Headlines

Gorontalo, Indonesia’s Forest and Other Land Use (FOLU) Net Sink 2030

118
×

Gorontalo, Indonesia’s Forest and Other Land Use (FOLU) Net Sink 2030

Sebarkan artikel ini
Plt. Direktur Jenderal Planologi Kehutanan dan Tata Lingkungan (PKTL) KLHK menyerahkan bibit pohon kepada Pj Sekdaprov Sukri Botutihe (f.kominfo)

GORONTALO (RG.COM) – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan kembali mensosialisasikan Indonesia’s Forest and Other Land Use (FOLU) Net Sink 2030 di daerah. Kali ini giliran Provinsi Gorontalo menyelenggarakan sosialisasi tersebut bertempat di Gedung Grand Palace Convention Center, Kota Gorontalo, Rabu (15/3).

Plt. Direktur Jenderal Planologi Kehutanan dan Tata Lingkungan (PKTL) KLHK, Ruandha A. Sugardiman menjelaskan FOLU Net Sink 2030 adalah sebuah kondisi yang ingin dicapai melalui penurunan emisi GRK dari sektor kehutanan dan penggunaan lahan dengan kondisi dimana tingkat serapan sama atau lebih tinggi dari tingkat emisi.

“Global warning ini mengakibatkan berbagai akibat, salah satunya adalah perubahan iklim yang nyata² sudah terjadi saat ini. Akibat yang kita alami adalah kenaikan temperatur yg signifikan, adanya iklim anomali, kemudian terjadi beberapa kenaikan permukaan air laut, dan sekarang sudah kita alami adalah terjadinya kelangkaan air, energi, dan pangan,” jelas Ruandha.

Upaya Indonesia untuk mencapai Indonesia’s FOLU Net Sink 2030 sendiri perlu diikuti dengan alokasi lahan yang selektif dan terkontrol untuk pembangunan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan yang adil dan merata.

Sementara itu, Penjabat Sekretaris Daerah Provinsi Gorontalo Syukri Botutihe menyampaikan untuk mendukung aksi mitigasi dan adaptasi ini, Provinsi Gorontalo juga telah didukung dengan tersusunnya dokumen Rencana Aksi Daerah (RAD) Emisi Gas Rumah Kaca (GRK).

Adapula terbentuknya Tim Koordinasi dan Kelompok Kerja penyusunan RAD-GRK Provinsi Gorontalo yang disahkan melalui SK Gubernur Gubernur Nomor 185/20/IB/2012, dengan melibatkan beberapa perangkat daerah terkait, unsur perguruan tinggi, LSM, BUMN/BUMD dan organisasi kemasyarakatan.

“Kebijakan untuk mendukung aksi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim perlu terus ditingkatkan dan lebih terstruktur lagi, mulai dari tingkat nasional, provins hingga Kabupaten/kota, serta pihak terkait lainnya. Diharapkan kita dapat melakukan aksi bersama untuk melindungi, melestarikan serta memulihkan alam dalam memberikan manfaat untuk adaptasi dan mitigasi iklim sembari memastikan perlindungan sosial dan lingkungan,” jelas Syukri.

Adapun sosialisasi FOLU Net Sink 2030 akan berlangsung selama dua hari dan akan dilanjutkan dengan penyusunan rencana kerja indonesia’s FOLU Net Sink 2030 Provinsi Gorontalo. Sosialisasi dan renja Folu net sink telah dilaksanakan di 12 provinsi dan akan dilanjutkan kembali pada 22 provinsi di tahun 2023. (RG-25/*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *