GORUT (RAGORO) – Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Gorontalo Utara (Gorut), Thariq Modanggu optimis daerah yang dipimpinnya akan bangkit dan lebih baik ke depan.
Namun demikian, tanpa didasari komitmen yang kuat dari seluruh pihak, terlebih aparatur, maka tentu harapan atau pun cita-cita tersebut sulit, bahkan tidak bisa dicapai. Dan komitmen terhadap disiplin menurut Thariq adalah kunci atas peningkatan produktifitas pelayanan dan pembangunan.
Untuk itu, pada apel kerja di awal bulan April sekaligus bulan Ramadhan 1443 Hijriah, Senin (4/3) kemarin, Thariq kembali menyuarakan pentingnya kedisiplinan terhadap pegawai.
Tiga hal yang ditekankannya, terkait kedisiplinan, yakni, disiplin waktu, kemudian disiplin target dan disiplin kinerja. “Disiplin waktu tentu itu kaitan erat dengan ketepatan waktu masuk kerja.
Dan disiplin waktu ini mempengaruhi disiplin kinerja, termasuk disiplin target,” jelasnya.
Ia mengajak para aparatur, baik ASN maupun PTT di lingkungan Pemerintah Kabupaten Gorontalo Utara (Pemkab Gorut) untuk menanamkan 3 hal dalam pelayanan. Yang pertama, disiplin itu nikmat.
“Kenapa jadi kenikmatan, karena ada kebersamaan. Ada suatu suasana yang lain yang kemudian dapat menjadi motivasi untuk berkembang lebih baik. Nah, itu yang dimaksud disiplin itu nikmat,” terangnya. Kedua, bangga berprestasi. Artinya, setiap keberhasilan atas kinerja yang dicapai, ada kenikmatan tersendiri dan itu sejalan dengan core ASN BerAKHLAK “bangga melayani bangsa”.
Pada kesempatan itu, Ia pun meminta Sekretaris Daerah (Sekda) untuk menyiapkan reward bagi pegawai atau pun OPD yang berprestasi. Sehingga itu, Ia mengatakan pihaknya akan menyiapkan SK Tim penilai Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP), termasuk daftar hadir dan jurnal kegiatan.
“Jangan yang berprestasi nilainya sama dengan yang tidak berprestasi. Artinya, tiga aspek penilaian, yakni disiplin waktu, disiplin target dan disiplin kinerja, jadi tolok ukur,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan agar inovasi daerah yang sempat disclaimer untuk tidak terulang lagi. “Makanya soal koordinasi itu penting.
Namun, demikian terhadap koordinasi tersebut, tidak boleh juga pimpinan menolak ketika ada ide dari bawahan.
Hargai ide dan prestasi yang datangnya dari setiap pegawai di bawahnya,” tukasnya.
Hal terakhir yang kemudian ditekankannya terkait kedisiplinan itu, setiap pegawai harus mempunyai komitmen yang sama bahwasanya setiap 1 rupiah harus produktif dan akuntabel.
“Artinya, sekecil apapun nilai rupiah terhadap pelayanan dan pembangunan, namun itu harus bermanfaat dan juga dapat dipertanggungjawabkan,” pungkasnya. (RG-56)











