Siti Faradila Ali, Penghafal Al-Qur’an 23 Juz

573
ADV
10
PENGHAFAL AL-QUR'AN cilik, Siti Faradila Ali saat berada di lokasi pelaksanaan MTQ X Provinsi Gorontalo (F.Afik/Diskominfo)

CATATAN:

Taufik Asnawi (Pranata Humas Ahli Muda)

NAMANYA Siti Faradila Ali, sekolah di SDN 4 Paguyaman masuk kelas Lima. Penghafal Al-Qur’an ini punya cita-cita sederhana, ingin masuk Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Islam Gorontalo setelah lulus sekolah dasar. Karena di pesantren tersebut akan menggratiskan biaya sekolah jika bisa menghafal Al-Qur’an. Siti Faradila Ali, penghafal Al-Qur’an 23 juz ini adalah anak tukang tarik kabel Wifi. Siti nampak duduk sendiri di pelataran Taman Taqwa dekat panggung utama MTQ ke X tingkat Provinsi Gorontalo di Kabupaten Bone Bolango. Mengenakan baju muslimah berwarna biru dan berkerudung merah. Siti duduk memandang lepas ke arah danau Taman Taqwa. “assalamualaikum de,” sapa tim Kominfo Bone Bolango yang saat itu bergerak ke arah panggung utama MTQ untuk meliput agenda lomba MTQ. Adik peserta MTQ? “iya” jawabnya. Lomba apa tanya kami lagi. “lomba hafalan Al-Qur’an 20 juz,” katanya. Kami mematung, takjub, melihat Siti anak kecil sederhana yang punya kemampuan luar biasa. Kami pun langsung berdialog dengan Siti, tentang teknik menghafal dan motivasinya. “saya jadi penghafal Al-Qur’an dari kelas satu SD sampai sekarang, alhamdulillah sudah 23 juz,” kata Siti dengan suara lirih. Lantas, apa motivasi jadi penghafal Al-Qur’an? “ini bermula saat nonton hafidz Al-Qur’an di salah satu TV swasta nasional, disitu tersentuh hati saya untuk jadi penghafal Al-Qur’an,” tuturnya. Siti bercerita, sejak kelas satu sekolah dasar, Siti mulai menghafal Al-Qur’an. Namun sebelumnya, sejak usia dini, Siti sudah dikenalkan dengan Al-Qur’an oleh kedua orang tuanya. “sejak PAUD sudah hafal Iqro, saat duduk di bangku taman kanak-kanak sudah lancar membaca Al-Qur’an,” ucapnya. Jadi penghafal Al-Qur’an cilik, belajar dimana? Motivasinya apa? Siti menjawab, dia hanya belajar di rumah bukan di pesantren maupun rumah Tahfiz. “saya belajar di rumah bersama bapak,” ujarnya. Bapak seorang hafidz juga? “tidak, bapak hanya jamaah masjid biasa,” katanya dan menceritakan ayahnya bekerja sebagai  tukang tarik kabel wifi, sementara ibunya, menjadi ibu rumah tangga. Siti anak tertua dari tiga bersaudara. Siti punya dua adik, yang satu masih berusia tujuh bulan dan adik yang satu usianya tahun. Saat ini sudah Iqro enam. Terus siapa yang latih untuk menghafal Al-Qur’an? Tanya kami lagi. “bapak juga yang latih,” katanya, walaupun bapak bukan penghafal Al-Qur’an, tapi bapak yang mendampingi dan mengajari.
Bagaimana dengan teknik menghafal? “kalau saya menghafal Al-Qur’an pakai Qur’an hafalan yang ada blok-bloknya, setiap blok itu saya baca sampai 40 menit kemudian dihafal, kalau lupa dibaca lagi,” ujarnya sambil senyum. Kisah Siti terbilang unik, penghafal Al-Qur’an, tapi kesehariannya di sekolah negeri, bukan di rumah Tahfiz. Lantas bagaimana kesehariannya? Siti menjawab dengan detail setiap pagi salat subuh kemudian menghafal Al-Qur’an, setelahnya persiapan ke sekolah dari pagi hingga siang. Pulang sekolah sehabis Dzuhur, mengulang hafalan sewaktu subuh, kemudian main bersama teman-teman, sore hari mengulang hafalan lagi ‘muharoja’. Punya target apa ke depan? “targetnya kalau sudah di SMP ingin masuk pondok pesantren Al-Islam di Kota Gorontalo, kenapa di situ, karena hafidzah minimal 15 juz sudah gratis,” katanya sambil tersenyum girang. Target sederhana untuk anak berkemampuan luar biasa. Doa kami untuk Siti. Salam hormat untuk ibu dan bapakmu. *

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *