Headlines

BI Gorontalo Berhasil Bina Petani Gorontalo Menggunakan Teknologi Digital Farming

611
×

BI Gorontalo Berhasil Bina Petani Gorontalo Menggunakan Teknologi Digital Farming

Sebarkan artikel ini
KEPALA Perwakilan BI Provinsi Gorontalo, Budi Widihartanto saat panen perdana Demplot Implementasi Digital Farming bersama ANSA dan Kelompok Tani Lamuta III. (foto/istimewa)

Pakai Pupuk Organik, Modal Kecil, Hasil Panen Dua Kali Lipat

GORONTALO (RAGORO) – Tidak selamanya penggunaan pupuk anorganik atau pupuk kimia bersubsidi lebih menguntungkan dari pada pupuk organik.

Buktinya, kelompok Petani Lamuta III di Desa Hutabohu dibawah binaan Bank Indonesia Provinsi Gorontalo, berhasil membudidayakan tanaman padi menggunakan pupuk organik dengan teknologi Digital Farming.

“dengan menggunakan pupuk organik dan teknologi Digital Farming ini, hasilnya pun luar biasa, modal kerjanya sedikit, tapi hasil panennya dua kali lipat dari pupuk kimia bersubsidi,” ujar Ketua Kelompok Tani Lamuta III, Arifin Talib, saat mendampingi Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Gorontalo, Budi Widihartanto, pada kegiatan Panen Perdana Demplot Implementasi Digital Farming Klaster Padi Organik Lamuta III, Desa Hutabohu, Kecamatan Limboto Barat, Kabupaten Gorontalo, Senin (10/1/2022).

Kelompok petani Lamuta III merupakan kelompok petani di Gorontalo yang telah mengimplementasikan teknologi Digital Farming yang diberikan oleh Bank Indonesia.

Dan kelompok Tani Lamuta III ini berhasil menjadi Klaster Ketahanan Pangan Terbaik Nasional dalam ajang Championship Klaster untuk kategori sub sektor tanaman pangan, yang telah diumumkan pada acara Pertemuan Tahunan Bank Indonesia 2021 dihadapan Presiden Republik Indonesia 24 November 2021 lalu.

Keberhasilan kelompo tani Lamuta III ini tidak terlepas dari pembinaan yang dilakukan Bank Indonesia Provinsi Gorontalo bekerjasama dengan Yayasan Anugerah Bangsa (ANSA) dibawah pimpinan Prof. Dr. Nugroho Widiasmadi, M.Eng.

Ketua kelompok tani Lamuta III, Arifin Talib mengakui, perbedaan yang jauh antara pengguna pupuk subsidi dan pupuk organik. Arifin mengaku, kalau menggunakan pupuk anorganik atau pupuk kimia bersubsidi, biaya kerja untuk satu hektar bisa sampai Rp7 juta, dengan hasil panen 5 ton.

Sedangkan kalau menggunakan pupuk organik, dalam satu hektar itu sudah paling banyak memakan biaya kerja Rp3 juta, tetapi hasilnya dua kali lipat yakni bisa mencapai 13,4 ton dalam satu hektar.

“biayanya murah meriah, hasilnya panennya dua kali lipat, dan aman untuk dikonsumsi karena menggunakan pupuk organik,” ujarnya.

Memang kalau dilihat, berdasarkan pada pengukuran panen dari Tim Ansa School bersama BPP selaku mitra Bank Indonesia dalam mengembangkan pertanian Gorontalo, menunjukan hasil yang sangat baik karena produktivitas mencapai di angka 8,37 Kg/6,25 m kuadrat atau jika dikonverasi ke hektar adalah sebesar 13,4 ton/Ha.

Hasil panen tersebut mencerminkan peningkatan 243% dari sebelum implementasi digital farming dan juga metode organik, karena Klaster Lamuta III biasanya hanya mampu produksi 5,5 ton/Ha. Hasil produktivitas ini diapresiasi oleh Tim Ansa karena Hasil ini lebih tinggi dari Cirebon 11 ton/Ha dan Sultra 10,5 ton/Ha.

Lebih lanjut, penggunaan total organik mampu menurunkan biaya produksi Hingga 50% bagi kelompok Lamuta III sehingga lebih menguntungkan. Prestasi ini membuktikan bahwa penggunaan metode Digital Farming dibarengi dengan metode Total Organik mampu meningkatkan produktivitas lahan sekaligus mengurangi biaya operasional.

Sebagi informasi tambahan bahwa penggunaan total organik tidak hanya untuk lahan komoditas tertentu, selain padi bisa juga untuk cabai, bawang, tomat, berbagai sayuran dan tanaman lainnya.

Sejatinya, petani sangat diuntungkan karena dengan bertani menggunakan metode total organik para petani bisa maju tanpa tergantung pada pupuk kimia bersubsidi.

Selanjutnya, manfaat dengan diimplementasikannya digital farming pada operasional pertanian adalah mempermudah pemantauan dan monitoring informasi kondisi dan kebutuhan lahan yang lebih tepat secara real time.

Ketepatan penyampaian informasi kepada petani yang menggarap lahan akan mempercepat pengambilan langkah preventif maupun represif terhadap masalah dalam penggarapan lahan.

Selain itu, informasi yang real time tersebut daapt membuat penggunaan pupuk, pembasmian hama, dan pengairan menjadi lebih efisien. Hasilnya, akan produksi pertanian tentunya akan meningkat dengan biaya pengelolaan yang semakin efisien.

Kepala Perwakilan BI Provinsi Gorontalo, Budi Widihartanto mengatakan, capaian prestasi ini merupakan bukti keseriusan petani di Gorontalo dalam mengelola pertanian yang inklusif, produktif, dan inovatif dengan memanfaatkan berbagai teknologi, baik dalam hal teknologi pemuliaan tanaman, pengolahan lahan, penggunaan digital farming dalam upaya peningkatan hasil produksi, serta penggunaan pupuk organik dalam mengatasi kelangkaan pupuk dan upaya efisiensi biaya produksi.

Prestasi tersebut juga merupakan bukti atas koordinasi, sinergi dan kolaborasi yang telah dilakukan oleh berbagai pemangku kepentingan yang dengan semangat gotong royong memberikan dukungan dan perhatian untuk meraih hasil yang terbaik.

Budi menambahkan bahwa raihan prestasi ini merupakan bukti keseriusan petani di Gorontalo dalam mengelola pertanian yang inklusif, produktif, dan inovatif dengan memanfaatkan berbagai teknologi

baik dalam hal teknologi pemuliaan tanaman, pengolahan lahan, penggunaan digital farming dalam upaya peningkatan hasil produksi, serta penggunaan pupuk organik dalam mengatasi kelangkaan pupuk dan upaya efisiensi biaya produksi.

“prestasi tersebut juga merupakan bukti atas koordinasi, sinergi dan kolaborasi yang telah dilakukan oleh berbagai pemangku kepentingan yang dengan semangat gotong royong memberikan dukungan dan perhatian untuk meraih hasil yang terbaik,” tutur Budi Widihartanto. (awal-46)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *