PADANG (RAGORO) – Marten Taha selalu tampil tak terduga, ada saja kejutan-kejutan yang dibuatnya. Bayangkan seorang Marten berani ikut acara debus. Tidak hanya itu, kali ini barangkali untuk pertama kalinya Walikota Gorontalo itu bicara agak sombong. Betapa tidak, siapa yang menyangka kalau Walikota Gorontalo ini berani berjalan di atas beling dengan kaki telanjang.
Kontan saja aksi orang baik ini membuat heboh Walikota seluruh Indonesia yang kebetulan kumpul di Padang dalam rangka Rakernas Apeksi. Kata Walikota, di Gorontalo ada juga tarian di atas bara api, bahkan di Gorontalo ada yang menggoreng pisang dengan tangan telanjang. Sementara untuk menari di atas pecah beling seperti yang diperagakan para penari dari Aceh itu.
Menurut Wakil Ketua Bidang Pemerintahan dan Otonomi APEKSI itu, atraksi debus seperti itu pernah dia pelajari ketika mengikuti pendidikan di Lemhanas dulu. “saya diajarkan bagaimana menginjak pecahan-pecahan botol, gelas, piring dan berbagai benda tajam lainnya, makanya saya berani tampil menari di atas beling,” ujarnya.
Menurut Marten, adat budaya Gorontalo dan Padang sangat mirip, makanya berada di Padang terasa berada di Gorontalo. Soal atraksi menari di atas pecah beling itu, menurut Marten tidak bisa dilakukan sembarangan, karena harus didampingi orang khusus. “atraksi ini tidak untuk ditiru, karena menari di atas pecah botol ini hanya untuk orang-orang terlatih,” tuturnya.
REKOMENDASI APEKSI TUNDA PENGHAPUSAN HONORER
Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) yang berlangsung di Kota Padang, Senin hingga Selasa kemarin, merekomendasikan penundaan penghapusan tenaga honor. Walikota Marten Taha yang juga Wakil Ketua APEKSI Bidang Pemerintahan dan Otonomi menyampaikan hasil diskusi dan sharing di Rakernas APEKSI.
“pengangkatan P3K akan lebih menyulitkan APBD kita, maka kami melahirkan rekomendasi untuk minta supaya pemerintah pusat dalam hal ini Menpan RB untuk melakukan penundaan terhadap penghapusan tenaga-tenaga honorer,” ujar Marten. Dari sisi lain kata Marten, agenda APEKSI kali ini juga membahas tentang situasi dan kondisi global maupun regional dan nasional. Mengapa?
karena APEKSI sebagai organisasi dari para Walikota se-Indonesia punya tanggung jawab yang sama. “apa yang terjadi di dunia internasional, perlu kita sikapi dengan berbagai kegiatan dan program, situasi pandemi Covid-19 di berbagai negara, kemudian perang ukraina dan rusia, demikian pula dengan ketegangan antara Cina dan Taiwan, serta kondisi global lainnya, saya kira perlu kita sikapi bersama-sama,” ucapnya.
Maka dari kata Marten, semua pihak harus membuat suatu terobosan kebijakan agar kondisi rakyat kita tetap terjaga. “itu menjadi tanggung jawab kami sebagai kepala daerah yang berhadapan langsung dengan masyarakat, agar masyarakat tidak menjadisusah, dan tidak tertekan ekonominya dan situasi semakin terkendali,” tuturnya. (awal-46/lev)
(awal-46/lev)











