by

FGD: Sektor Lingkungan dan Kehutanan, Ketika Penganggaran Sektor Lingkungan Hidup Belum Prioritas

Ketua Dewan Pembina Presnas Center, Prof Nelson Pomalingo berharap gagasan dan ide-ide dari berbagai komponen masyarakat Gorontalo akan menjadi ‘warisan’ bagi generasi mendatang. “generasi yang hebat, bukanlah berpikir untuk hari ini, tapi berfikir untuk jangka panjang,” ujar Nelson Pomalingo saat membuka Fokus Group Discussion, Rabu (13/10) kemarin di kediaman pribadinya, Desa Tinelo, Kecamatan Telaga Biru, Kabupaten Gorontalo.

Laporan: Sahril Rasid, S.Sos

INI untuk kali keempat FGD dilakukan oleh Presnas Center, dengan tema Sektor Lingkungan dan Kehutanan ‘menuju visi misi emas Gorontalo tahun 2045’.

Setiap pekan diadakan FGD sebagai bentuk perumusan ide dan pemikiran yang dibahas di Silatnas III dengan melibatkan stakeholder, dari berbagai bidang keilmuan.

Diharapkan dengan adanya FGD akan ada kesimpulan, apa yang dibutuhkan dan dilakukan dalam berbagai bidang. Sehingga pembangunan yang berkelanjutan menjadi prioritas ke depan.

“saya sebagai bupati Kabupaten Gorontalo akan berakhir, demikian pula gubernur, walikota dan lainnya, mungkin 10-20 tahun ke depan, ceritanya akan lain,” ujar Nelson Pomalingo.

Sehingga itu, hari ini kami berharap ada warisan pemikiran berupa ide-ide dan gagasan (roadmap) pembangunan, sehingga apa yang kita kita lakukan sekarang, akan dilanjutkan dan ditingkatkan, sehingga pembanguna Gorontalo terarah, focus dan puncaknya Gorontalo Emas 2045.

Presnas Center sebagai organisasi perjuangan pembentukan Provinsi, hari ini dijadikan sebagai organisasi yang mengisi dan membangun Provinsi Gorontalo.

“ini merupakan ‘proyek sejarah’ yang akan dibaca dan diambil ilmunya oleh generasi penurus, dan siapapun gubernur, bupati, dan walikota nanti, maka mereka punya gambaran untuk membangun Provinsi Gorontalo,” kata Nelson Pomalingo, sembari menambahkan, insyaAllah Bulan Januari bertepatan dengan hari patriotik, buku Gorontalo emas 2045 akan diserahkan kepada Pemda Provinsi, Kabupaten dan Kota.

Usai pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi yang menghadirkan pemateri Nasrudiin dari DLHK Provinsi Gorontalo, Kepala BPDASHL Bone Bolango Heru Permana, BPKH XV Gorontalo, dan Wahyu Guru Imantoko BMKG Gorontalo yang mengulas tentang lingkungan.

Nasrudin dari DLHK Provinsi Gorontalo memaparkan, bagaimana tantangan pembangunan lingkungan hidup dan kehutanan menuju visi emas Gorontatalo 2045.

“tantangan sekarang ini adalah belum berkembangkanya industri yang ramah lingkungan, eksploitasi sumber daya alam dan pemanfaatan yang semakin tidak terkontrol,” kata Nasrudin.

Pencemaran dan kerusakan lingkungan belum diseriusi dan tidak menjadi skala prioritas. Terbukti dengan lemahnya penegakkan hukum dibidang lingkungan hidup.

Disisi lain, bukti lainnya adalah segi penggaran persoalan lingkungan hidup belum menjadi priortas oleh Pemerintah Daerah.

Hal senada ditegaskan Kepala BPDASHL Bone Bolango, Heru Permana bahwa pengelolaan DAS melalui rehabilitasi hutan dan lahan di Gorontalo harus jadi perhatian serius.

Mengingat pengelolaan DAS jadi strategis untuk pengelolaan air dan keberlanjutan lingkungan hidup. Sehingga itu, regulasi pengeloaan DAS harus berpihak pada lingkungan, bukan pada kepentingan industri, pemukiman, dan produk kehutanan.

“dampaknya bisa dilihat sekarang, lahan kritis, perambahan hutan, lahan pertanian, bisa menjadi penyebab musibah, banjir, longsor dan sebagainya,” ujar Heru Permana.

Demikian pula yang disampaikan M. Riyad dari BPKH XV Gorontalo bahwa makin hari luas hutan Provinsi Gorontalo makin berkurang, seiring peralihan menjadi non hutan, baik pemukiman, lahan pertanian atau untuk kepentingan industri.

“data tahun 1990-2020, hutan menjadi non bervegetasi hutan sebesar 361.59 hektar per tahun, sedangkan hutan menjadi non hutan bervegetasi 5.484,01 hektar per tahun,” ungkapnya.

Demikian pula perubahan luas lahan pertanian dan pemukiman Provinsi Gorontalo di tahun 1990 untuk kriteria pertanian lahan kering dari 214.653.68 hektar, di tahun 2020 meningkat menjadi 337,882.48 hektar.

Sawah tahun 1990 luas 37.146.68 hektar, tahun 2020 menjadi 37.620.61 hektar, sedangkan pemukiman tahun 1990, 4.958.44 hektar, di tahun 2020 menjadi 16.262.31 hektar.

(sumber pemateri dari penafsiran citra satelit landsat). Sementara itu, Wahyu Guru Mantoko, S.kom dari stasiun meteorology kelas 1 Djalaluddin Gorontalo mengisyaratkan bencana perubahan iklim.

Diakuinya, aktivitas manusia menjadi salah satu penyebab perubahan iklim bumi dan saat ini mendorong pemanasan global yang mengakibatkan polusi udara meningkat, gagal panen, air bersih berkurang, kesehatan masyarakat lebih sering terganggu, bencana banjir meningkat akibat curah hujan di atas normal, longsor, kekeringan panjang, dan peningkatan munculnya siklon tropis.

FGD kali ini ditutup dengan dibentuknya tim kerja yang nantiny akan merumuskan dan menyimpulkan ide-ide dan gagasan, untuk kemudian dibukukan. ###

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *