Kwarcab Bantah Tidak Ada Tekanan dan Intervensi di Pramuka Kabgor

433
ADV
10
{"remix_data":[],"remix_entry_point":"challenges","source_tags":["local"],"origin":"unknown","total_draw_time":0,"total_draw_actions":0,"layers_used":0,"brushes_used":0,"photos_added":0,"total_editor_actions":{},"tools_used":{},"is_sticker":false,"edited_since_last_sticker_save":false,"containsFTESticker":false}

KABGOR – Secara mengejutkan ketua Kwarcab Kabgor Prof. Forry Bawah mengundurkan diri usai surat pengunduran dirinya beredar di beberapa WAG.

Dikutip disalah satu media online lokal, sosok srikandi ini mundur jauh hari sebelum desakan mundur dari para Kwaran, pengurus kecamatan meminta Musyawarah Luar biasa atau Muslub.

Dilansir disana, alasan Prof. Forry mundurnya dia karena kini memilih jalur politik, hingga mengatakan ada sebuah intervensi petinggi dan tekanan bagi ASN pengurus Kwarcab.

Buru-buru ini dibantah keras Justaman Van Gobel atau akrab disapa Kak Vecky salah satu Pengurus Kwarcab Kabupaten Gorontalo.

Vecky mengungkapkan bahwa sepanjang permasalahan tidak ada intervensi baik dikatakan dari sosok petinggi atau ada tekanan bagi ASN.
” Tidak ada itu. Saya didalam, saya merasakan itu sama sekali tidak ada, ” Ujarnya.

Kalau soal adanya dinamika, Vecky melihat itu ada. Namun itu semua adalah hal yang biasa di satu organisasi. Juga di kepramukaan. ” Itu biasa, ” Ucapnya.

Justru dari dinamika itu, Ia ( Vecky ) menyuarakan agar Kwarcab menyikapi dinamika ini dengan membahasnya secara internal Oleh Semua Pengurus Kwartir Cabang Kabupaten Gorontalo sebagaimana beliau harapkan di WAG Kwarcab

” Saya melihat ini hanya hal teknis. Yang itu mungkin diselesaikan intern. Sebab melihat hanya perbaikan sistem saja. Ada semacam ketidak puasan dari para Kwaran ” Pungkas Vecky.

Vecky juga menyayangkan ketika ini disuarakan. Hampir dua kali Kwaran menyurat, dimana Ka Vecky Mempertanyakan Sikap Pengurus Kwarcab Dengan Adanya Surat dari Kwaran – Kwaran melalui WAG dengan maksud agar membahasnya secara internal, akan tetapi tidak mendapat respon balik sehingga isu Muslub mulai kencang.

Namun demikian, sikap Kak Forry harus juga dihargai. Memilih bergabung dalam partai politik, itu adalah hak pribadi, dan semua harus menghormatinya.

Soal mundur, di ingatan Vecky, juga pernah terjadi di jaman Kak Sofyan Puhi sewaktu jadi wakil bupati. Beliau pun pernah menerima suara suara kwaran untuk mundur, dan beliau legowo, dengan kepala tegak mengikhlaskan. ” Walaupun beliau juga masih cukup lama kala itu. Tapi tidak ribut seperti ini, ” Tandasnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *