Evaluasi Diri

378
ADV
10
Prof. Fory A. Naway

Oleh: Prof. Fory Armin Naway
Guru Besar FIP UNG dan Ketua PGRI Kabupaten Gorontalo

AKHIR tahun merupakan momentum yang tepat untuk evaluasi, baik evaluasi diri yang bersifat personal atau individu maupun evaluasi secara kolektif atau secara kelembagaan.

Secara umum evaluasi adalah suatu proses menilai, mengukur, mengoreksi dan perbaikan pada suatu kegiatan yang diselenggarakan dengan membandingkan proses rencana dengan hasil yang dicapai.

Evaluasi juga dimaknai sebagai tindakan untuk menentukan “nilai” seberapa baik atau seberapa buruk suatu tindakan, kegiatan, keputusan atau hasil pekerjaan dengan melepaskan segala bentuk tendensi apapun.

Evaluasi membutuhkan kejujuran dan kemurnian hati untuk menentukan nilai agar evaluasi yang dilakukan menghasilkan standar penilaian yang benar-benar murni untuk selanjutnya menjadi rujukan penting dalam mengoreksi serta memperbaikinya.

Hal itu dimaksudkan untuk mengumpulkan data dan membandingkannya dengan standar tujuan yang ingin dicapai, sehingga bisa dijadikan sebagai dasar pengambilan keputusan atau tindakan ke arah yang lebih baik lagi.

Dalam konteks ini, evaluasi merupakan sebuah keniscayaan yang mesti dilakukan, baik secara personal dan kelembagaan. Akhir tahun dengan demikian, tidak sekadar dirayakan dengan berhura-hura, berpesta pora apalagi melakukan tindakan destruktif untuk memenuhi hasrat keduniawian yang gemerlap, tapi akhir tahun, justru menjadi momentum penting untuk mengevaluasi diri.

Evaluasi diri juga tidak hanya sekadar memberi nilai dan bobot terhadap suatu keputusan, pekerjaan dan kegiatan, tapi yang lebih terpenting lagi adalah melatih kejujuran, yakni jujur pada diri sendiri.

Ada ungkapan yang mengatakan bahwa orang yang gagal adalah mereka yang selalu “mencari alasan” atas kegagalan dan kesulitan yang dialaminya.

Orang yang gagal adalah mereka yang selalu menyalahkan sesuatu, menyalahkan orang lain dan mencari “kambing hitam” atas kesulitan dan kegagalannya.

Orang yang gagal, juga selalu menggerutu dan berleluh-kesah atas tantangan dan kesulitan yang dihadapinya. Sementara orang yang sukses adalah mereka yang berani jujur pada dirinya sendiri, tidak mencari alasan, tapi mencari solusi, bukan mengeluh tapi menghalau tantangan untuk menang dan tidak berkeluh-kesah melainkan terus menerobos mencari titik kelemahan menjadi titik keunggulan.

Anne Anastasi (1978), mengartikan evaluasi sebagao poses yang sistematis untuk menentukan sejauh mana tujuan instruksional dicapai oleh seseorang.

Evaluasi merupakan kegiatan untuk menilai sesuatu secara terencana, sistematik, dan terarah berdasarkan tujuan yang jelas. Meski pengertian tersebut ditujukan dan berlaku secara kelembagaan, namun dapat diaktualisasikan secara personal atau individu-individu dengan konsep melakukan telah tentang diri selama kurun waktu tertentu, baik sikap, tindakan dan keputusan yang diambil.

Dalam ranah implementatif, sebenarnya evaluasi secara personal, tidak hanya sekadar dilakukan dengan cara intropeksi dan merenung, tapi lebih dari itu patut mereview dan mencatat secara sistematis tentang berbagai hal secara jujur tentang performance diri selama ini untuk selanjutnya dikoreksi dan diperbaiki agar hidup menjadi lebih baik dari tahun kemarin.

Hakekat Evaluasi (diri) adalah perbaikan, progresifitas dan perubahan hidup. Oleh karena.itu evaluasi diri berbicara tentang karakter, etos kerja dan spiritualitas.

Itulah sebabnya, dalam ranah teoritis terdapat istilah, Kecerdasan Emosional (EQ) dan Kecerdasan Spiritual (ES) yang membimbing serta menuntun lahirnya semangat perbaikan diri untuk progresifitas hidup.

Artinya, evaluasi (diri), baik secara personal dan kelembagaan dapat dilakukan dengan mengkolaborasikan aspek EQ dan SQ sebagai landasan ideal, karena hal itu relevan dengan kudrat manusia sebahai hamba Allah dan makhluk sosial yang harus berinteraksi secara vertikal dan horisontal.

Dengan demikian, momentum akhir tahun yang masih berada dalam situasi ancaman Pandemi Covid-19 kali ini, dapat dimanfaatkan secara lebih cerdas, tidak harus mengekspresikan kegembiraan dengan berpesta pora dan kembang api, berfoya-foya semalam suntuk, berkerumun di tempat keramaian, melainkan, tahun baru disambut dengan tekad, komitmen dan harapan baru untuk mempebaharui dan memperbaiki performance diri untuk perubahan hidup yang lebih bermakna lagi.

Tantangan ke depan semakin kompleks, apalagi ancaman Pandemi Covid-19 yang entah kapan akan berakhir, semakin menjadikan situasi bangsa-bangsa di dunia kian tidak menentu.

Semua itu tidak mungkin direspon dengan konsep hidup yang biasa-biasa saja, melainkan dengan cara-cara yang luar biasa. Paling tidak, pada momen akhir tahun menyambut tahun baru 2022 lagi ini, disikapi dengan Arif penuh kebijaksanaan. Hal itu penting karena tantangan ke depan semakin berat.

Oleh karena itu, sikap dan tindakan yang “mubazir”, membeli kembang api dan petasan atau berpesta pora menghamburkan uang untuk kesenangan sesaat bukanlah pilihan yang tepat. Lebih baik uang dan momentum akhir tahun dimanfaatkan pada hal-hal yang lebih konstruktif.

Peran keluarga, terutama orang tua untuk mengarahkan dan membimbing anak-anaknya agar tidak menceburkan pada acara atau kegiatan yang tidak produktif sangat dibutuhkan perannya secara maksimal.

Apalagi, pemerintah pusat hingga pemerintah daerah telah mengeluarkan kebijakan bahwa tidak ada pesta, pagelaran dan kegiatan apapun menyambut tahun baru 2022. Sebagai warga yang baik, tentu maklumat pemerintah itu patut direspon dengan baik dan penuh kesadaran.

Paling tidak, momentum akhir tahun dan penyambutan tahun baru kali ini, dapat dijadikan sebagai wahana mengevaluasi diri, mengekspresikannya dengan kegiatan yang bermakna dan produktif. Bagaimanapun, tahun 2022 masih terbentang ketidakpastian yang tentu membutuhkan sikap mawas diri dari seluruh elemen masyarakat.

Dengan kata lain, apalah arti perayaan tahun baru, jika pada tahun baru yang akan dijalani itu, nasib hidup dan kehidupan kita berada dalam bayang-bayang kesulitan.

Oleh karena itu, doa dan munajat kepada Sang Maha Pencipta jauh lebih bermakna, ketimbang berpesta dan membuat suasana tahun baru penuh dengan kegaduhan yang tidak memiliki nilai yang berarti bagi hidup dan kehidupan ini.

Semoga tahun 2022 menjadi tonggak baru bagi kita memgukuhkan eksistensi kemanusiaan kita sebagai insan yang berakal yang mampu membedakan mana yang membawa maslahat dan mana yang tipu muslihat. Selamat menyambut tahun baru 2022. *

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *