BEM FKM Unigo Berkomitmen Cegah Penyebaran HIV/AIDS di Lingkungan Kampus

1165
ADV
10
Bersama KPA dan Pemerintah Provinsi Gorontalo serta pihak universitas dan fakultas, BEM FKM berkomitmen mencegah penyebaran HIV/AIDS di lingkungan kampus Unigo. (Foto : rgnews.com_istimewa)

KAMPUS (RGNEWS.COM) – HIV/AIDS masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat yang memerlukan perhatian serius, termasuk di lingkungan Universitas Gorontalo.

Dan sebagai bagian dari civitas akademika yang peduli terhadap kesehatan dan kesejahteraan bersama, Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Gorontalo (BEM FKM Unigo) di bawah kepemimpinan Rendy Rianto berkomitmen kuat meningkatkan kesadaran serta mendorong pemeriksaan dini terkait HIV/AIDS melalui program edukasi dan pemeriksaan yang rutin dan menyeluruh.

Rendy menyebut, penyebaran HIV/AIDS yang tidak terkendali dapat memberikan dampak yang luas, tidak hanya bagi individu yang terinfeksi, tetapi juga bagi lingkungan sosial dan akademik.

“Di Universitas Gorontalo, kami memahami pentingnya menciptakan lingkungan yang aman, sehat, dan bebas dari stigma serta diskriminasi terhadap orang dengan HIV/AIDS (ODHA),” ujarnya.

Oleh karena itu, melalui kegiatan edukasi, BEM FKM kata Rendy berupaya memberikan informasi yang akurat dan terpercaya mengenai HIV/AIDS, termasuk cara penularan, metode pencegahan, serta pentingnya pemeriksaan dini.

“Edukasi ini kami kemas dalam berbagai bentuk kegiatan, mulai dari seminar, diskusi, penyebaran materi edukatif hingga kampanye di lingkungan kampus,” imbuhnya.

Selain edukasi, lanjut kata Rendy, pemeriksaan HIV/AIDS merupakan langkah krusial untuk deteksi dini yang dapat membantu mencegah penyebaran virus lebih lanjut dan memberikan kesempatan bagi ODHA untuk mendapatkan pengobatan dan pendampingan yang tepat.

Oleh sebab itu, BEM Fakultas Kesehatan Masyarakat juga bekerja sama dengan unit kesehatan universitas dan lembaga terkait untuk menyediakan layanan pemeriksaan HIV yang bersifat sukarela, rahasia, dan gratis bagi seluruh civitas akademika Universitas Gorontalo.

“Kami mendorong mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan untuk berani mengetahui status kesehatannya tanpa rasa takut dan stigma,” kata Rendy.

“Kami juga menegaskan bahwa stigma dan diskriminasi terhadap ODHA adalah hal yang harus kita lawan bersama,” sambungnya.

Stigma tidak hanya merugikan individu yang hidup dengan HIV/AIDS, tetapi juga menghambat upaya pencegahan dan penanganan penyakit ini secara efektif.

“Dengan menumbuhkan sikap empati, inklusivitas, dan solidaritas di lingkungan kampus, kami percaya Universitas Gorontalo dapat menjadi contoh institusi pendidikan yang mendukung kesehatan dan hak asasi manusia,” kata Rendy.

Untuk itu, pihaknya mengajak seluruh civitas akademika Universitas Gorontalo untuk berperan aktif dalam setiap program yang dijalankan BEM FKM Unigo kami, baik sebagai peserta edukasi maupun sebagai pendukung pemeriksaan HIV/AIDS.

“Partisipasi aktif dari mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan sangat dibutuhkan agar tujuan bersama yakni kampus yang sehat, aman, dan peduli terhadap isu HIV/AIDS dapat terwujud,” jelasnya.

Lebih lanjut Rendy dan pengurus BEM FKM Unigo berkomitmen untuk terus mengembangkan dan memperluas jangkauan program ini agar semakin banyak masyarakat kampus yang sadar dan terlindungi dari risiko HIV/AIDS.

“Kami yakin bahwa dengan kerja sama, kesadaran, dan kepedulian bersama, kita dapat membangun masa depan yang lebih sehat dan lebih baik bagi seluruh civitas akademika Universitas Gorontalo,” pungkasnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *