GORUT (RAGORO) – Lahan persawahan seluas kurang lebih 50 hektare di wilayah Kecamatan Biau, butuh perhatian pemerintah. Lahan yang biasanya dimanfaatkan oleh masyarakat dari 3 (tiga) desa, yakni Desa Didingga, Bualo dan Omuto itu, kini belum bisa digunakan secara reguler untuk melakukan aktivitas pertanian. Pasalnya, saluran irigasi yang biasanya dialiri air untuk mengairi persawahan tersebut dalam kondisi rusak parah.
“Lahan tersebut merupakan areal persawahan yang saat ini sudah tidak ada lagi pasokan air yang masuk, karena kondisi saluran irigasinya yang sudah rusak parah,” ungkap Rahmat Rahman, salah seorang Aleg Dapil Tolinggula Cs, ketika berbincang dengan awak media, belum lama ini. Memang diakui Rahmat, lahan tersebut tak sepenuh tak bisa digunakan. Artinya, dengan kondisi saat ini, maka hanya dimanfaatkan oleh petani untuk menanam jagung. Padahal, lahan tersebut semula adalah lahan persawahan untuk menanam padi.
“Lahan tersebut masih produktif, dan karena tidak ada suplai air, maka masyarakat petani memanfaatkannya untuk menanam jagung,” terang Rahmat. Lahan yang biasanya mendapat suplai air dari Sungai Didingga itu, untuk saat ini belum bisa dialiri air, karena infrastrukturnya tidak lagi mendukung. “Sehingga untuk tahun anggaran 2022, diharapkan infrastruktur penunjangnya dapat dibangun.
Karena bagaimana pun ini juga menjadi kebutuhan masyarakat petani yang ada di sana. Sehingga saya kira, ketika infrastrukturnya terbangun, maka produksi pangan akan meningkat,” harapnya. Oleh karena itu, kondisi tersebut membutuhkan perhatian dari instansi teknis terutama untuk lahan pertanian produktif yang butuh saluran irigasi. (RG-56)











