Universitas Gorontalo

274 Mahasiswa UG Mengabdi selama 40 Hari di 3 Kabupaten

258
×

274 Mahasiswa UG Mengabdi selama 40 Hari di 3 Kabupaten

Sebarkan artikel ini
Ratusan mahasiswa peserta KKP UG angkatan XXIV gelombang 1 tahun 2023 berpose dengan Rektor, Wakil-wakil rektor, Kepala LP3M dan para dosen pembimbing KKP saat acara pelepasan. (Foto : istimewa)

KAMPUS (RG.COM) – Universitas Gorontalo (UG) resmi melepas sebanyak 374 mahasiswa peserta Kuliah Kerja Pengabdian (KKP) angkatan XXIV gelombang 1 tahun 2023, Senin (31/7) kemarin.

Rektor UG, Dr. Sofyan Abdullah, SP, MP dalam sambutannya saat acara pelepasan berpesan, terkait dengan tema KKP pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal, mahasiswa diharapkan dapat memberi warna di desa masing-masing.

“Tentu mahasiswa harus mampu mengangkat setiap potensi yang ada di desa dengan harapan ekonomi desa dan masyarakat bisa berkembang,” tuturnya.

“Saya juga berpesan, selama pelaksanaan KKP, mereka (mahasiswa) menjaga nama baik almamater UG. Hindari hal-hal yang dapat merugikan dirinya sendiri, masyarakat, desa dan tentunya kampus,” sambung rektor.

Ketua Satpel KKP angkatan XXIV gelombang 1 tahun 2023, Suaib Napir mengungkapkan, KKP kali ini akan dilaksanakan selama 40 hari ke depan.

“Mereka akan mengabdi di 3 kabupaten di Provinsi Gorontalo. Masing-masing, Kabupaten Gorontalo di 7 kecamatan 19 desa, kemudian Kabupaten Gorontalo Utara di 3 kecamatan 5 desa dan Kabupaten Pohuwato di 1 kecamatan 2 desa,” ungkap Suaib.

Yang jelas lanjut kata Suaib, selama 40 hari di desa, mahasiswa akan memulai dengan survey, kemudian penyusunan dan pelaksanaan program, lalu evaluasi.

Sehingga, dapat ditarik satu program untuk diwujudkan terkait dengan pemberdayaan masyarakat, terutama mendorong potensi lokal.

“Intinya KKP ini menjadi bagian di dalam mengaktualisasi keilmuan untuk ditujukan langsung kepada masyarakat,” terangnya.

Sehingga yang paling diharapkan, sumber daya mahasiswa ini mampu mendorong pemahaman dasar pemberdayaan masyarakat, sekaligus kalau bisa membangun sebuah aksi nyata.

“Karena model-model pemberdayaan masyarakat pada level pedesaan itu dapat kemudian terwujud,” tandas Suaib. (RG-56)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *