Headlines

Guru Besar UNG dan Ketua PGRI Kabupaten Gorontalo

177
×

Guru Besar UNG dan Ketua PGRI Kabupaten Gorontalo

Sebarkan artikel ini
Prof. Fory A. Naway

PERKEMBANGAN ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini, dapat  dipandang dan dimaknai sebagai salah satu bentuk pencapaian ummat manusia sebagai makhluk yang berpikir dan berbudaya.  Dari berbagai perkembangan, dinamika dan dampak yang ditimbulkan oleh kemajuan teknologi secara massif tersebut, maka dapat disebut, masa kini sebagai era modernisasi.

Hal itu merujuk pada pengertian dan definisi modernisasi yang diungkap oleh banyak para ahli, yakni sebuah kondisi atau proses terjadinya perubahan dari sesuatu yang belum maju berubah ke arah yang lebih maju.

Dengan kata lain, modernisasi merupakan sebuah proses transformasi nilai dari yang tradisional yang lebih mengandalkan pada kekuatan otot berubah ke dalam ranah kekuatan berpikir yang mengandalkan rasionalitas.

Dalam tataran prakteknya dapat diambil contoh, jika dulu untuk berkomunikasi dengan sanak famili di luar daerah misalnya, seseorang harus mengambil polpen, kertas dan menulis, setelah itu ia  harus pergi ke kota menuju kantor pos untuk mengirimkan suratnya ke alamat yang dituju dengan konsekwensi-konsekwensi biaya yang harus dikeluarkan. Itu adalah kenangan masa lalu Indonesia.

saat ini hanya dengan hp android yang ada dalam genggaman, seseorang dapat dengan mudah berkomunikasi dengan siapapun hingga di belahan dunia manapun dengan media pilihan yang sangat beragam. Untuk mengoperasikan android di tangan pun, tidak harus belajar internet atau kursus komputer, melainkan hanya dengan mengandalkan kekuatan rasio, seorang yang awam sekalipun sudah dapat berinternet ria.

Bahkan anak-anak  balita yang belum bisa membaca sekalipun,  sudah bisa mengutak-atik android di tangannya untuk mengakses beragam konten yang dikehendakinya, lagi-lagi dengan kekuatan nalar yang dimilikinya. Modernisasi berasal dari bahasa latin, yaitu “modernus”.

Istilah ini  berasal dari kata “modo” yang berarti “cara” serta ‘ermus’ yang berarti suatu  periode waktu kekinian. Dari tinjauan asal muasal kata modernitas tersebut, maka modernisasi dapat dimaknai sebagai upaya dan cara manusia untuk menggapai “efisiensi waktu, tenaga dan biaya.

Oleh karena itu,  terdapat asumsi yang mengatakan, bahwa  modernisasi merupakan sebuah tradisi baru yang mengikis atau meniadakan tradisi lama yang sering lamban dan membutuhkan energi.

Modernisasi dalam konteks ini dimaknai sebagai sebuah lompatan kemajuan berkat kekuatan berpikir manusia yang senantiasa memiliki naluri untuk bersiasat.

Sebagai contoh sederhana,  jika dulu untuk mencuci baju, seorang ibu harus ke sungai atau sumur untuk membilas baju kotor berjam-jam lamanya, maka saat ini dengan mesin cuci yang beragam type dan modelnya,  semua pekerjaan itu sudah mulai ditinggalkan.

Modernisasi dengan begitu dapat dipahami sebagai suatu  kondisi yang bersifat kekinian dan menunjukkan suatu fenomena yang menjadi trend atau modernisme yang berlaku dalam jangka waktu tertentu (modernitas). Modernitas tidaklah statis, melainkan terus bergerak, progresif dan dinamis.

Hal itu kembali lagi pada faktor “Human Development” sebagai manusia dan insan yang berpikir. Namun dalam ranah yang lebih luas dan mendalam, modernitas dalam perspektif sosial kemasyarakatan, tidak hanya membawa maslahat, tapi juga ada resistensi-resistensi yang mengikutinya.

Dalam konteks ini, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang merambah masyarakat saat ini dan ke depan, merupakan buah dari olah pikir, olah kerja bahkan menjadi sebuah industri yang melahirkan elemen manusia sebagai subyek dan obyek.

Artinya, dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini dan ke depan, apakah generasi Indonesia dapat menjadi pelopor, pelaku atau hanya sekadar menjadi penikmat atau pengguna.

Inilah pertanyaan yang harus dijawab oleh siapapun kita, karena sangat terkait erat dengan eksistensi harga diri kemanusiaan orang Indonesia.

Yang menjadi kekhawatiran adalah, jangan sampai negara yang luas dengan jumlah penduduk 260 juta jiwa ini hanya sebagai “obyek pasar” bukan sebagai “pelaku pasar” yang pada akhirnya menyeret bangsa ini menjadi hedonis dan konsumtif. Bagaimanapun, modernitas sangat identik dengan kualitas.

Oleh karena itu pendidikan sebagaj sektor yang bertanggung jawab terhadap pengembangan “Human Resourch Development” sejatinya memiliki formulasi jitu dalam kerangka menjawab tantagan zaman, bagaimana generasi muda Indonesia memiliki “daya saing”, unggul dan produktif.

Selain itu, di era modernisasi saat ini, generasi muda saat ini dan ke depan memiliki resistensi yang cukup riskan. Fenomena yang paling dirasakan menggejala adalah lahirnya “generasi Mudung, “kaum rebahan” yang cenderung terjebak pada konten-konten yang tidak produktif, bahkan ada yang menyesatkan.

Perputaran waktu yang terus bergulir tanpa kompromi, seakan tidak disadari tengah menggerogoti kesehatan dan umur ke dalam kesia-siaan.

Bahkan terdapat fenomena yang sebenarnya cukup merisaukan, banyak kalangan anak muda yang tidak lagi mengenal waktu, begadang semalam suntuk dengan layar hp di tangan,  malam jadi siang, siang jadi malam.

Ia menjadi tidak produktif dan rentan dengan penyakit atau gangguan kesehatan.  Lantas apa yang bisa diharapkan, jika mayoritas generasi muda yang notabene harapan bangsa terjebak ke dalam fenomena seperti itu.

Sementara di belahan dunia lain, generasi mudanya terus bergerak, berjuang dan berlomba menggapai kemajuan demi eksistensi harga diri kemanusiaan mereka sebagai sebuah bangsa yang beradab dan bermartabat.

Itulah sebabnya, peran keluarga, orang tua, elemen pemerintah, guru, tokoh masyarakat dan elemen lainnya, sangat penting dalam menjawab tantangan ini secara kolektif, terencana, terstruktur dan tersistematis. Modernitas, bukan hanya berbicara tentang kemudahan fasilitas, integritas dan isi tas, tapi yang terpenting adalah kualitas.

Kualitas hidup, kualitas berpikir, kualitas diri, kualitas spiritual merupakan komponen penting di era modernisasi saat ini.

Siapapun yang tidak mempersiapkan diri, terjebak pada ritme negatif sebuah modernitas, kelak dapat dipastikan  akan tergilas oleh waktu dan zaman yang pada akhirnya hidup menjadi tidak bermakna.

Di sisi yang lain, pada era modern saat ini, individulisme, gaya hidup hedonisme dan konsumerisme semakin merebak. Hal itu paling tidak, dapat menjadi rujukan bagi siapapun untuk  bangkit, minimal memiliki predikat “Berdikari” berdiri hidup di atas kaki sendiri. Semoga. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *