidak hanya mengantarkan seseorang meraih kehidupan yang lebih baik, tapi lebih dari itu, pendidikan merupakan “titik sentral” yang sangat penting dan strategis dalam mentransformasikan berbagai komponen yang sangat dibutuhkan oleh siapapun, baik dalam konteks personaliti atau individu-individu maupun dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dalam konteks yang lebih luas, transformasi merupakan usaha sadar untuk menjalani sebuah proses hidup menuju perubahan ke arah yang lebih baik. Sebagai sebuah bangsa besar misalnya, Indonesia tengah mentransformaskan nilai-nilai sebagai bangsa yang pluralis, majemuk dengan beragam suku dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika.

Masih banyak lagi ragam simbol dan terobosan yang terus digagas dan dicanangkan oleh bangsa ini untuk mentransformasikan nilai agar bangsa ini kelak bia sejajar dengan bangsa-bangsa lain yang sudah lebih dulu maju dan berkembang.

Yang terpenting lagi, bangsa Indonesia saat ini dan sampai kapanpun, tidak akan pernah berhenti mentransformasikan nilai-nilai Pancasila ke dalam sendi-sendi kehidupan bermasyarakat. Mengapa? Hal ini sudah menjadi konsensus para pendiri bangsa.

Pancasila sebagai perekat dan alat pemersatu. Oleh karena itu upaya mentransformasikan nilai Pancasila dalam kehdupan berbangsa merupakan sebuah keniscayaan.

Masih banyak lagi berbagai ikhtiar untuk mentransformasikan nilai-nilai ideal ke dalam kehidupan, baik sebagai individu maupun sebagai warga bangsa. Dalam konteks individu misalnya, transformasi nilai berawal dari upaya untuk memahami, belajar, merenung dan sebagainya untuk selanjutnya berwujud dalam bentuk keputusan untuk menjalankan kehidupan secara ideal atau yang semestinya.

Sebagai gambaran, ketika seseorang dengan sabar menjalani betapa sulitnya berjuang meraih gelar sarjana misalnya, maka pada saat yang sama ia tengah mentransformasikan nilai-nilai agama, mentransformasiikan nilai-nilai keteladanan dari para senior-seniornya yang telah lebih dulu meraih sarjana atau sudah meraih kehidupan yang lebih maju.

Dari uraian singkat di atas, maka dapat diperoleh gambaran bahwa upaya mentransformasikan nilai-nilai ideal dalam kehidupan ini, bukan hanya kebutuhan, bahkan sudah menjadi kudrat manusia sebagai manusia yang berakal.

Atau dengan kata lain, akal sehat berfungsi sebagai “mesin” yang mengolah berbagai komponen bahan untuk diramu menjadi sebuah formula sebagai asupan berpikir seseorang hingga melahirkan sikap dan tindakan yang konstruktif.

Dari perspektif singkat di atas, maka konstruksi berpikir seseorang sangat ditentukan oleh lingkungan dimana ia tinggal dan berinteraksi sehari-hari.

Orang yang hidup di tengah-tengah lingkungan yang aman, tenteram dan damai biasanya akan memiliki ekspresi kehidupann yang sejuk dan damai. Sebaliknya, seseorang yang berada dalam ruang lingkup kehidupan yang tidak baik, maka akan cenderung pula mengalami kontraksi sikap yang beresiko.

Mengapa? Karena akal berpikir seseorang sangat dipengaruhi oleh lingkungan di mana ia hidup dan berinteraksi.

Itulah sebabnya, upaya “mentransformasikan” nilai ke dalam kehidupan seseorang menjadi sangat urgen dimasyarakatkan.

Transformasi nilai dapat menjadi penyeimbang, sebagai terapi dan formula penting untuk melahirkan pikiran yang konstruktif. Bahkan lebih dari itu sangat berpengaruh besar terhadap kehidupan seseorang, baik saat ini dan masa depannya.

Paling tidak, setiap keluarga, sesibuk apapun tetap meluangkan waktu untuk keluarga, membimbing dan mengarahkan karakter anak-anaknya agar tetap terjaga dalam mentransformasikan niai-nilai kehidupan yang lebih baik.

Orang tua khususnya tidak boleh lalai dalam membina keluarga. Karena sesungguhnya keluarga adalah terminal kehidupan yang sangat berharga bagi siapapun. (***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *