oleh

Dari Pelabuhan Tilamuta Sampai Etika Birokrasi, Pak Gub Kapan Mati

GORONTALO (RAGORO) – Pelabuhan Tilamuta dinilai bisa mendongkrak perekonomian di kawasan Barat Gorontalo dan pelabuhan ini sangat dibutuhkan untuk kegiatan antar pulau hasil bumi.

Kata Gubernur, Pohuwato dan Boalemo merupakan wilayah penghasil produksi hasil bumi terbesar di Gorontalo, makanya sangat tepat kalau pelabuhan Tilamuta ini dijadikan pelabuhan Nusantara.

Rupanya acara pengiriman jagung yang menghadirkan Menko Ekonomi di pelabuhan Tilamuta serta panen raya punya tujuan tersendiri.

Moment itu dimanfaatkan Gubernur untuk menunjukan pada Menteri yang juga Ketum Golkar, soal posisi pelabuhan Tilamuta bila nanti jadi Pelabuhan Nusantara.

Pelabuhan Tilamuta ini bukan hanya untuk kepentingan Gorontalo, melainkan juga untuk kepentingan sebagian wilayah yang ada di Sulteng, seperti Parigi Moutong.

Pada acara diskusi lepas yang dilaksanakan di rumah Ishak Liputo Sabtu kemarin, Gubernur sangat optimis Pelabuhan Tilamuta akan jadi Pelabuhan Nusantara.

Sementara untuk GORR, Gubernur memastikan akan tembus ke Isimu dalam bulan ini. “minggu ini sudah akan tembus sampai Isimu dan untuk sampai tembus ke Atinggola masih dibutuhkan angaran sebesar Rp280 Miliar lagi,” papar RH menanggapi desakan salah satu peserta diskusi, Mansir Mudeng yang meminta agar GORR harus dilanjutkan.

Sementara Ludin Olii, mantan pejabat di Pemprov Gorontalo mengingatkan soal etika birokrasi. Bayangkan ada Menteri yang datang ke Gorontalo tetapi tak melapor ke Pemprov, demikian pula dengan program dari pusat yang tidak dilaporkan ke Pemprov maupun ke Pemkab.

Program-program itu dibiayai oleh pemerintah pusat, karena itu Pemda wajib tahu proyek apa saja itu. “etika Birokrasi ini tak boleh terjadi lagi,” kata Ludin.

Sementara itu di depan para LSM, Mahasiswa dan para tokoh masyarakat, RH tampil sangat tenang dan nyaman. Mestinya acara itu bisa menjadi ajang untuk mengadili Rusli Habibie, namun para tokoh yang hadir tak segarang di dunia maya, boleh jadi acara yang akan digelar secara rutin itu bertujuan untuk Gorontalo bersatu.

RH sendiri menjelaskan apa saja yang sudah dikerjakannya selama ini antara lain soal listrik yang menurutnya sudah surplus.

Tapi sekali padam karena kabel putus tertimpa pohon tumbang, langsung Gubernur yang terima sumpah serapah. Mereka bilang, katanya tak padam-padam lagi, tetapi ketika dijelaskan, bahwa itu bukan pemadaman bergilir, melainkan ada faktor teknis yang mengakibatkan listrik yang tiba-tiba mati.

“kong kapan Gubernur mati, begitu,” kata RH mengutip pesan singkat lewat WA yang dikirim kepadanya. Dengan tertawa kecil, Gubernur mengatakan nasib pemimpin memang sudah seperti itu kalau ada yang berhasil, bagi rakyat itu memang sudah tugas dan kewajiban Gubernur, tetapi kalau ada yang kurang berhasil pasti sumpah serapa yang muncul. (rg)

Don't Miss

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.