Headlines

CATATAN GURU BESAR UNG : “LOG IN”, LOGIKA DAN LOGISTIK

215
×

CATATAN GURU BESAR UNG : “LOG IN”, LOGIKA DAN LOGISTIK

Sebarkan artikel ini

Oleh :
Fory Armin Naway
Guru Besar FIP Universitas Negeri Gorontalo dan Ketua PGRI Kabupaten Gorontalo.

Di era perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini, “Login”, Logika dan Logistik diibaratkan seperti 3 serangkai yang sulit dipisahkan. Bahkan menjadi sumber kekuatan yang sangat dahsyat bagi siapapun yang mampu mengasah dan memberdayakannya di jalan yang benar

Dalam pengertian yang umum, Log in atau disebut juga “logon” atau “sign in” merupakan istilah yang sangat akrab bagi pengguna komputer dan internet. Sebelum melakukan kegiatan “explore” lebih lanjut, user harus melalui tahapan ini sebagai pintu masuk. Login dengan begitu berfungsi untuk mengatur proses identifikasi, yang biasanya terdiri dari username atau akun pengguna dan password untuk mendapatkan hak akses.

Selanjutnya ” Logika” identik dengan pikiran yang lurus, jernih dan obyektif yang tidak terkontaminasi oleh emosi dan lain-lain. Aristoteles dalam teorinya yang banyak menjadi acuan para ilmuan, mengungkapkan, logika adalah ajaran mengenai berpikir secara ilmiah membahas wujud pikiran itu sendiri dan hukum yang mengendalikan pikiran.
Pikiran adalah sumber kekuatan, sumber kehidupan bahkan menjadi obyek pembeda dengan makhluk lainnya.

Berkat pikiran, derajat dan martabat manusia melompat jauh menempati puncak ketinggian yang terhormat. Melalui pikiran, “naluri hewani” yang juga melekat dalam “nafs” setiap orang akan meredup dan digantikan oleh naluri kemanusiaan.

Logika dalam eksistensinya tidak berdiri sendiri melainkan membutuhkan instrumen penunjang berupa pengetahuan. Logika tanpa pengetahuan dapat saja menyesatkan. Oleh karena itu agar logika dapat berfungsi dengan baik, maka “log on” ke dalam belantara pengetahuan adalah sebuah keniscayaan.

Sementara itu, logistik memegang 2 dimensi peran yang boleh disebut strategis. Untuk berhasil login dan memasuki dunia belantaranya pengetahuan yang logik membutuhkan logistik yang memadai. Logistik adalah sumber energi, sumber gizi dan sumber nilai dalam meraih derajat kesehatan yang baik. Sebagaimana ungkapan “mensana in corpore sano”, di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat.

Oleh karena itu dapat disebut, bahwa dalam hidup ini, siapapun kita, sebenarnya hanya membutuhkan 3 elemen ini, yakni login, logika dan logistik. Login tidak cukup dimaknai sebagai proses pintu masuk untuk bisa mengakses komputer, internet terutama email, tapi login yang sesungguhnya adalah proses “mendaftarkan diri” memasuki kehakekatan hidup yang sebenarnya.

Ketika diri telah melalui proses login, maka mutiara hidup akan terkuak, keberkahan akan menjelma dan Rahmat illahi akan terus melingkupi kehidupan. Dalam kondisi yang demikian, logistik akan mudah diraih. Tidak heran jika dalam perspektif agama terdapat ungkapan bijak, “jika hanya mengejar dunia (logistik), maka tidak akan mendapatkan akherat sebagai hakekat.

Namun jika mengejar dan menceburkan diri pada akherat (hakekat) maka pasti akan mendapatkan dunia (logistik).
Selain itu, ada juga nasehat bijak yang mengatakan, jika dunia ini dikejar, dia akan berlari jauh meninggalkan kita, tapi jika dunia ini kita belakangi, justru dia akan mengejar kita. Paling tidak dalam aspek ini, keseimbangan antara logika dan logistik mutlak menjadi alasan untuk “login” memasuki kehidupan yang hakiki.

Logika yang hebat, kreatif, inovatif dan kecerdasan yang dimiliki seseorang, tidak akan berarti apa-apa, bila tidak ditunjang oleh logistik yang cukup. Sebaliknya, meski logistiknya cukup, bahkan lebih, tapi logika kurang berfungsi atau lambat “loading”, kurang kreatif dan inovatif, maka logistik itu akan mubazir tidak memberi nilai yang berarti bagi kehidupan.

Sungguh “kesempatan hidup” yang dimiliki oleh setiap individu, ibarat labtop atau layar komputer yang tengah menyala. Siapapun bisa “login” menggunakan logika, memantapkan dan mengasah logika dengan asupan pengetahuan dan nilai yang bisa saja darinya menjadi wahana meraih keberkahan logistik yang melimpah.

Proses login tidak saja dimaknai sebagai pintu masuk, tapi juga bagian dari komitmen, tekad dan juga ikhtiar yang dominan dilakoni oleh hati. Sementara logika adalah bagian dari akal sehat yang menjadi “penuntut” hati dan logistik adalah sumber energi.

3 elemen ini saling membutuhkan, saling menunjang dalam kolaborasi yang harmoni.Jika hati yang luas itu menjelma menjadi pemimpin hingga membuat logika tidak berfungsi, logistik sudah menjadi tujuan utama, maka seketika itu juga akan terjadi kontraksi akut yang menjadikan hidup seseorang keluar dari hakekat yang sesungguhnya.

Dalam kehidupan ini sangat nampak, bahwa login, logika dan logistik adalah satu kesatuan yang diibaratkan seperti ekosistem yang tidak boleh tercemar oleh paparan radiasi yang kontra “qona’ah”, karena hidup semata-mata tidak sebatas “dunia” ini semata, melainkan hanya sebagai jalan menuju alam illahiyah yang kekal.

Login dan logika adalah perisai, logistik adalah wahana agar proses login dan alam logika berada pada tataran ideal, lurus dan benar. Sebagaimana biasanya, ketika proses login, sistem membutuhkan atau meminta kata sandi atau pasword, maka dalam proses login di dunia nyata, paswordnya adalah ” mengingat” hakekat hidup. Sementara logika membutuhkan “nutrisi” iman agar tetap sehat guna meraih sumber logistik yang penuh berkah. Semoga.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *