IKOR UMGO Gelar Kajian Ilmiah Olahraga dan Kesehatan

546
ADV
10
kegiatan Kajian Ilmiah Program Studi (Prodi) Ilmu Keolahragaan (IKOR), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Gorontalo (UMGO), di gedung Haryono Suyono, LPPM UMGO.

KAMPUS (RAGORO) – Program Studi (Prodi) Ilmu Keolahragaan (IKOR), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Gorontalo (UMGO), Jum’at kemarin (19/11), melaksanakan kegiatan Kajian Ilmiah dengan Tema Olahraga dan Kesehatan di Gedung Haryono Suyono, LPPM UMGO.

Kaprodi IKOR, Gilang Ramadan, M.Pd dalam pengantarnya menyampaikan, bahwa tujuan dari kajian ilmiah ini adalah untuk menambah pengetahuan dan wawasan khususnya mahasiswa IKOR yang baru dua angkatan. “Alhamdulillah, belum lama ini 6 dosen IKOR sudah ikut pelatihan AA dan PEKERTI. Kami juga sudah membuat 6 bahan buku ajar yang ber ISBN, menerbitkan 6 artikel di jurnal teragreditasi sehingga bisa meningkatkan akreditasi prodi dan institusi untuk kemajuan kampus. Jelas, kami serius membangun Ikor yang hebat dan maju,” terangnya.

Sementara itu, Wakil Rektor III, Dr. Apris Ara Tilome dalam sambutannya menyampaikan, kegiatan ini adalah kali kedua dirinya mengikuti kajian ilmiah yang dilaksanakan prodi IKOR dengan tema Olahraga dan Kesehatan.

“Semoga hasil kajian ini tidak hanya menjadi pemenuhan pengetahuan dan akreditasi saja, tetapi bermanfaat untuk masyarakat dan bisa dilaksanakan sehari-hari. Hasil penelitian dan kajian harus bisa dipromosikan dan bermitra dengan prodi lain, contohnya dengan prodi kesehatan, sejauh mana efektif olahraga dalam perbaikan tulang,” paparnya.

Sesuai pantauan awak media, yang bertindak sebagai narasumber ialah Sulasikin Sahdi Kadir, M.Pd. Dalam materinya dia menyampaikan, bahwa anak usia dini haruslah bahagia, sehingga dalam pembinaan olahraga tidak disarankan untuk memberikan spesialisasi cabang olahraga.

“Untuk usia dini lebih ditekankan ke multilateral, artinya mengenalkan berbagai macam olahraga dengan sentuhan permainan. Nanti 12-18 tahun baru ada spesialisasi, sehingga prestasinya bisa meningkat setelah usia 18 tahun. Jika dibalik, spesialisasi dilakukan diawal memang prestasinya akan cepat, namun memiliki dampak negatif lebih banyak, diantaranya cepat bosan, rentang cedera, dan yang paling parah secara anatomi fisiologi maupun psikologi belum siap. Intinya olahraga sesuai dengan usia dulu,” tutupnya. (rg-63/HMS)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *