Perempuan dan Permata Kehidupan

606
ADV
10

Oleh : Fory Armin Naway
Guru Besar FIP UNG dan Ketua PGRI Kabupaten Gorontalo

DISEBAGIAN kalangan masih ada yang beranggapan bahwa perempuan identik dengan kelmah-lembutan, tidak berdaya dan tidak bisa melakoni pekerjaan berat lainya yang dilakoni oleh kaum laki-laki. Bahkan, masih ada yang berpendapat bahwa, sehebat apapun perempuan, baik pendidikan dan karirnya, tetaplah akan kembali ke dapur. Pendapat dan anggapan yang demikian, tidaklah prospektif dan kontradiktif dengan gerakan emansipasi atau gerakan kesetaraan gender yang menekankan tentang kesejajaran perempuan dengan laki-laki. Meski secara fisik, kaum perempuan tidak sekuat laki-laki, namun pikiran, peran dan kiprah perempuan setara bahkan dalam aspek-aspek tertentu melebihi kaum laki-laki.

Ditinjau dari aspek bahasa saja, perempuan berasal dri kata “Empu” yang artinya tuan, orang yang ahli, mahir, tuan, kepala, hulu, yang berkuasa atau yang paling besar. Dari sini dapat diperoleh gambaran bahwa perempuan memiliki potensi, sumber kekuatan yang sangat besar artinya bagi hidup dan kehidupan ini. Dari perempuanlah lahir seorang anak manusia, menyusui, mengasuh dan membesarkan anak-anaknya hingga tumbuh dewasa. Dari kaum perempuanlah siklus.kehidupan itu berproses secara terus-menerus dari generasi ke generasi. Kata perempuan dengan demikian berhubungan erat dengan kata “Ampu” yang artinya sokong, memerintah, penyangga, penjaga keselamatan yang sejajar dengan kewalian dalam arti yang lebih luas. Kata perempuan memiliki makna yang lebih bermakna, simbol kekuatan, pikiran, kiprah dan peran, baik dalam keluarga maupun di tengah masyarakat.

Hal ini berbeda jauh dengan istilah “wanita” yang secara etimologis berasal dari bahasa Sansekerta “Vanita” yang mengandung arti sebagai “yang diinginkan”. Kata wanita memiliki konotasi yang melemahkan kaum perempuan, karena hanya dipandang dan ditempatkan sebagai “obyek” yang menyenangkan saja. Istilah wanita atau kewanitaan merujuk pada sifat-sifat perempuan sebagai “putri” di Keraton yang identik dengan lemah-gemulai, sabar, halus, tunduk, patuh, mendukung, mendampingi dan menyenangkan pria. Istilah wanita yang menempatkan perempuan sebagai “yang diinginkan” terterima secara luas di kalangan masyarakat Jawa yang cenderung feodalis pada zaman dulu. Itulah sebabnya, di kalangan kaum feminim yang memperjuangkan hak-hak kaum perempuan, menggunakan istilah “emansipasi wanita”. Emansipasi secara bahasa mengandung arti pembebasan dari perbudakan. Oleh karena itu, instrumen penting yang mwnjadi rujukan siapapun bahwa perempuan mengandung dua dimensi kekuatan yang tidak boleh dipandang sebelah mata.

Kekuatan kaum perempuan, kisah tentang kehebatan perempuan dari zaman dulu hingga sekarang, bukanlah sebuah mitos, melainkan sebuah fakta yang sejatinya membangkitkan ruang kesadaran kepada siapapun untuk mensuport dan memberdayakan kaum perempuan dalam konteks yang lebih luas lagi. Dalam kerangka mewujudkan kemajuan, sebagaimana yang menjadi cita-cita bangsa ini, maka kaum perempuan dalam ranah kebangsaan dapat dipandang memiliki kekuatan yang menjadi modal dasar, sebagai tiang dan pilar membangun konstruksi kemajuan di semua bidang.

Demikian juga, dalam ranah individu-individu, kaum perempuan, sejatinya sudah harus bangkit menjadi sosok yang mengambil peran yang lebih, baik di tengah keluarga dan di tengah masyarakat. Perempuan dalam konteks penciptaannya merupakan permata kehidupan. Dalam setiap lekuk hidup perempuan, Tuhan menganugerahkan permata yang indah dan menawan. Jiwa perempuan menjadi cawan autobiografi bagi anak-anaknya yang kelak, kembali menjadi tunas mekar yang menanam benih kehidupan.Nabi Muhamad SAW, dalam sebuah haditsnya bersabda bahwa perempuan adalah tiang negara. Nietzsche bahkan berani menyebut bahwa kaum perempuan memiliki tingkat kecerdasan yang besar melebihi laki-laki.

Ajaran Budha melihat ibu sebagai putra kehidupan manusia. Tidak mengherankan, jika dalam perspektif Islam, perempuan diabadikan dalam Al-Quran, yakni Surat An-Nissa. Hal ini sekaligus menggambarkan, betapa kaum perempuan memiliki peran yang teramat penting bagi hidup dan kehidupan ini. Oleh karena itu, tidak ada ruang sedikitpun bagi siapapun untuk mendekonstruksi bangunan keutamaan perempuan, apalagi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dalam sejarah peradaban ummat manusia di dunia, kaum perempuan boleh disebut tampil sebagai nafas peradaban yang telah meniupkan ruh kelembutan, kedamaian dan kesejukan. Kendati di sisi yang lain, kaum perempuan di belahan dunia yang lain, juga terdapat sisi gelap sejarah yang meliqngkupinya. Namun untuk ke depan, kaum perempuan memiliki peran penting seiring terbukanya ruang kesadaran elemen masyarakat terhadap peran perempuan yang hakiki.

Hanya saja, yang menjadi persoalan adalah, mampukah kaum perempuan mengambil peran yang lebih penting dan strategis di tengah masyarakat. Pertanyaan ini layak diajukan untuk kemudian menjadi ruang bagi kaum perempuan untuk bangkit dan berbenah seingga memiliki keunggulan yang kompetitif. Tantangan terbesar kaum perempuan saat ini adalah, bagaimana menjaga permata kehidupan yang disandangnya agar tidak menjelma menjadi bumerang yang dapat menjebaknya ke dalam lembah nista. Dalam perspektif masyarakat Gorontalo, kaum perempuan mendapat tempat yang terhormat. Hal ini dapat dilihat dari berbagai instrumen peradatan yang diperuntukkan bagi kaum perempuan dalam kerangka memuliakan kaum ini bertengger dalam keabadian sebagai permata kehidupan. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *