Adnan Entengo dan Jejak Rekam Politisi ‘Aruti’ Budi Pekerti

718
ADV
10
{"remix_data":[],"remix_entry_point":"challenges","source_tags":["local"],"origin":"unknown","total_draw_time":0,"total_draw_actions":0,"layers_used":0,"brushes_used":0,"photos_added":0,"total_editor_actions":{},"tools_used":{"transform":1},"is_sticker":false,"edited_since_last_sticker_save":true,"containsFTESticker":false}

KABGOR – ‘Aruti Tio. Ti Pak Adnan Ta Hintua Lingoli. Ami Woliyo. Aruti Da’a’. Kalimat itu memiliki arti yang dalam. Artinya cukup bermakna kalau diartikan.

” Halus orangnya (budi pekerti). Pak Adnan yang kalian mau tanya. Torang deng dia. Halus orangnya,” Begitu kurang lebih makna dari bahasa Gorontalo yang disampaikan sosok tokoh di Limboto, Guru Raman. Yang akrab disapa Guru. Sosok yang aktif juga dalam kegiatan religius.

Mendengar ceritanya itu, mungkin ada benarnya. Adnan Entengo memang dikenal halus budi pekertinya. Nyaris tak ada cerita miring bagi sosok agamais itu, sampai saat ini berkarier.

Di DPRD Kabupaten Gorontalo dahulu, orang mulai kenal dengan nama Adnan Entengo. Paling sering disapa Ustad, sosok berjenggot tipis ini sering menjembatani apa yang menjadi aspirasi masyarakat kala itu.

Karier itu terpupuk rapi. Sendiri menjadi wakil partainya PKS, mampu membuka generasi wakil rakyat lainnya dengan menambah kursi di DPR.

Hijrah ke DPR Provinsi ternyata dukungan suara masyarakat Kabupaten Gorontalo khususnya Limboto Cs tetap ada, bahkan lebih dari sebelumnya di Kabgor.

Ternyata posisi itu mampu dipertahankan. Dukungan rakyat tetap ada untuk periode berikutnya. Bahkan untuk ketiga kalinya, hingga beliau memilih maju di Pilkada.

Jika karier politik itu terus mulus bukan karena apa apa. Kehalusan budi pekertilah sepertinya yang muncul dan mampu mencuri perhatian publik.

Kehalusan dan kesantunan itu memang yang menjadi tolak ukur rakyat. Apalagi kultur Gorontalo suka orang yang demikian. Kebaikan dan kebaikan seorang Adnan Entengo itu memang paling dikenal orang. Sama sekali tidak diselain itu.

Jika seorang Guru Raman bercerita begitu. Maka itu adalah kebenaran.
Yosep Ismail mengatakan itu kebenaran yang memang ada buktinya. ” Dan itu lewat keseharian sosok Adnan selama ini, ” Kata Yosep.

Pak Ustad. Semoga sebutan itu akan membawa kebaikan bagi daerah lewat Pilkada kali ini bersama Roni Sampir, yang juga sama baiknya.

” Memang sosok Pak Adnan bukan manusia sempurna. Tapi kata orang, jika kita dihadapkan pada pilihan yang sama baiknya. Maka pilih yang kebaikannya agak lebih. Itu sebaik-baik pilihan.” Tutup Yosep. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *