Universitas Gorontalo

Pembukaan Milad UG ke 41 . Prioritas Utama Yayasan adalah Hak Dosen dan Karyawan

151
×

Pembukaan Milad UG ke 41 . Prioritas Utama Yayasan adalah Hak Dosen dan Karyawan

Sebarkan artikel ini

KAMPUS (RG) – Yayasan Pendidikan Duluwo Limo lo Pohala’a (DLP) Gorontalo, Senin kemarin (17/10) menggelar pembukaan miladnya yang ke 41 di Universitas Gorontalo Convention Center (UGCC).

Kegiatan ini turut dihadiri oleh Rektor Universitas Gorontalo (UG) pertama, Prof. Dr. Jasin Tuloli, M.Pd, Kepala Bagian (Kabag) Kemahasiswaan dan Koordinator Perguruan Tinggi Swasta (PTS) Wilayah Gorontalo, Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah XVI, Gorontalo Sulawesi Utara dan Tengah (Gosulutteng), Hariyanto T. Huntua, S.Sos, SE.,MM, dan Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) Gorontalo, Dr. Ir. Azis Rachman, ST, MM, IPM.

Mengawali sambutannya, Ketua yayasan Pendidikan DLP Gorontalo,Moh Rolly Paramata SE sedikit menguraikan tentang awal berdirinya yayasan. Yayasan Pendidikan DLP, katanya, berdiri sejak tahun 1981 dibawah pimpinan tokoh masyarakat Gorontalo yang pada saat itu menjabat sebagai Bupati Kabupaten Gorontalo, Alm. Kolonel Hj. Marten Liputo, beserta para tokoh pendidik. “Salah satu tokoh pendidik itu masih hadir bersama kita, yakni Drs. Habu Wahidji,” Rolly Paramata.

Drs. Habu Wahidji, adalah Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) terakhir sebelum beralih status menjadi Universitas Gorontalo. “Beliaulah yang menunjuk saya secara langsung menjadi Dekan Fakultas Ekonomi di UG pertama kali berdiri. Dan itu juga atas restu dari Rektor pertama Prof. Dr. Jasin Tuloli, M.Pd,” terangnya.

Adapun progres Yayasan Pendidikan DLP Gorontalo sejak tahun 2020 hingga saat ini ialah kemampuan likuiditasnya yang tiap tahun terus meningkat. “Progres ini bisa kita rasakan sampai hari ini sebagaimana yang telah disampaikan oleh Rektor UG tentang gaji. Itu tidak berlebihan, karena gaji adalah hak daripada dosen dan karyawan untuk setiap tanggal 1 harus diterima. Kami berusaha menempatkan hak itu sebagai prioritas utama,” tukasnya.

Jadi, harga mati bagi Yayasan Pendidikan DLP adalah memenuhi kewajiban untuk hak dosen dan karyawan secara maksimal dan tepat waktu. “Artinya, yayasan ini adalah milik kita semua. Yayasan ini kita besarkan secara bersama-sama. Hanya saja hak dan kewajiban serta tupoksi yang melekat pada diri yang membedakan. Sasarannya cuma satu, bagaimana membawa yayasan dan universitas sebagai organisasi dibawahnya menjadi sejahtera dan bisa mensejahterakan masyarakat,” pungkasnya. (rg-63)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *