Alim Niode: Wisuda Adat Unigo Terobosan Baru

35
ADV
10

GORONTALO (RGNEWS.COM) – Ketua Harian Dewan Adat Gorontalo, Alim S. Niode, menilai prosesi Wisuda Angkatan XXVIII Universitas Gorontalo (Unigo) yang mengadopsi rangkaian upacara adat Pohutu sebagai sesuatu yang baru dalam tradisi adat maupun pendidikan tinggi.

Alim mengatakan dalam tradisi Pohutu tidak dikenal prosesi wisuda. Sebaliknya, dalam tradisi wisuda perguruan tinggi juga tidak lazim menggunakan rangkaian adat seperti yang diperagakan Unigo.

“Dari sisi adat, ini sesuatu yang baru. Dalam rangkaian upacara adat yang disebut Pohutu, itu tidak mengenal wisuda. Dalam hal wisuda juga lazimnya tidak mengenal seperti yang tadi,” kata Alim saat menghadiri prosesi wisuda Unigo, Sabtu, 8 Agustus 2026.

Menurut dia, kebaruan tersebut tidak berarti bertentangan dengan adat. Justru, langkah Unigo dinilainya sebagai terobosan dalam menjadikan nilai lokal sebagai bagian dari identitas perguruan tinggi.

“Jadi ini, kedua sisinya sama-sama baru, tapi bukan berarti tidak boleh. Kita paham bahwa ini suatu terobosan baru,” ujarnya.

Alim menilai Unigo memiliki pendekatan yang berbeda karena menjadikan nilai-nilai lokal sebagai salah satu dasar visi kampus. Menurut dia, tidak banyak perguruan tinggi di Indonesia yang secara serius menempatkan pengetahuan lokal sebagai bagian dari arah pengembangan institusi.

Ia kemudian membandingkan langkah tersebut dengan sejumlah perguruan tinggi di luar negeri yang telah memiliki pusat kajian khusus mengenai masyarakat adat dan pengetahuan lokal.

Di Australian National University, misalnya, terdapat National Centre for Indigenous Studies dan Centre for Indigenous Policy Research. Sementara University of Melbourne memiliki Indigenous Knowledge Institute.

“Di sini tadi akan ada lembaga pelestarian adat Gorontalo. Alhamdulillah UG bisa memprakarsai ini. Ini levelnya bukan hanya nasional, tapi internasional,” kata Alim.

Menurut dia, sejumlah perguruan tinggi di Amerika Serikat dan Kanada juga mulai memasukkan Indigenous Knowledge dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Karena itu, Alim berharap langkah Unigo tidak berhenti pada prosesi seremoni. Nilai adat dan pengetahuan lokal, kata dia, perlu diterjemahkan ke dalam kurikulum, program studi, hingga penelitian.

“Tadi itu dalam bentuk upacara, tapi saya yakin di dalam kurikulum, di dalam program studi berdasarkan omongan seminar lalu, menjadi mata kuliah wajib. Riset-riset juga begitu,” ujarnya.

Ia menilai integrasi nilai lokal ke dalam pendidikan, penelitian, dan pengembangan ilmu pengetahuan dapat memperkuat karakter Unigo sekaligus menjaga keberlanjutan pengetahuan adat Gorontalo.

“Banyak hal yang kemudian mendaraskan pada visi kampus, itu luar biasa,” tutur Alim. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *