oleh

Workshop Kurikulum MBKM Keperawatan UMGO Tahun 2021

KAMPUS (RAGORO) – Jurusan Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Gorontalo (UMGO) terus meningkatkan kualitas dan pembaharuan kurikulum pendidikannya.

Dan kali ini Keperawatan UMGO menginisiasi hal tersebut melalui Workshop Penyusunan Kurikulum Institusi Tahun 2021.

Kegiatan ini dilaksanakan di Gedung Indoor David Bobihue Akieb selama dua (2) hari, yakni 16-17 September.

Sesuai pantauan awak media, hadir dalam kegiatan tesebut diantaranya Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan, Kepala LP3M, Dekan FIKES, Kajur Keperawatan, Kaprodi, Ketua PPNI Provinsi Gorontalo, Semua Rumah Sakit Mitra dan Puskesmas Tempat Praktek Mahasiswa Keperawatan.

Mengawali sambutan, Dekan FIKES, Ns. Abd. Wahab Pakaya S.Kep.,M.Kep.,MM., mengucapkan terima kasih atas kehadiran para undangan dalam workshop kurikulum ini.

“Kami sangat berharap akan ada banyak masukan yang diberikan terkait penyusunan kurikulum keperawatan,” ungkap Wahab.

Guna meningkatkan kualitas pendidikan dan kelulusan perawat Program Studi (Prodi) S1 Keperawatan dan Pendidikan Profesi Ners, lanjut Wahab, UMGO terus melakukan perbaharuan kurikulum. Salah satunya melalui workshop-workshop dan kegiatan lain sejenisnya.

Sementara itu, Wakil Rektor III, Dr. Apris Ara Tilome mengungkapkan, bahwa Workshop Kurikulum Keperawatan UMGO sudah menjadi agenda rutin kampus.

Kegiatan ini dilaksanakan selama lima (5) tahun sekali dan tahun ini adalah tahun kedua pelaksanaanya.

“Kami UMGO selalu mengupdate kurikulum-kurikulum atau mata kuliah pembelajaran yang disesuaikan dengan bidang yang ada,” terang Apris.

Mewakili Rektor, Apris juga mengatakan sangat beterimakasih atas terlaksananya kegiatan tersebut, karena saat ini seluruh kampus di Indonesia akan menerapkan kurikulum Merdeka Belajar-Kampus Merdeka (MBKM) yang merupakan program pemerintah pusat melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi.

“Kita harus menyesuaikan penyusunan kurikulum MBKM dengan kondisi SDM yang dibutuhkan saat ini,” paparnya.

Terakhir, Ketua Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Provinsi Gorontalo, Ns. Rhein Djunaid, M.Kep meminta kepada para penyelenggara pendidikan, agar kurikulum kedepan harus memperhatikan lapangan kerja, bukan cuman di rumah sakit Indonesia, tapi rumah sakit di seluruh Dunia.

“Kemarin ada tawaran dari Arab Saudi dan Timur Tengah untuk tenaga keperawatan. Sayangnya karena mahasiswa kami tidak mampu berbahasa asing terutama bahasa Inggris, maka banyak yang tidak memenuhi syarat.

Olehnya, kurikulum keperawatan kedepan harus memasukkan bahasa untuk penyempurnaan,” pungkasnya. (rg-63/HMS)

Don't Miss

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.