Festival Budaya Benteng Orange, Kebangkitan Pariwisata di Masa Pandemi

498
ADV
10
Wabup Gorut, Thariq Modanggu saat hadir membuka Festival Budaya Benteng Orange, Sabtu (20/11) akhir pekan kemarin. (Foto : hmskominfo_gorut)

GORUT (RAGORO) – Festival Budaya Benteng Orange yang untuk pertama kalinya digelar, menurut Wakil Bupati Gorontalo Utara (Wabup Gorut), Thariq Modanggu menjadi satu hal yang luar biasa. “Ini menandai kebangkitan pariwisata di era pasca PSBB dan PPKM. Di mana, saat ini, kita berada di PPKM Level 1. Artinya, masih terbilang aman dari penyebaran Covid-19,” ungkap Thariq Modanggu kepada awak media, usai membuka Festival Budaya Benteng Orange, Sabtu (20/11) akhir pekan kemarin.

Ini merupakan kali pertama sejak ditetapkan sebagai cagar budaya di Gorontalo Utara (Gorut), Benteng Orange yang terletak di Desa Jembatan Merah, Kecamatan Tomilito menggelar event budaya yang dilabeli pentas seni dan musik tradisional serta kuliner tradisional. Sehingga atas nama pemerintah daerah, Thariq memberikan support dan apresiasi yang luar biasa terhadap semua pihak yang terlibat dalam mensukseskan festival tersebut. Mulai dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Gorontalo, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Gorut, Pemerintah Kecamatan Tomilito, dan Desa Jembatan Merah.

“Apalagi bukan hanya sekadar menampilkan kekokohan dan sejarah dari Benteng Orange. Namun, festival itu juga diisi dengan workshop dan FGD tentang Benteng Orange, kemudian ada pentas seni dan musik tradisional, olah raga serta kuliner tradisional,” tuturnya. Pihaknya berharap dan yakin, Benteng Orange ini merupakan satu-satunya di Gorontalo Utara yang khas. Artinya, berbasis sejarah yang kuat ditambah dengan view yang luar biasa indahnya. “Sehingga, menurut kami, ini tinggal membutuhkan keseriusan sentuhan kemasan. Tentu ini akan menjadi satu sajian wisata yang khas di Gorontalo Utara, dan akan terkait dengan berbagai tempat,” ujarnya.

Oleh karena itu, pihaknya juga berharap, FGD yang dilaksanakan betul-betul melahirkan sebuah konsep pengembangan wisata di Benteng Orange atau Benteng Leiden tersebut secara terukur dan berkesinambungan. “Begitu juga dengan kegiatan pentas seni. Kami harap ini juga bisa lebih melestarikan,” tambahnya. Jadi, menurut hemat Wabup Thariq, dari festival tersebut, ada dua sasarannya sekaligus. Yakni, melestarikan budaya, kemudian melestarikan peninggalan ini (Benteng Orange) sebagai satu khasanah yang menunjukkan betapa Gorontalo Utara sejak zaman dahulu kala telah menjadi destinasi. “Ini yang kita pertahankan.

Sehingga, keindahan ini bisa berbuah menjadi pendapatan masyarakat sekitar dan juga daerah,” tukasnya. Yang pasti pemda kata Thariq, akan mendukung keberlangsungan event tersebut, terlebih merawat satu dari empat cagar budaya yang telah ditetapkan di Gorut tahun ini. “Kami minta bahwa secara berjenjang pemerintah desa juga mulai penggunaan dana desa untuk benteng tersebut, terkait pariwisata saya kira bisa diarahkan,” kata Thariq. “Yang kedua, kami juga minta kepada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan untuk memberikan kajian tentang apa saja yang harus kita lakukan dalam rangka event festival budaya Benteng Orange ini, supaya juga mendapatkan porsi anggaran di 2022,” pungkasnya. (RG-56)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *