KAMPUS (RGNEWS.COM) – Yayasan Pendidikan Duluwo Limo Lo Pohala’a memperingati milad ke-45. Dimulai sejak 16 Oktober 2026, rangkaian pelaksanaan milad resmi berakhir, Selasa (20/10) malam.
Rektor Universitas Gorontalo (Unigo) Dr. Robby Hunawa, S.IP.,M.Si menegaskan, di usia yang sudah dewasa ini, yayasan harus terus menjadi lembaga pendidikan yang menghidupkan budaya lokal sebagai bagian dari kebudayaan nasional.
Dalam sambutannya, Rektor Unigo menyampaikan, peringatan milad ke-45 tahun ini mengambil tema MAKUTA yang merupakan akronim dari Mandiri, Unggul, Kompetitif, Adaptif, Kreatif, dan Berbudaya.
“Saya kira tema ini tepat dan cocok untuk peringatan 45 tahun ini. Sejak saya menjadi rektor, salah satu visi kami adalah menjadikan kampus ini sebagai kampus yang menghidupkan pembudayaan lokal,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pembudayaan lokal merupakan bagian daripada kebudayaan nasional yang dijamin oleh negara. Pasal 32 UUD 1945 mengamanatkan negara untuk menjaga, melestarikan, dan mengembangkan kebudayaan daerah.
Menurutnya, Unigo di bawah naungan Yayasan Pendidikan Duluwo Limo Lo Pohala’a telah memulai berbagai upaya pembudayaan, salah satunya dengan menggunakan kalender bahasa lokal.
Selain itu, kampus juga telah melaksanakan kegiatan seperti seminar budaya dan seminar sejarah Duluwo Limo Lo Pohala’a.
“Kita ingin memperkenalkan kepada generasi muda kita, khususnya mahasiswa, bahwa kita harus tahu dari mana kita berasal. Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati dan menghargai budayanya,” katanya.
Ia mengingatkan, jika generasi muda tidak mengenal asal-usulnya, maka mereka akan kehilangan jati diri dan nilai-nilai luhur sebagai penuntun dalam hidup.
“Oleh sebab itu, saya kira budaya atau adat istiadat itu adalah nilai-nilai lokal jenius yang justru mengangkat dan memuliakan kita sebagai bagian dari manusia dan kehidupan bermasyarakat,” tegasnya.
Di era digitalisasi dan kecerdasan buatan (AI) yang berkembang begitu cepat, Rektor menekankan pentingnya menanamkan pemahaman adat dan budaya kepada mahasiswa agar mereka tidak menjadi generasi yang lepas kontrol.
“Kami di Universitas Gorontalo selalu memastikan setiap kegiatan harus bersentuhan dengan adat dan budaya. Hal ini bukan untuk menghidupkan primordialisme, tetapi justru sebagai tanggung jawab kita untuk bangga menjadi daerah dan bangsa yang memiliki budaya,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan selamat milad ke-45 kepada Yayasan Pendidikan Duluwo Limo Lo Pohala, serta mengapresiasi para pengurus, pembina, pengawas, dan rektor-rektor sebelumnya yang telah menjaga keberlangsungan yayasan dari generasi ke generasi.
“Pak pembina dan pengurus bisa berakhir masa jabatannya, termasuk saya. Tetapi apapun itu, kita harus memiliki nilai-nilai yang bisa kita wariskan kepada generasi penerus,” pungkasnya. (*)











