Rifai Ali: 45 Tahun YP-DLP Warisi Semangat Perdamaian Hulondalo dan Limutu

31
ADV
10

KAMPUS (RGNEWS.COM) – Ketua Dewan Pengurus Yayasan Pendidikan Duluwo Limo Lo Pohala’a (YP-DLP) Gorontalo, Dr. Rifai Ali, S.KM.,M.Kes, mengajak seluruh keluarga besar yayasan untuk merenung sejenak tentang sejarah berdirinya yayasan 45 tahun lalu.

Hal itu disampaikan Rifai dalam sambutannya pada Milad ke-45 YP-DLP Gorontalo di Halaman Kampus Universitas Gorontalo (Unigo), Jumat (16/19/2026).

“Saya ingin kita merenung sebentar saja. 45 tahun yang lalu, 20 Oktober 1981. Di ruang-ruang sempit, beberapa tokoh pendidik, tokoh masyarakat, tokoh pemikir berkumpul dengan segenap impian yang ada di dalam pikiran mereka,” kata Rifai.

Menurut Rifai, saat itu fasilitas sangat minim, bahkan finansial sangat kurang. Namun ada satu hal yang menyala di mata para tokoh itu: sebuah mimpi yang besar.

Mimpi itu lahir dari kegelisahan. Para tokoh melihat banyak anak muda Gorontalo saat itu yang harus menembus lautan, merantau jauh ke Jawa, ke Sulawesi Utara, bahkan ke Selatan, hanya untuk mencicipi bangku kuliah.

“Kegelisahan itu selalu ada di dalam pikiran dan hati mereka. Sehingga mereka berkumpul untuk bersama-sama memikirkan, kenapa kita tidak bangun menara ilmu di kampung dan tanah kita sendiri,” ujar Rifai.

Dengan tekad kuat dan semangat yang membara pada saat itu, para tokoh itu mendirikan sebuah rumah tempat bernaung yang hari ini disebut Yayasan Pendidikan Duluwo Limo Lo Pohala’a.

Rifai menekankan, nama itu bukan sekadar rangkaian kata tanpa arti. Ada sejarah panjang yang luar biasa dalam peradaban Gorontalo.

Dua kerajaan besar, Kerajaan Hulondalo dan Limutu, bertarung selama dua abad lamanya. Tetapi akhirnya sampai pada titik kesadaran, mereka menurunkan pedang lalu berikrar untuk bersama-sama berdamai demi kemajuan masa depan.

“Di antara sekian banyak bahasa Hulondalo, di antara sekian banyak falsafah hidup orang Gorontalo, tetapi kenapa yang dipilih adalah Duluwo Limo Lo Pohala’a. Sampai hari ini saya kemudian sedikit memahami bahwa ternyata para pendiri yayasan ini mendasarkan pada ikrar uduluwo limo lo pohala’a bahwa kehancuran itu akan terjadi kalau kita terpecah belah,” kata Rifai.

“Kegagalan itu akan selalu ada kalau kita tidak pernah bersatu. Tetapi kejayaan, kesuksesan, dan keberhasilan akan sama-sama kita raih kalau kita bersatu padu dalam membangun negeri ini,” ujarnya.

Oleh karena itu, 45 tahun perjalanan YP-DLP, Rifai ingin mewarisi semangat itu bahwa persatuan Yayasan Duluwo Limo Lo Pohala’a dan Universitas Gorontalo adalah harga mati.

“Kita ingin warisan semangat Duluwo Limo Lo Pohala’a melalui ikrar tadi, senantiasa membangun perdamaian dan persatuan di lingkungan Yayasan dan Universitas Gorontalo ini,” tegasnya.

Rifai juga mengajak pada momentum 45 tahun Milad ini untuk sama-sama mengikatkan kembali genggaman tangan, menyatukan kembali jiwa dan semangat di antara semua pihak.

“Tidak boleh lagi ada orang-orang yang merasa besar. Tidak boleh lagi ada orang-orang yang menjadi raja absolutis. Kita ingin sama-sama membangun yayasan dan universitas yang jauh lebih besar,” kata Rifai.

“Mari sama-sama kita bawa sayap Yayasan Pendidikan Duluwo Limo Lo Pohala’a ini untuk terbang tinggi, jauh lebih tinggi lagi. Mudah-mudahan dengan sayap ini melangkah lebih tinggi melintasi batas-batas daerah dan kewilayahan menuju panggung dunia untuk ikut berkontribusi pada peradaban yang lebih besar,” ujarnya.

Makuta hari ini diambil sebagai simbol, bukan hanya sekadar simbol pada kepala, tetapi simbol bagaimana berpikir untuk menjadi lembaga yang besar yang memberikan kontribusi pada peradaban.

“Universitas Gorontalo melalui yayasan ini, Insya Allah akan selalu pada koridornya melalui ajaran dan semangat warisan Duluwo Limo Lo Pohala’a Gorontalo,” tutup Rifai. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *