Unigo Jadi Kampus Budaya

32
ADV
10

Rolli : Unigo akan Menjadi Pusat Pengembangan dan Pelestarian Budaya Gorontalo

KAMPUS (RGNEWS.COM) – Ketua Dewan Pengurus Yayasan Pendidikan Duluwo Limo Lo Pohala’a (YPDLP) Gorontalo, Dr. Rolli Paramata, SE., M.M., mencanangkan Universitas Gorontalo (Unigo) sebagai kampus budaya.

Gagasan itu disampaikan pada pembukaan rangkaian Milad ke-25 Unigo di Kampus Universitas Gorontalo, Jumat (10/7/2026).

Menurut Rolli, penguatan identitas budaya menjadi bagian dari arah pengembangan kampus pada usia seperempat abad.

Unigo tidak hanya berfokus mencetak lulusan yang memiliki kompetensi akademik, tetapi juga berperan menjaga dan mengembangkan warisan budaya Gorontalo.

“Kami sudah merencanakan bahwa Universitas Gorontalo menjadi tempat pengembangan sekaligus pelestarian budaya Gorontalo,” kata Rolli.

Untuk mewujudkan hal tersebut, YPDLP akan membentuk lembaga khusus di bawah yayasan yang bertugas mengembangkan serta memelihara kebudayaan Gorontalo.

Lembaga itu juga akan membangun etalase budaya yang memuat pakaian adat, tarian, alat musik tradisional, hingga berbagai artefak budaya daerah.

Sejumlah tokoh adat dan budayawan Gorontalo, seperti Suharlin Katili, Alwarits Ngole, dan Alim Niode, akan dilibatkan dalam penyusunan program tersebut.

Mereka nantinya berperan memperkuat konsep pelestarian budaya di lingkungan kampus.

Rolli menegaskan gagasan itu berangkat dari filosofi Yayasan Pendidikan Duluwo Limo Lo Pohala’a yang sejak awal dibangun untuk menjaga nilai-nilai dan jati diri masyarakat Gorontalo.

Karena itu, menurut dia, perguruan tinggi tidak boleh hanya mengejar capaian akademik, tetapi juga bertanggung jawab menjaga identitas budaya daerah.

Ia juga menegaskan YPDLP merupakan yayasan yang tidak dimiliki oleh perseorangan.

“Ini adalah milik masyarakat Gorontalo. Saya hanya dipercayakan untuk melaksanakan cita-cita para pendiri Yayasan Pendidikan Duluwo Limo Lo Pohala’a,” ujarnya.

Menurut Rolli, sejak berdiri, Unigo dibangun untuk membuka akses pendidikan tinggi yang terjangkau bagi masyarakat Gorontalo.

Komitmen itu tetap dipertahankan hingga kini, bersamaan dengan upaya memperkuat kualitas pendidikan dan tata kelola yayasan.

“Setinggi apa pun ilmu, adab tetap berada di atas segalanya. Karena itu kami ingin Universitas Gorontalo dikenal sebagai kampus budaya,” kata Rolli. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *