Beras dan Cabe ‘Jebol Pertahanan’ Inflasi  di Gorontalo Naik 1,32 %

827
ADV
10
Pj gubernur Gorontalo Ismail Pakaya saat memimpin rapat koordinasi Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) serta Wali Kota Gorontalo, di Ruang Otanaha Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Gorontalo, Senin (8/1) kemarin. (photo Kominfotik)
  • Editor     : Sahril Rasid
  • Penulis   : Sri Fatmwar Dama

GORONTALO (RG.COM) – Upaya penerintah Provinsi Gorontalo menekan inflasi di tahun 2023 akhirnya jebol dengan tingginya inflasi di Gorontalo khususnya di Bulan Desember 2023 lalu  yang mencapai 1,32 persen.

Inbi merupakan anggka inflasi tertinggi yang dipicu naiknya harga beras dan bumbu dapur seperti cabe dan harga tomat dan lainnya.  Sebelumnya Provinsi Gorontalo masuk 5 besar daerah inflasi terendah di Indonesia.

Inilah yang menjadi pembahasan Pj Gubernur dengan  Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) serta Wali Kota Gorontalo, di Ruang Otanaha Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Gorontalo, Senin (8/1) kemarin.

Pj Gubernur Ismail Pakaya saat itu meminta saran dan masukan terkait hal yang perlu dilakukan agar Inflasi tidak terus melonjak.

Pasalnya, sepanjang tahun 2023 berbagai program kegiatan telah dilakukan pemerintah untuk mencegah naiknya angka inflasi,

 Tapi diakhir tahun ekonomi Gorontalo jebol dengan tingginya inflasi Gorontalo yang mencapai 1,32 persen.

“apa yang harus dilakukan oleh kami Pemprov dan Pemkot Gorontalo? Karena kalau hanya pasar murah, kami ini sudah gelar pasar murah, bahkan di Desember itu ada kami buat beberapa kali,’ kata Pj Gubernur Ismail Pakaya

Dikatakannya, untukk menekan inflasi tidak melonjak. Pemerintah Provinsi Gorontalo telah melakukan berbagai intervensi pasar.

Seperti melepas beras subsidi,juga gelaran pangan murah yang digelar Bappenas. Tapi seperti tidak berpengaruh menekan tingginya harga beras dan cabe dipasaran.

“ Jangan sampai ada anggapan pemerintah Provinsi Gorontalo tidak bekerja sepanjang tahun 2023, padahal sudah jor Joran,” tegas pj Gubernur.

Untuk itu ia berharap di tahun 2024 ini seluruh komponen termasuk pemerintah kabupaten kota bekerja sama untuk mengantisipasi sejak dini.

Diakuinya, belajar dari tahun 2023 mungkin perlu ada perbaikan terhadap metode program kegiatan dan juga pengambilan sampel untuk laporan BPS.

Di tahun 2024 ini Pemda, BI, BPS dan seluruh pihak yang tergabung dalam TPID juga dianggap perlu membahas dan mencari solusinya agar tidak terjadi seperti ditahun 2023.

“seluruh program yang sudah kita jalankan di 2023, di tahun ini juga akan terus kita laksanakan. Tapi perlu ada duduk bersama dulu, kita juga harus memperbaiki metode, fokus kita juga kita ubah. Titik perhatian perlu kita fokuskan pada akhir tahun, agar tidak terjadi lagi jebol seperti tahun ini,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Perwakilan BI Gorontalo Dian Nugraha menyebut melonjaknya inflasi Gorontalo di bulan Desember juga dipicu oleh kemarau panjang yang melanda Gorontalo sejak Oktober 2023. Hal tersebut menurutnya mengakibatkan penurunan pasokan di daerah. Selain itu dipicu pula oleh kenaikan harga cabai rawit jelang Nataru. ******

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *