GORONTALO (RGNEWS.COM) – Tak banyak yang tahu, menjelang akhir hayatnya, almarhum Prof. Dr. H. Rustam Hs Akili, SE.,SH.,MH masih menyempatkan waktu menyalurkan ide menulis buku.
Meski dalam kondisi sakit (waktu itu), jiwanya sebagai seorang pengajar tetap tumbuh.
Niat besarnya menyebarluaskan ilmu pengetahuan tak bisa dihentikan.
Dengan tekad yang kuat dan bermodalkan ide dan gagasan, almarhum memanfaatkan lisannya yang semakin lemah (waktu itu) untuk menyampaikan bait kata demi kata.
Kini, bait kata itu mampu dan tulus diterjemahkan menjadi karya monumental oleh Dr. Roy Marthen Moonti, SH.,MH, dosen tetap Fakultas Hukum Universitas Gorontalo.
Buku ini berjudul “Pengantar Hukum Indonesia ; Fondasi, Struktur dan Dinamika”.
Meski hanya sekadar menyampaikan, penulisan buku ini, sepenuhnya menjadi ide dari almarhum Prof Rustam Akili.
“Semua ide full dari almarhum. Saya hanya menuliskan saja, karena beliau sakit,” ungkap Dr. Roy via pesan singkat WhatsApp, Kamis (3/7) malam.
Dr. Roy sempat menceritakan singkat kisah menghanyutkan hati mengenai penulisan buku ini.
“Jadi, 2 hari sebelum meninggal, almarhum memanggil saya untuk menghadap. Almarhum menjelaskan ide buku ini, mulai dari judul sampai dengan sub babnya,” ungkap Dr. Roy.
Karena dalam keadaan sakit, almarhum kata Dr. Roy meminta dirinya untuk coba menulis ide tersebut untuk dibukukan.
“Ternyata 2 hari setelah pertemuan itu beliau meninggal. Dan saya tetap melanjutkan penulisan buku ini,” kisah Dr. Roy mengenang pertemuan terakhir kala itu.
Menulis buku ini, menurut Dr. Roy tak sekadar amanah yang wajib diselesaikan. Tapi, penuh makna mendalam dari akhir perjuangan almarhum Prof Rustam Akili di dunia pendidikan.
Makanya, saking haru suasana hatinya menulis buku ini, dirinya mengaku, tak bisa menahan air mata yang mengalir.
“Saya menulis buku ini, selalu meneteskan air mata,” kata Dr. Roy.
Kini, setelah ISBN telah terbit, buku dengan tebal 266 halaman itu dalam proses percetakan melalui penerbit Mata Kata Jogjakarta.
“Buku ini akan dilaunching pada saat pelaksanaan wisuda tanggal 10 Juli (tepat milad Unigo ke- 24). Ini sebagai bentuk penghormatan terhadap karya monumental almarhum Prof RA yang terakhir kalinya,” tutur Dr. Roy. (*)











