Rolli Paramata: Duluwo Limo Lo Pohala’a Adalah Filsafat Persatuan yang Dititipkan Leluhur

42
ADV
10

KAMPUS (RGNEWS.COM) – Nama adalah doa. Nama adalah ikrar. Di balik nama Yayasan Pendidikan Duluwo Limo Lo Pohala’a (YP-DLP) Gorontalo, tersimpan sebuah filsafat peradaban yang jauh melampaui sekadar identitas kelembagaan.

Pembina YP-DLP Gorontalo, Dr. Moh. Rolli Paramata, SE., MM, membongkar lapisan filosofis itu dalam sambutannya pada pembukaan Milad ke-45 YP-DLP di Halaman Kampus Universitas Gorontalo, Jumat (16/10/2026).

“Untuk masa depan yang lebih baik, kami merasa yayasan ini adalah yayasan yang dititipkan kepada kita yang hadir saat ini untuk bisa memaknai secara filosofi tentang keberadaan yayasan ini,” kata Rolli membuka renungan.

Menurut Rolli, nama YP-DLP tidak lahir dari ruang hampa. Ia adalah hasil pemufakatan para tokoh adat. Sebuah pilihan sadar yang mengandung makna filosofi yang cukup tinggi. Para leluhur tidak sekadar memberi nama, mereka menitipkan cara berpikir, cara hidup, dan cara memandang dunia.

“Karena itu kami yang hadir di tempat ini ingin mengejawantahkan semangat dan keinginan dari para leluhur untuk terus mempertahankan dan menjaga tradisi adat dan budaya kita,” ujarnya.

Adat Gorontalo, bagi Rolli, bukanlah sekadar seremoni atau tontonan. Ia adalah sistem nilai yang sudah memiliki filsafat yang tinggi tentang tata krama, tata kehidupan, dan tata peradaban.

Ironinya, kita mengejar gelar tertinggi, PhD — Philosophy of Doctor — ke berbagai penjuru dunia, tetapi melupakan bahwa filsafat yang paling esensial justru berada di halaman rumah kita sendiri.

“Kita terlalu mengagung-agungkan ilmu pengetahuan yang bersumber dari masyarakat Barat. Padahal nilai-nilai yang perlu kita kaji untuk menjawab tantangan ke depan ada di sekitar kita. Sayang, itu kita telantarkan,” kata Rolli.

Penelantaran itu, menurut Rolli, bukan hanya kelalaian, tetapi pengingkaran terhadap jati diri. Ketika kita meninggalkan adat, kita meninggalkan cara kita memahami manusia, alam, dan Tuhan.

Karena itu YP-DLP bertekad bulat mengawal adat dan budaya Gorontalo sebagai filsafat yang perlu dipertahankan, untuk menjaga marwah dan martabat masyarakat Gorontalo.

“Keberadaan yayasan ini adalah perwujudan dari keinginan yang luhur. Anda, kita semua adalah orang yang diamanahkan untuk meneruskan tradisi dan adat budaya ini,” tegasnya.

“Kami berharap acara ini tidak hanya jadi tontonan, tetapi jadi perenungan. Bahwa kita hidup di tengah adat dan budaya yang memang menjadi pedoman bagi masyarakat Gorontalo,” kata Rolli.

Ia menutup sambutannya dengan harapan yang filosofis sekaligus puitis: semoga acara ini memancing turunnya hujan yang sudah lebih kurang lima bulan tidak hadir — seolah alam pun merindukan kita kembali kepada akar. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *