RGNEWS.COM – Demonstrasi di kompleks gedung MPR/DPR pada 25 Agustus 2025 lalu menyisakan cerita penuh tanda tanya atas kericuhan yang terjadi.
Dikutip dari tirto.id, ternyata, kaum pelajar ikut ambil bagian dalam demonstrasi itu.
Kerumunan pelajar berseragam putih abu-abu mendesak masuk dari arah Jalan Gerbang Pemuda. Suasana berubah riuh.
Ratusan anak muda itu berhasil menembus barikade polisi dan tumpah ke Jalan Gatot Subroto.
Namun euforia itu tak bertahan lama. Hanya dua menit setelahnya, suara teriakan bercampur bunyi benda berjatuhan terdengar dari depan Restoran Pulau Dua.
Botol mineral dan potongan kayu beterbangan, polisi tanpa seragam berlarian masuk, pagar restoran ditutup rapat.
Dari balik kerumunan, terdengar teriakan seorang massa aksi, “Woi, jangan anarkis!”—suara yang tenggelam dalam amarah.
Mereka lalu bergerak ke gerbang utama DPR. Anehnya, tidak ada orasi, tidak ada spanduk, bahkan poster tuntutan pun nihil.
Yang ada justru dua pria berpakaian sipil yang sibuk mengarahkan para pelajar.
Salah satunya berkaos merah, celana putih, topi bucket biru dongker.
“Nanti kita jalan ke sana, tapi jangan ada yang anarkis ya,” katanya.
Instruksi itu seolah menjadi aba-aba. Pada pukul 12.33 WIB, ratusan pelajar berjalan sambil menyanyikan lagu “Buruh Tani”.
Sesampainya di depan barikade, pria berkaos merah tiba-tiba memanjat mobil water cannon polisi. Hanya sekejap, suasana meledak.
Polisi diperintahkan maju, pagar besi ditendang, tameng digedor, dan air bertekanan tinggi menyapu kerumunan. Asap gas air mata menutup langit Senayan.
Hingga sore, bentrokan terus bergeser. Di Slipi, tepat di depan Halte Transjakarta Petamburan, ratusan pelajar kembali berhadapan dengan aparat.
Gas air mata masih terasa pedih, sementara batu dan botol masih beterbangan. Dari dua arah jalan, massa pelajar saling merapat.
Di tengah hiruk pikuk itu, ada satu remaja SMK asal Cengkareng yang akhirnya membuka suara.
Dengan masker menutup wajah, ia berkata lirih, “Gak mahasiswa doang, pelajar juga ikut, Bang… Kami muak sama DPR.” Tak ada elaborasi panjang, tak ada daftar tuntutan. Hanya sebuah kalimat pendek yang terasa mentah, tapi jujur.
Sementara jalanan bergejolak, dunia maya justru lebih ramai.
TikTok dipenuhi tagar #BubarkanDPR, sebagian konten menampilkan narasi bahwa Presiden Prabowo berdiri bersama rakyat untuk menghapus lembaga legislatif.
Di Facebook, ajakan lebih ekstrem: menyerukan hukuman mati bagi Jokowi dan keluarganya, hingga desakan pemilu ulang.
Analisis Drone Emprit membagi narasi ini ke dalam tiga klaster: seruan membubarkan DPR, desakan agar Prabowo yang melakukannya, dan seruan mengadili “Geng Solo”.
“Ada akun-akun terindikasi pendengung yang signifikan mengangkat isu ini,” jelas peneliti Nova Mujahid.
Cerita 25 Agustus akhirnya menyisakan dua wajah.
Di jalan, kerumunan pelajar yang tampak kehilangan arah tuntutan.
Di jagat maya, percakapan yang terpolarisasi antara keresahan asli publik dan agenda yang didorong pendengung.
Di tengah-tengahnya, Senayan menjadi panggung: riuh, penuh asap, tapi juga sarat tanda tanya. (*)











