BONGOHULAWA

708
ADV
10

Oleh: Prof.Fory Armin Naway
Guru Besar UNG dan Ketua Kwarda Gerakan Pramuka Kabupaten Gorontalo

BONGOHULAWA, Kecamatan Limboto, Kabupaten Gorontalo, akhir-akhir ini tidak hanya populer di kalangan masyarakat Gorontalo, tapi juga mulai dikenal di tingkat nasional. Hal ini dipicu oleh keberadaan Bongohulawa, sebagai lokasi bumi perkemahan satu-satunya di Gorontalo yang setiap tahunnya menjadi pusat pelaksanaan kegiatan perkemahan Pramuka yang tercetus di era pemerintahan Bupati Ahmad Hoesa Pakaya. Setelah itu, pada tahun 2017 di era pemerintahan Bupati Nelson Pomalingo, bumi perkemahan Bongohulawa dicanangkan sebagai lokasi “Science Laboratorium”, yakni laboratorium alam, tempat penelitian atau riset keilmuan bagi para peneliti yang memiliki ketertarikan pada  dunia flora yang dapat memberikan sumbangsih perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tidak hanya itu saja,.tahun 2018, Bongohulawa menjadi pusat pencanangan Kelapa sebagai komoditi unggulan nasional yang dihadiri oleh hampir 200 orang kepala daerah penghasil kelapa di Indonesia yang tergabung dalam organisasi Koalisi Pemerintah Daerah Penghasil Kelapa (KOPEK) yang diketuai Bupati Nelson Pomalingo. Mulai tahun 2018 juga, Bongohulawa menjadi  lokasi pembangunan Arena Sirkuit “sang Profesor”, pertama dan satu-satunya di Provinsi Gorontalo yang saat ini sudah dimanfaatkan oleh para pecinta olahraga otomotif, khususnya  para racer, tidak hanya dari Gorontalo tapi juga dari daerah lain di Indonesia. Banyak kalangan yang menilai bahwa pembangunan Sirkuit Sang Profesor di Bongohulawa merupakan terobosan  visioner yang dapat membawa nama Gorontalo hingga ke kancah nasional dan mancanegara. Bahkan boleh disebut, Bongohulawa ke depan akan menjadi arena  yang menantang bagi para atlit balap motor di tingkat regional Sulawesi bahkan nasional untuk menguji kemampuan dan nyali para atlit pecinta olahraga motor. Paling tidak, hal ini dapat membawa dampak signifikan bagi perputaran ekonomi masyarakat di kawasan Bongohulawa, Limboto dan Gorontalo pada umumnya. Tidak heran, jika terobosan Pemerintah Kab. Gorontalo ini mendapat apresiasi sebagai program dan kebijakan yang visioner dan jangka panjang. Artinya, Dampak positifnya ke depan, tidak hanya mengorbitkan nama Gorontalo di kancah olahraga otomotif nasional, tapi juga dampak ekonomi bagi masyarakat dan daerah. Selain itu, keberadaan sirkuit ini ke depan, dapat menjadi spirit bagi anak muda Gorontalo yang memiliki minat dan bakat di bidang olahraga balap motor untuk menekuni dan berprestasi di bidang ini hingga mampu mengharumkan nama Gorontalo di masa-masa mendatang. Karena visi dan manfaatnya yang demikian, prospektif tersebut, maka tidak mengherankan pula, Menteri Pemuda dan Olahraga Zainudin Amali yang juga putra Gorontalo telah memberikan isyarat untuk membantu pengembangan sirkuit ini ke depan. Bongohulawa dengan begitu, ke depan tidak hanha menjadi “kelapa emasnya” Gorontalo, tapi Bongohulawa telah mendesain dan mencerminkan dirinya sesuai dengan nama yang disandangnya. “Bongo” artinya kelapa dan hulawa artinya emas, adalah 2 jenis komoditi yang sangat penting dan berharga. Bongo yang melekat pada nama kawasan ini, sangat nyata terpatri dalam gerakan Pramuka yang berlambangkan “Tunas Kelapa”. Tunas kelapa yang dalam bahasa Gorontalo disebut “Tomula” yang bermakna “awal mula”, adalah cikal bakal atau  awal kehidupan yang harus ditanam sehingga  akan terus bertumbuh memberikan manfaat bagi kehidupan di sekitarnya. Sementara kata hulawa, telah dan ke depan akan  menjelma menjadi “Ekonomi Masyarakat” (Emas) yang darinya masyarakat di kawasan ini menuai berkah ekonomi atas keberadaan faailitas yang dibangun di kawasan ini. Apalagi Pemerintah Kab. Gorontalo ke depan  berencana akan mengembangkan kawasan Bongohulawa sebagai kawasan “Satelit Pendidikan” yang mengarahkan dan siap memfasilitasi setiap perguruan tinggi untuk membangun kampusnya di kawasan ini. Bongohulawa dengan demikian, ke depan akan menjadi salah satu kawasan penyangga perekonomian masyarakat Gorontalo. Bahkan lebih dari itu, Bongohulawa akan menjadi tempat, dimana generasi muda Gorontalo ditempa dengan karakter dan budi pekerti yang luhur. Kemudian  ditempa dengan asupan ilmu pengetahuan  dan teknologi yang nantinya menjadi spirit peradaban Gorontalo. Semua itu seakan terilhami oleh namanya sebagai Bongohulawa atau kelapa emas yang secara filosofis mengandung nilai dan hakekat yang sungguh bermakna. Bongo dalam tataran masyarakat Gorontalo, pohon, buah dan batangnya memiliki manfaat dan kegunaan yang multifungsi. Hampir semua produk turunan pohon kelapa  bernilai ekonomi jika diolah dengan baik. Itulah sebabnya, kelapa sebenarnya merupakan emas kehidupan yang sudah terbukti berabad-abad lamanya menjadi sandaran kehidupan umat manusia. Tidak heran, jika para leluhuri Gorontalo sendiri, telah mengabadikan Bongo sebgai nama-nama kampung, sebagai nama dusun dan desa, diantaranya ; bongo nol, bongomeme, bongoime, bongongobungo dan di Limboto ada Bongohulawa yang berarti kelapa emas yang kini, dengan nama itu, kawasan ini  tengah didesain oleh Pemerintah Kab. Gorontalo sesuai dengan namanya sehingga kelak menjadi salah satu kawasan  penyangga ekonomi masyarakat (emas)nya Gorontalo. Sungguh sebuah terobosan yang prospektif untuk masa depan daerah ini. Semoga. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *