UNIGO Resmi Bentuk Lembaga Pelestarian Budaya Gorontalo

53
ADV
10

Jadi Laboratorium Adat Gorontalo

KAMPUS (RGNEWS.COM) – Lembaga Pelestarian Budaya di Yayasan Duluwo Limo Lo Pohala’a Gorontalo Universitas Gorontalo resmi terbentuk.

Lembaga ini bukan lembaga adat tandingan. Posisinya sebagai laboratorium. Tempat belajar, menggali, dan mengenalkan adat, seni, dan budaya Gorontalo secara akademik.

“Jadi tujuan lembaga ini akan menjadi laboratorium bagaimana kita belajar mengenal adat budaya Gorontalo. Ke depan kita bisa memberikan referensi bagaimana tentang adat budaya Gorontalo itu,” ujar Bendahara Lembaga Pelestarian Budaya UNIGO Dr. Dra. Hj. Alwaritz Nggole, M.P di ruang kerjanya, Senin (28/9/2026).

Menurutnya, kampus butuh ruang khusus untuk menjelaskan budaya Gorontalo kepada tamu, mahasiswa, dan masyarakat umum.

“Biasanya ada tamu akan berkunjung, kita bisa menjadi tempat kita bercerita, kita menjelaskan. Lembaga ini sebagai laboratoriumnya,” katanya.

Untuk Mata Kuliah dan Karakter Modelo

Pelestarian budaya ini juga akan menopang mata kuliah di UNIGO.

“Kami juga sebagai dosen yang akan mengampu mata kuliah ilmu budaya daerah Hulontalo. Pengenalan kita terhadap adat, seni, dan budaya Gorontalo itu semakin maksimal,” jelasnya.

Pendirian lembaga ini, kata dia, sejalan dengan yayasan itu sendiri. Yayasan Duluwo Limo Lo Pohala’a berangkat dari adat dan budaya Gorontalo.

Ini juga relevan dengan visi misi Rektor UNIGO tentang karakter Mo’odelo.

“Mo’odelo itu adalah hal-hal yang terbaik yang kita harus temukan, kita pelihara. Sehingga ini merupakan satu komponen yang saling melengkapi. Dengan adanya lembaga pelestari adat dan budaya ini, kita semakin mencintai Gorontalo dengan membumikan sejarah-sejarah tentang Gorontalo itu sendiri,” ujarnya.

Tidak Intervensi Lembaga Adat

Ia menegaskan, lembaga pelestarian budaya UNIGO tidak akan bersinggungan dengan lembaga adat yang sudah ada di masyarakat.

“Kami tidak akan mengintervensi ranah yang sudah ada. Ada lembaga adat, itu tidak akan bersinggungan dengan kami karena kami memang cuma laboratoriumnya. Mengenal, menggali, melestarikan, dan mengembangkan sehingga budaya Gorontalo ini akan memperkaya khasanah budaya Nusantara dari Gorontalo untuk Indonesia,” tegasnya.

Kolaborasi Kampus dan Adat

Terkait kolaborasi, ia menyebut kampus dan lembaga adat bisa saling kontrol dan melengkapi.

“Visi misi Pak Rektor itu membentuk generasi berkarakter mo’odelo. Modelo kita perkenalkan biar mereka familiar. Di lembaga adat, bicara adat, bicara budaya itu ada tutur kata, budi pekerti yang bagus, yang santun. Itu yang kita tumbuhkan,” katanya.

Menurutnya, jika kampus punya misi berkarakter modelo, lembaga pelestarian adat menjadi kontrol nilai.

“Ini barangkali satu kolaborasi yang sangat baik sekali,” ujarnya.

Ia berharap, setelah UNIGO dikenal sebagai kampus perjuangan dan perjuangan itu sudah selesai, kini saatnya melesatkan harapan lewat pelestarian budaya.

“Saya sebagai bendahara mudah-mudahan kita ini akan bisa sama-sama membangun Gorontalo. I love you Gorontalo. Itu berarti kita mengenal jati diri kita dari budaya,” tutupnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *