In Memoriam Habu Wahidji, Menulis Bahasa Suwawa, Membangun Pendidikan

71
ADV
10

GORONTALO (RGNEWS.COM) – Habu Wahidji telah berpulang. Namun sebagian dari pikirannya masih tinggal dalam buku, bahasa, dan lembaga pendidikan yang pernah ia rawat.

Drs. H. Habu Wahidji meninggal di RSUD Prof. Dr. H. Aloei Saboe, Selasa, 25 Agustus 2026, sekitar pukul 13.00 WITA. Ia berusia 84 tahun.

Bagi keluarga besar Yayasan Pendidikan Duluwo Limo Lo Pohala’a (YPDLP) dan Universitas Gorontalo, Habu adalah bagian dari sejarah panjang perguruan tinggi itu. Ia dikenal sebagai pendidik, pendiri, dan pembina yayasan yang menaungi Universitas Gorontalo.

Tetapi jejak Habu tidak berhenti di lingkungan kampus.

Lebih dari empat dekade lalu, namanya tercatat sebagai penulis Struktur Bahasa Suwawa, buku yang diterbitkan Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa pada 1981.

Habu menulis buku itu bersama M.M. Kasim, Mansoer Pateda, Husain Junus, dan Nani Tuloli.

Buku itu menjadi bagian dari upaya mendokumentasikan bahasa Suwawa.

Di tengah perubahan zaman, pekerjaan semacam itu menjadi penting: mencatat bahasa yang hidup di tengah masyarakat sebelum sebagian pengetahuan tentangnya hilang bersama generasi.

Habu juga terlibat dalam penelitian tentang kemampuan membaca dan menulis murid kelas VI sekolah dasar di Gorontalo.

Hasil penelitian tersebut diterbitkan pada 1985 dengan judul Kemampuan Berbahasa Indonesia (Membaca dan Menulis) Murid Kelas VI Sekolah Dasar di Daerah Gorontalo. Nama Habu tercatat sebagai salah satu anggota tim peneliti.

Arsip Kementerian Pendidikan juga mencatat karya lain yang melibatkan Habu, antara lain penelitian tentang bahasa Atinggola, dialek Tilamuta, dialek Bune Bonda, dan geografi dialek bahasa Gorontalo.

Dari catatan-catatan itu, terlihat sisi Habu yang mungkin tidak selalu tampak dalam jabatan formalnya: seorang pendidik yang juga memberi perhatian pada bahasa dan pengetahuan lokal.

Ia lahir di Tapa, Bone Bolango, pada 1940. Perjalanan hidupnya kemudian banyak bersentuhan dengan pendidikan.

Ia pernah memimpin Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Gorontalo, salah satu bagian dari perjalanan yang kemudian mengarah pada berdirinya Universitas Gorontalo.

Habu juga pernah menjadi anggota DPRD Provinsi Gorontalo periode 2001-2004 melalui Partai Golkar.

Namun setelah semua jabatan itu selesai, ada sesuatu yang tetap bertahan: karya.

Buku-buku yang mencantumkan namanya masih tersimpan di perpustakaan dan arsip.

Penelitian yang pernah dikerjakannya masih dapat dibaca. Bahasa yang pernah ia bantu dokumentasikan masih dituturkan.

Di situlah seorang pendidik menemukan cara lain untuk tetap hadir.

Habu tidak lagi berada di ruang kelas, ruang rapat yayasan, atau lingkungan kampus.

Tetapi pengetahuan yang pernah ia bantu susun masih bisa ditemukan oleh orang-orang yang bahkan tidak pernah berjumpa dengannya.

Mungkin itulah bentuk pengabdian yang paling panjang.

Seseorang pergi, tetapi pekerjaannya membuat orang lain terus belajar.

Bagi YPDLP dan Universitas Gorontalo, kepergian Habu adalah kehilangan seorang tokoh yang ikut menyaksikan dan membangun perjalanan lembaga pendidikan tersebut.

Bagi dunia kebahasaan di Gorontalo, ia meninggalkan catatan yang jauh lebih tua daripada banyak generasi yang kini mengenal namanya.

Habu Wahidji telah menyelesaikan perjalanan hidupnya.

Tetapi namanya masih bisa ditemukan di antara halaman-halaman buku.

Dan selama halaman itu dibuka, bahasa itu dipelajari, serta pendidikan terus diteruskan, sebagian dari jejak Habu akan tetap hidup.

Selamat jalan, Habu Wahidji.

Anda pergi, tetapi tulisan dan pengabdian Anda memilih untuk tinggal. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *