MAGHFIRAH

624
ADV
10
Prof. Fory A. Naway

Oleh: Prof. Fory Armin Naway
Guru Besar UNG dan Ketua PGRI Kabupaten Gorontalo

Tidak terasa bulan suci Ramadhan 1443H sudah memasuki 10 hari kedua pada Rabu (13/4/2022). Itu artinya ummat Islam yang tetap istiqomah menjalankan kewajiban puasa tengah memasuki 10 hari kedua sebagai fase Maghfirah atau Maghfiroh.

Dalam perspektif Islam, 10 hari pertama puasa sebagai fase mendulang Rahmat, 10 hari kedua sebagai fase maghfirah dan 10 hari ketiga sebagai fase pembebasan dari api neraka.

Hal itu merujuk pada salah satu hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, Nabi SAW bersabda yang artinya ‘awal bulan Ramadan adalah Rahmat, pertengahannya maghfirah, dan akhirnya ‘Itqun Minan Nar atau pembebasan dari api neraka’.

Pada fase kedua yang dikenal dengan maghfirah ini, boleh disebut merupakan kabar gembira bagi ummat Islam. Hal itu terjadi karena Allah SWT membuka pintu ampunan yang selebar-lebarnya bagi setiap ummat yang memohon ampunan atas dosa yang telah diperbuat di masa lalu.

Istilah Maghfirah berasal dari kata gha-fa-ra, ya-gh-fi-ru, ma-gh-fi-ra-tan yang mengandung makna menutupi dan mengampuni atau memaafkan.

Itulah sebabnya di bulan Ramadhan ini, selain berpuasa dan melakukan amalan wajib dan Sunnah, umat Islam juga dianjurkan untuk senantiasa beristighfar memohon ampun kepada Allah atas dosa-dosa yang telah diperbuat.

Dengan begitu puasa Ramadhan adalah sebuah rentetan ibadah yang sejatinya tidak boleh terputus hingga sebulan penuh atau 29 hari yang diikuti oleh amalan-amalan yang juga tidak boleh terputus. Hal ini penting menjadi rujukan, karena dari fenomena yang menggejala selama ini, biasanya hanya 10 hari pertama puasa lancar, ibadah dan tarwih semangat, namun semakin kesini justru semangat iman mulai kendur.

Ummat Islam pada fase ini justru semakin mengejar “tuntutan” dari pada “tuntunan”. Tidak heran jika bulan puasa sudah mulai masuk pada angka “belas dan puluh”, jamaah tarwih di Mesjid juga tinggal hitungan belasan dan puluh juga. Mesjid mulai kosong dan justru pasar, mall dan pusat perbelanjaan lainnya makin ramai dengan pengunjung yang bahkan rela berdesak-desakan.

Itulah salah satu sisi dan pemandangan yang sebenarnya sangat memprihatinkan dan fenomena yang menunjukkan, bahwa kita terkadang salah kaprah dalam memaknai hakekat puasa yang sesungguhnya. Disebut demikian, karena dalam tataran realitas, terdapat konsep berpikir yang terbalik.

Puasa yang semestinya menjadi wahana mencapai kesucian hati dan batin, jalan untuk kembali ke fitrah sebagai manusia yang suci, justru dikorbankan dan diabaikan hanya demi mengejar kesucian kebendaan yang semu.

Lebih mementingkan kursi dan perabot rumah baru, gorden baru, rumah yang dicat warna baru, baju baru dan sebagainya.

Sungguh sangat ironis karena terkadang kita terjebak pada seremoni sehingga melupakan substansi.

Yang seakan terlupakan adalah pertanyaan sebagai berikut : Ketika puasa kita bolong-bolong alias tidak tuntas, perintah memperbanyak amalan kita abaikan, meninggalkan sholat dan itikaf, lantas apa yang mau dirayakan saat idul Fitri tiba?

Di mana letak “kefitrahan” kita sebagai manusia suci seperti bayi yang baru lahir karena terbebas dari dosa? Itulah sebuah pemandangan yang terbilang kontradiktif yang justru merebak di kalangan umat yang tersaji secara vulgar, kita terkadang melupakan hakekat dan esensi hanya karena gengsi.

Malu tidak punya baju baru, gengsi tidak bisa beli kursi baru, tapi lupa bagaimana menjadi manusia baru. Berpikir dan bekerja setengah mati sehingga abai mensucikan hati.

Berpikir dan terjebak pada duniawi sehingga lupa pada hakekat yang penuh maknawi.

Kembali pada istilah Maghfirah, jika ditelusuri ternyata kata ini juga lebih banyak disematkan menjadi nama bagi kaum perempuan.

Sangat jarang, bahkan tidak ada seorang laki-laki yang bernama maghfirah Jika maghfirah dimaknai atau mengandung arti sebagai mengampuni atau memaafkan, maka hal itu menunjukkan bahwa di bulan yang penuh maghfirah ini, siapapun dapat melembutkan hatinya sebagaimana hati seorang perempuan yang identik dengan kelembutan.

siapapun dapat melembutkan hatinya sehingga mudah memaafkan orang lain, sebagaimana Allah SWT Maha Pengampun.

Siapapun juga dapat melembutkan hatinya sehingga mudah menaruh empati dan simpati kepada mereka yang berkekurangan.

Demikian juga bagi kaum ibu atau emak-emak, jika suami pada idul Fitri ini kebetulan mengalami kesulitan ekonomi, maka membuka pintu maaf, memaklumi dan mensuport suami adalah langkah terbaik, tidak bersikeras harus beli perabot baru, baju baru apalagi gorden baru.

Hal itu bukan sebuah keharusan, yang menjadi kewajiban adalah menjaga kesucian hati. Yang terpenting lagi, pada fase Maghfirah ini, terutama bagi kaum perempuan sejatinya dapat lebih bijaksana lagi dalam memanfaatkan waktu, baik dalam menjalankan ritual ibadah, melayani keluarga, membimbing anak-anak dan tugas-tugas rumah tangga lainnya.

Bulan puasa seperti sekarang, sebenarnya bulan yang tepat bagi kaum perempuan untuk memetik dan mendulang pahala yang berlipat ganda. Tapi dibalik itu juga, jika salah kaprah dalam memaknai hidup yang sesungguhnya, maka kaum perempuan juga dapat menjadi sumber “malapetaka”.

Terkadang dari seorang istrilah suami terkadang harus banting tulang siang dan malam hingga lupa menjalankan ritual ibadah seperti tarwih berjamaah di Mesjid. Gara- gara istri ingin beli kursi baru saat lebaran misalnya, membuat seorang suami tertekan.

Dengan demikian, memasuki fase kedua di bulan suci Ramadhan kali ini, maka istilah Maghfirah tidak cukup hanya dimaknai sebagai momen untuk menggapai Ridha dan ampunan Allah SWT secara vertikal, tapi juga kata maghfirah dapat dimanifestasikan dalam dimensi horisontal, baik dengan keluarga, tetangga dan di tengah masyarakat.

Sepuluh hari kedua bulan Ramadhan adalah mengejar magfirah Allah SWT, bukan mengejar materi dan kebendaan jelang lebaran.

Hari raya Idul Fitri adalah merayakan kesucian jiwa dan hati bukan menuruti hawa nafsu dengan sesuka hati. Idul Fitri adalah merayakan kembalinya fitrah manusia sebagai insan yang suci, terbebas dari dosa seperti bayi yang baru lahir.

Itulah yang dituju sebagai hakekat dan esensi bukan mengejar gengsi. Kesucian jiwa dan hati di bulan Ramadhan hanya diraih melalui keteguhan hati menjadi insan yang bertakwa. Semoga (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *