Headlines

Jangan Ajari Hamim Pou, Soal  Loyalitas dan Kesetiaan

1128
×

Jangan Ajari Hamim Pou, Soal  Loyalitas dan Kesetiaan

Sebarkan artikel ini

‘Jika kamu dicurangi, jangan dibalas secara curang. Sakit memang, pedih memang, tapi mungkin itu rahasia ilahi menandakan rejekimu memang berakhir. Karena setelah itu, sang maha kuasa akan membuka pintu rejeki yang lain, yang jauh lebih besar dan lebih tinggi,’ kata Hamim Pou

Editor   :  Sahril Rasid

KOTAMOBAGU (RG.COM)—Inilah ‘pangeran’ Partai Nasdem yang dikirim dari Gorontalo ke medan ‘pertempuran’ politik Sulawesi Utara, dia adalah  Hamim Pou

 Hamim memang berdarah Gorontalo, tapi jejaknya di tanah Mongondow dan tanah minahasa sejak kecil. Hamim dan  keluarga besarnya dari sang  ibu dari Molibagu Bolangg Mongondo Selatan.

 Tapi demi perintah partai ia harus patuh, rela  menanggalkan jabatan bupati, dan ketua partai Nasdem di Provinsi Gorontalo.

Banyak kalangan berpersepsi Hamim dibuang. Tapi tidak bagi Hamim Pou, ia selalu berfikir positif. Ini adalah tugas yang harus di jalani dan dilaksanakan.

Sebagai mantan jurnalis, penugasan itu sifatnya menjadi wajib, dan harus dilaknasakan sungguh -sungguh.

Menerima putusan partai ini bukan hanya butuh kesabaran dan keikhlasan luar biasa, tapi kebesaran jiwa dan mental baja.

Dan karakter seperti ini, bukan diperoleh satu dua tahun, tapi proses yang panjang sejak dirinya kecil.

Dari kecil sang anak yatim itu bergelut dengan kerasnya hidup, demi untuk bisa melanjutkan  jenjang Pendidikan.

Hamim Kecil, bersama komunitas Gorontalo di Kotamobagu, tepatnya di pasar Gogagoman menjadi pedagang serabutan, mulai dari jual ikan, rempah rempah hingga jualan es.

Tempaan hidup menjadikan Hamim Pou sadar, air mata bukan sandaran harapan. Kerasnya hati membawa ia ke ibu kota Sulawesi Utara, Manado.

Menjadi wartawan menjadikan Hamim tumbuh dan terbiasa dengan ide ide dan gagasan cerdas, membawa ia kursi pemimpin redaksi Manado Post, dan koresponden SCTV.

Saat itu, Hamim Pou Hidup mapan, terkenal, bujang dan berparas cover boy. Hamim malang melintang dikalangan politisi dan pengusaha Sulawesi Utara -Gorontalo dan Makassar

Tapi Ketika Gorontalo memanggil (pembentukan provinsi) Hamim ‘dipaksa’ pulang ke Gorontalo. Ide pertama pembentukan koran Harian Gorontalo (kini Gorontalo Post) datang dari Hamim dan kawan kawan wartawan di Manado Post,proposal ke meja redaksi Manado Post, sampai ke managemen jawa post.

Hasilnya, proposal ini disetujui, dan Hamim diberi tugas mencari investor, tidak terlalu Sulit bagi Hamim Po mencari orang Gorontalo yang mau berinvestasi bekerja sama dengan Jawa Post.

Dari sekian nama pengusaha di Jakarta, jodohnya ke salah satu putra daerah Gorontalo di Jakarta, dr Mohammad Nasser Jibran.

Tapi perintah managemen Jawa Post membebankan Hamim menjadi pemimpin redaksi pertama dan ia harus kembali ke Gorontalo, diawal tahun 2000.

Karirnya kinclong di Sulawesi Utara, Manado Post dan SCTV, dikenal dimana mana se Sulawesi Utara tiba tiba Hamim harus pulang ke Gorontalo, yang saat itu tidak semaju sekarang.

Lagi lagi loyalitas ditunjukan Hamim Pou. Ketika perintah itu turun dari Dahlan Iskan dan Imawan Mashuri. Hamim Pou harus dengan  ikhlas ke Gorontalo.

Karir di Gorontalopun tidak semudah dibayangkan orang Sekarang ini. Setelah secara halus dari kursi Pemred Harian Gorontalo.

Hamimpun mendirikan Go TV. Diera itu TV local masih terasa asing, inilah titik nadir karir seorang Hamim Pou.

Hingga akhirnya Hamim Pou melepas masa lajangnya dan mulai meniti karir sebagai politisi. Buah kesabaran, keikhlasan, dan doa yang tidak pernah berhenti. Pintu karir di politikpun mulai terbuka.

Ketika pilkada Bone Bolango 2010, Hamim terpilih sebagai wakil bupati berpasangan dengan almarhum Ir Abdul Haris Nadjamudin.

Ironinya pasangan ini tidak melalui jalur dukungan partai, tapi melalui jalur independent.dari setelah itu, takdir politik membawa Hamim Pou menjadi 3 periode sebagai Bupati di Bone Bolango.

 Yang menjabat hingga 2023 tapi tidak selesai, dan memilih mengundurkan diri karena perintah partai menjadi caleg DPRD Partai Nasdem di Sulawesi Utara.

Hamim Pou, sosok politik Amanah dan tanpa suara, sekalipun di zolimi. Ia hanya selalu berkeluh kesah kepada yang maha tertinggi Allah SWT.

Hamim bukan tipe politisi yang membalas kecurangan dengan kecurangan. Sebagai mantan jurnalis yang memang agamais, Hamim selalu low profil kepada semuanya termasuk lawan politik.

Hamim Pou sekali waktu berkata, sesuatu yang didapati secara curang, pasti akan berakhir dengan tidak baik.

” jika kamu dicurangi, jangan dibalas secara curang. Sakit memang, pedih memang, tapi mungkin itu rahasia ilahi menandakan rizkimu memang berakhir, Karena setelah itu, sang maha kuasa akan membuka pintu rezeki yang lain, yang jauh lebih besar dan lebih tinggi,’ kata Hamim Pou saat berbincang dengan wartawan Rakyat Gorontalo.Com beberapa waktu lalu.****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *