Alumni Unisba Kecam Aksi Brutal Aparat dan Sikap Rektor Terkait Penyerangan Kampus

573
ADV
10

RGNEWS.COM – Alumni sekaligus mantan Presiden Mahasiswa Universitas Islam Bandung (Unisba), Hamzah Sidik, mengecam keras tindakan aparat kepolisian yang menembakkan gas air mata dan melakukan penyerangan ke dalam lingkungan Kampus Unisba Taman Sari.

Insiden itu terjadi saat mahasiswa bersama elemen masyarakat menggelar aksi unjuk rasa damai di sekitar kawasan Taman Sari, Senin (1/9/2025).

Dalam upaya membubarkan massa, aparat menembakkan gas air mata hingga masuk ke area kampus, bahkan sejumlah mahasiswa dilaporkan menjadi korban akibat tindakan represif tersebut.

“Begitu banyak saksi mata dan video yang memperlihatkan bagaimana penembakan gas air mata dan penyerangan dilakukan di lingkungan kampus,” tegas Hamzah, Selasa (2/9/2025).

Menurutnya, tindakan aparat tersebut jelas mencederai nilai demokrasi dan mengabaikan fungsi kampus sebagai ruang akademik yang seharusnya steril dari kekerasan aparat.

Hamzah tidak hanya mengecam aparat, tetapi juga menyoroti sikap Rektor Unisba yang dinilainya buta dan tuli terhadap kondisi di lapangan.

Ia menyesalkan pernyataan rektor yang mengikuti narasi polisi terkait adanya kelompok “anarko” yang disebut-sebut memprovokasi aparat.

“Narasi itu belum jelas validitasnya, tetapi sudah dipakai untuk menyudutkan mahasiswa,” ujarnya.

Hamzah menuntut agar Rektor Unisba segera meminta maaf kepada mahasiswa atas sikap yang dianggap tidak berpihak pada spirit gerakan mahasiswa.

Ia juga mendesak pihak kampus untuk mengambil langkah konkret dalam mengadvokasi mahasiswa Unisba yang saat ini masih berada di Polda Jawa Barat.

Sejumlah video dan kesaksian yang beredar di media sosial memperlihatkan kepulan gas air mata di halaman kampus, mahasiswa berlarian menyelamatkan diri, hingga adanya dugaan penangkapan di sekitar lokasi.

Situasi ini memicu kecaman dari berbagai pihak, termasuk alumni, organisasi mahasiswa, hingga pegiat hak asasi manusia.

Hamzah menegaskan, kejadian di Unisba harus menjadi pelajaran penting agar aparat lebih humanis dalam menangani aksi massa, sekaligus dorongan bagi pimpinan kampus untuk berdiri di barisan mahasiswa.

“Kampus seharusnya menjadi benteng terakhir demokrasi, bukan sekadar perpanjangan tangan narasi aparat,” pungkasnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *