GORUT (RGNEWS.COM) – Setiap kali musim panen tiba, Amir (52), seorang petani di Gorontalo Utara, selalu diliputi rasa was-was.
Bukan soal hasil panen yang melimpah, melainkan soal harga jual yang kerap anjlok.
“Kalau panen banyak, harga jatuh. Kalau harga bagus, hasilnya sedikit. Kami petani sering bingung,” keluhnya.
Keresahan seperti yang dialami Amir bukanlah cerita baru. Persoalan klasik petani dari tahun ke tahun selalu berulang, panen raya justru menjerumuskan mereka dalam kerugian.
Pasar yang tidak pasti menjadi momok terbesar, sehingga bertani sering kali terasa seperti berjudi.
Di momentum Hari Tani Nasional, Anggota DPRD Kabupaten Gorontalo Utara dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Fitri Yusup Husain, memberikan catatan penting.
Ia menyoroti hadirnya Dapur MBG yang diyakini bisa menjadi solusi nyata bagi keresahan petani.
“Dapur MBG bisa menjadi pembeli tetap hasil pertanian lokal. Petani tidak kesulitan mencari pembeli karena ada offtaker langsung. Harga pun lebih stabil, tidak mudah anjlok,” ujar Fitri, Rabu (24/9)
Menurutnya, kebutuhan rutin dan besar dari Dapur MBG memungkinkan petani merencanakan pola tanam dengan lebih pasti.
“Pendapatan mereka bisa lebih terukur, sementara standar kualitas yang ditetapkan mendorong petani meningkatkan hasil pertanian sesuai prinsip Good Agricultural Practices,” ungkap Fitri.
Lebih jauh, Fitri menekankan, skema Petani, Dapur MBG, Konsumen dalam hal ini siswa akan menciptakan rantai nilai ekonomi lokal.
“Uang berputar di daerah, tidak lari ke luar. Inilah semangat bertani, makmur, dan bersyukur,” pungkasnya. (*)











