Hidup, Antara Tuntutan dan Tuntunan

1345
ADV
10
Prof. Fory Armin Naway

Oleh :
Prof. Fory Armin Naway
Guru Besar UNG dan Ketua PGRI Kab. Gorontalo

Dalam hidup dan kehidupan ini begitu banyak hal yang menjadi tuntutan karena kebutuhan, keinginan dan ambisi. Itulah sebabnya hidup itu keras, butuh perjuangan dan pengorbanan. Hidup itu harus bergerak, berusaha dan bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup, yakni paling tidak, mampu menghidupi diri dan keluarganya, memenuhi kebutuhan bahkan keinginan yang menjadi sebuah tuntutan yang lumrah dan manusiawi yang melekat sebagai “kudrat” yang darinya manusia tidak bisa lari dan melepaskan diri.

Dari tuntutan hidup itu pulalah, dunia ini menjadi dinamis dan terus berkembang. Selama ummat manusia berpijak di muka bumi ini, siapapun dituntut untuk bertahan hidup, makan, minum dan memenuhi kebutuhan pangan dan sandangnya. Bukan hanya itu saja, manusia yang terdiri dari berbagai suku bangsa, juga memilki keleluasaan untuk menentukan nasib hidupnya menjadi apapun. Menjadi pejabat, profesional, politisi, pengusaha dan sebagainya. Jika ditelaah lebih dalam lagi, sungguh sangat besar karunia Allah untuk ummat manusia yang tiada batas dan tak terhingga yang menjadikan manusia seakan memiliki “otoritas” penuh atas diri dan hidupnya.

Selain memiliki tuntutan hidup, makan, minum, berpakaian dan tuntutan untuk memenuhi kebutuhan, keinginan dan berbagai tetek bengek yang sangat terkait dengan naluriah sebagai makhluk hidup, manusia juga memiliki “tuntunan hidup”.

Dalam pengertiannya, tuntunan hidup dapat dideifnisikan atau diposisikan sebagai “nilai, ruang dan koridor yang diperuntukkan sebaga pedoman, rujukan dan referensi untuk mengukuhkan eksistensi kemanusiaannya yang paling hakiki, baik sebagai makhluk Tuhan, makhluk yang dianugrahi akal yang memiliki kehormatan dan kemuliaan yang mampu menjadi pembeda dengan makhluk lainnya di muka bumi ini.

Dalam realitas kehidupan yang sesungguhnya, manusia memiliki “Nalar, Naluri dan Nurani”. Nalar dan nurani adalah dua dimensi yang melekat ke dalam diri setiap orang hingga mampu menelaah dan mencerna, mana tuntutan dan mana tuntunan. Nalar dan nurani diibaratkan seperti dua mata tombak yang tajam yang dihadirkan untuk melawan dan menghancurkan “superioritas” naluri hewaniah yang juga melekat dalam diri manusia.

Dalam banyak literatur tentang kemanusiaan, para ahli menyebut manusia sebagai “Makhluk primata” yang sangat cerdas. Ungkapan itu sesungguhnya bukanlah hinaan atau sindiran, tapi sebagai sebuah realitas hidup, bahwa manusia berpotensi mengikuti sifat dan karakter “hewani” bahkan lebih tragis dan kejam dari makhluk hewani sekalipun. Bahkan seorang filsuf dalam sebuah tulisannya mengatakan, manusia sebagai “homo sapiens” merupakan anggota “sub-trible hominina” yang terakhir dan masih satu keluarga dengan “simpanse gorila dan orang utan”.

Bahkan ada pendapat yang cukup radikal mengatakan, manusia adalah “hewan darat”, yang ditandai dengan postur tegak dan berjalan secara bipedal (dua kaki); memiliki ketangkasan yang tinggi dan terampil menggunakan alat berat dibandingkan hewan lain; menggunakan bahasa terbuka yang lebih kompleks dibandingkan komunikasi hewan lainnya; otak yang lebih besar dan kompleks daripada primata lainnya; serta peradaban yang sangat maju dan terorganisir.

Meski pendapat ini sering ditentang, namun dalam realitasnya terdapat fakta-fakta yang menunjukkan, bahwa naluri hewani memang melekat dalam diri setiap orang. Sebagai gambaran, sekejam apapun seekor harimau tidak pernah membunuh bayi yang dilahirkannya. Dalam banyak kasus, justru manusia ada yang tega “membuang atau membunuh bayi” yang dilahirkannya hanya karena satu dan lain hal yang terkait dengan “tuntutan”.

Hanya karena tuntutan juga, manusia terkadang “memangsa” manusia lainnya dengan cara yang berbeda, tidak harus menjadi “kanibal”, tetapi membunuh karakter musuh atau lawannya, mengintimidasi, meneror dan melakukan provokasi bahkan berusaha menyingkirkan atau menjatuhkan lawannya yang bahkan hal itu, tidak pernah dilakoni oleh kawanan burung yang menemukan pohon mangga yang berbuah lebat.

Itulah tragisnya manusia, keberadaan “makhluk hewani” yang sejatinya menjadi wahana atau tempat manusia untuk mengambil ibrah dan pembelajaran, justru terkadang “mencontoh” sifat-sifat hewani. Lagi-lagi sebagai gambarannya, hewan mengambil sesuatu yang bukan miliknya, perilaku manusia juga ada yang demikian. Hewan senang bertelanjang memprotontonkan auratnya, ada juga manusia yang terkadang mempertontonkan auratnya pada khalayak umum. Dan masih banyak lagi fenomena kehidupan manusia yang terkadang menggambarkan “potensi sifat kehewanian daripada kemanusiaannya.

Jika saja, seseorang itu memiliki “tuntunan” hidup, maka naluri hewani itu tidaklah muncul ke permukaan. Itulah sebabnya, manusia dianugrahi “nalar” agar hidup manusia memancarkan “nur” atau nurani sebagai cahaya kehidupan. Seseorang yang tidak menggunakan “nalar kemanusiaannya” akan selalu berada dalam dunia yang gelap”, ia terkadang kalap, menghalalkan berbagai macam cara untuk meraih ambisi dan keserakahannya. Dalam ungkapan yang lain dapat disebut, manusia yang selalu mengabaikan “tuntunan hidup” untuk sekadar memenuhi “tuntutan hidupnya” diibaratkan seperti “orang buta” yang tidak memancarkan cahaya kehidupan.

Antara tuntutan hidup dan tuntunan hidup, nilai koefisiensinya memiliki kadar yang sama. Memang benar, tuntutan hidup begitu besar, namun tuntunan hidup juga begitu luas dan mendalam. Semua itu terpulang pada kekuatan nalar manusia untuk memilih dan mengambil keputusan. Ungkapan yang mengatakan bahwa hidup itu penuh pilihan sungguh ada benarnya. Tetapi hidup tidak sekadar memilh tapi mengambil keputusan berdasarkan nalar berpikir yang sehat untuk memunculkan naluri kemanusiaan yang paling hakiki.
Kekuatan nalar sebagai manifestasi mengukuhkan eksistensi kemanusiaan seseorang, dengan demikian, patut dirawat dengan asupan nilai-nilai yang “menuntun” manusia ke jalan yang benar. Tuntutan hidup sungguh liar sehingga membutuhkan penuntun yang tepat.

Memenuhi tuntutan hidup memang penting, tapi lebih penting lagi adalah tuntunan hidup, karena hal itu sangat terkait erat dengan kehidupan sesudah hidup. Itulah sebabnya, orang bijak sering menasehati dengan ungkapan “jika hidup ini hanya mengejar duniawi (tuntutan hidup), maka engkau tidak akan mendapatan akherat. Namun sebaliknya, jika engkau mengejar akherat, (tuntunan hidup), maka kau akan mendapatkan dunia. Hanya akal atau nalar jualah yang mampu mendrive manusia selalu berada dan menempuh jalan yang benar agar hidupnya kelak memancarkan nur (cahaya) di kemudian hari. (***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *